Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Filosofi Santri

Hakam Alghivari • Minggu, 22 Oktober 2023 | 18:05 WIB
SE Bupati Turun, Ponpes Terima Santri Lagi
SE Bupati Turun, Ponpes Terima Santri Lagi

Penulis: Hanafi

Staf Ahli Bupati, Mustasyar PC Nahdlatul Ulama Bojonegoro, Ketua ICMI, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI).

 

Sore itu, ketika cahaya mulai memudar, anak-anak muda bersarung dan berkopiah tampak hilir mudik di Jalan Kiai Rosyid Bojonegoro. Berjalan santun di jalan membawa kitab dengan sapa dan senyum.

Potret inilah menjadi pemandangan setiap pagi dan sore ketika melintas di Kampung Ponpes di Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, Bojonegoro. Kawasan tak jauh dari kawasan kota ini menjadi episentrum pendidikan keagamaan. Ada 16 ponpes di kawasan tersebut.

Potret sama ketika melintas di Desa Talun, Kecamatan Sumberejo. Kawasan di timur Kecamatan Kota Bojonegoro ini juga menjadi jejak para santri belajar keagamaan dan teknologi.

Lantas ada berapa santri di Bojonegoro? Persentasenya berpotensi cukup banyak mengingat hampir setiap tahun, ponpes meluluskan ribuan santri.

Setidaknya, ada 283 jumlah pesantren se Bojonegoro. Tersebar di semua kecamatan. Jumlah 283 pesantren ini tentu melebihi 50 persen dari total jumlah desa di Bojonegoro, sebanyak 419 desa. Artinya, dari 1,5 desa ada ponpes berdiri.

Layak disebut kota santri kah? Ini perlu kajian mendalam. Perlu kemauan dari pemerintah, kiai, tokoh agama untuk merumuskan. Namun, semangat santri bukan sekadar identitas.  Tetapi, jati diri santri harus merasuk dan mewangi di Masyarakat.

Melihat adanya 283 pesantren di Bojonegoro, tentu santri memiliki kekuatan besar. Memiliki peran besar dalam napak tilas Bojonegoro hingga memasuki abad milenial ini. Ada jejak santri terlewat, mengingat terdapat ponpes berdiri sebelum kemerdekaan. Ada sederet kisah heroisme para kiai dan santri berjuang melawan Belanda saat merebut kemerdekaan.  

Di Kecamatan Padangan dan Cepu, bagaimana kiai dan santri berjibaku melawan senapan Belanda. Bahkan, melalui Stasiun Cepu, ada 70 santri yang dikirim ke Surabaya, saat terjadi pergolakan dengan Belanda. Kiai Cholil Desa Pasinan, Kecamatan Baureno, menjadi perburuan Belanda karena meneguhkan agama dan memupuk embrio-embrio santri. Kiai Abu Dzarrin “sang guru” yang melahirkan ribuan santri juga penuh dengan kisah saat Belanda mengincarnya. KH Sholeh meneguhkan santri-santri kala penjajah mencengkeram kawasan Talun.

Santri kini tak lagi dengan identik bersarung. Santri kini menjelma menjadi anak-anak kreatif sarat karya-karya mengagumkan. Beragam buku budaya dan cerpen terbit dari jari-jemari para santri. Banyak aplikasi dari tangan-tangan kreatif para santri.

Santri kini dicari. Beragam perusahaan (corporate) atau instansi pemerintahan memilih santri hafal Alquran menjadi prioritas. Sekolah memberi kuota pendaftar hafiz Alquran. Santri kini mewarnai sektor-sektor pendidikan di sekolah. Banyak berdiri sekolah terpadu dengan guru para santri.  

Santri kini juga merambah politik. Estafet santri bergerak hingga banyak legislator muncul dari para santri. Santri berpolitik dan menembus gedung parlemen mulai tumbuh. Tidak heran, Hari Santri hingga regulasi tentang pondok pesantren (ponpes) terbit dari jejak para santri. Eksistensi santri seharusnya regulasi-regulasi yang terbit tentu bermuara kemaslahatan umat.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membuktikan implementasi bahwa santri bisa menduduki Presiden Repubik Indonesia. Makruf Amin menandaskan replementasi santri sebagai wakil presiden (Wapres). Estafet santri bergerak, banyak santri menduduki gubernur, walikota, bupati, hingga kepala desa.

Relasi agama dan politik seakan sudah menjadi kewajaran. Santri berpolitik bukan sekadar mengurusi pelayanan umat, tapi lebih mengajak hidup lebih baik. Mengajak tatanan sosial politik lebih mementingkan kemaslahatan. Bukan menomorsatukan materi dengan gemerlap kekayaan.

Jangankan berpolitik, santri juga menebar hampir semua bidang. Cendekiawan-cendekiawan Nusantara juga lahir karena istikamah para santri dalam gagasan dan kecerdasan nalar.

Santri entrepreneur semakin mewarnai kelas-kelas pelaku usaha.

Ketika para santri menempati beragam sektor, tentu ada secercah harapan. Ada kemauan dan modal sosial politik yang santun dan bijak.

Ketika negara kesulitan menepis polah anak muda yang keblabasan, ternyata santri meneguhkan kebenaran. Santri membuka diri dengan tadarus, taklim, duduk bareng ngaji kitab untuk membenahi polah anak-anak muda yang keblabasan.

Estafet santri tidak akan berhenti. Saatnya membangun dinasti-dinasti santri (keluarga-keluarga santri) bermuara pada Sumber Daya Berkualitas, Membangun Sampai Tuntas (sesuai tema Hari Jadi ke 346 Bojonegoro. (*)

 

Editor : Hakam Alghivari
#kiai #Filosofi #Pesantren #mengaji #Santri #bojonegoro #kitab #Ponpes