Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Ismail Fahmi, Kuliah di Belanda Bikin Aplikasi Pemburu Sumber Hoaks

Indra Gunawan • Rabu, 9 Desember 2020 | 01:00 WIB
Ismail Fahmi, Kuliah di Belanda Bikin Aplikasi Pemburu Sumber Hoaks
Ismail Fahmi, Kuliah di Belanda Bikin Aplikasi Pemburu Sumber Hoaks

Ismail Fahmi merupakan sosok di balik aplikasi Drone Emprit yang merupakan sebuah sistem berfungsi memonitor dan menganalisa media sosial berbasis big data. Menjelajah dunia sains hingga kuliah S-2 dan S-3 di Belanda.


BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro


Sosok Ismail Fahmi selalu menghiasi berbagai media, baik media sosial maupun televisi. Pendapatnya selalu dijadikan rujukan ketika ada simpang siur informasi di media sosial. Dari segi validitas dan netralitas, pendapat Ismail Fahmi didukung sebuah sistem aplikasi bernama Drone Emprit.


Aplikasi tersebut ia kembangkan sejak 2009 ketika masih studi S-3 di Universitas Groningen, Belanda. Drone Emprit menggunakan keahlian artificial intelligence (AI) dan natural learning process (NLP).


Sehingga menyajikan peta analisis media sosial tentang bagaimana sumber hoaks berasal, menyebar, siapa pendengung pertama, dan siapa groupnya. Sehingga, keberadaan Drone Emprit bermanfaat di tengah semakin kencang arus informasi di dunia digital.


Pria kelahiran 1974 itu meninggalkan Bojonegoro seusai lulus dari SMAN 1 Bojonegoro pada 1992. Ismail melanjutkan studi S-1 jurusan teknik elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah lulus S-1, Ismail menyelesaikan studi S-2 dan S-3 bidang sains informasi di Universitas Groningen, Belanda.


Lelaki kelahiran Desa Kenep, Kecamatan Balen, itu pulang ke Indonesia pada 2014. Akhir-akhir ini selama pandemi Covid-19, pria berdomisili di Jakarta Selatan itu disibukkan menjadi pembicara ragam webinar.


Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan mengobrol melalui sambungan telepon pada 3 Desember lalu. Suaranya tegas dan lugas ketika bercerita. Ia mengaku membatasi permintaan untuk mengisi webinar.


“Sehari saya batasi dua webinar, pagi dan siang atau sore. Karena itu, ketika sampeyan mau wawancara, saya sarankan teleponnya jam 7 malam, karena sudah free,” ujar Ismail.


Ismail kini dikenal sebagai sosok andal di bidang digital bukan tanpa alasan. Ternyata sejak duduk di bangku SMA atau tahun 1990-an, bapak dua anak itu sudah memiliki ketertarikan dunia digital. Ismail ingat dulu pernah beli buku pemprograman komputer di toko buku Nusantara.


Lalu, buku itu ia pelajari dan program pertama ia bikin berupa sistem aplikasi chatting, namun hanya offline. “Dulu bikin iseng-iseng program mirip-mirip chatting seperti WhatsApp. Mulai saat itu, saya tertarik dunia pemprograman komputer,” tuturnya.


Tingginya rasa ingin tahu dan kemauan untuk selalu belajar itu mengantarkan Ismail studi S-2 dan S-3 di Universitas Groningen, Belanda. Saat kuliah di Belanda, Ismail nyambi kerja di perpustakaan kampusnya.


Lalu kapan Drone Emprit itu lahir? Ia bercerita saat di selasela kesibukannya hidup di Belanda pada 2009 silam. “Dulu namanya belum Drone Emprit, dulu nama metodenya moonlighting. Karena pengerjaan saat malam sekitar jam 11 malam hingga jam 3 pagi. Paginya bekerja di kantor,” bebernya.


Setelah mengemban ilmu di negara kincir angin selama 10 tahun, Ismail pulang ke Indonesia. Pada 2014 itu, Ismail melanjutkan pengembangan aplikasi buatannya. Nama Drone Emprit baru lahir pada 2016.


Jargon Drone Emprit dilatarbelakangi penuh semangat menjaga objektivitas sebuah informasi, yaitu we don’t claim to be neutral, but we insist on being truthful. Bila diterjemahkan, kami tidak mengklaim sebagai netral. Tapi, kami bersikeras untuk jujur atau mengungkapkan yang sebenar-benarnya.


Karena itu, Ismail bersama Drone Emprit berusaha agar masyarakat tidak mudah termakan propaganda atau hoaks berasal dari buzzer atau influencer di media sosial. Dia senantiasa ingin mengingatkan publik tentang adanya cyber troop dan computational propaganda yang mungkin bertujuan memanipulasi opini mereka.


“Kami sangat menjaga objek tivitas sebuah informasi, jadi tidak akan membela salah satu kubu,” katanya.


Karena menjaga netralitas, tak jarang serangan datang ke arah Ismail. Ketika kubu A terbongkar bobroknya, marah-marah. Sedangkan, kubu B memuji. Tapi, kemudian hari, bisa saja propaganda itu datang dari kubu B dan dibongkar oleh Drone Emprit. Sehingga kubu B pun marah-marah karena terbongkar.


“Ketika ada salah satu kubu yang terbongkar bobroknya dan terbukti menyebarkan hoaks seringkali marah-marah, bahkan pernah sampai meretas situsnya Drone Emprit,” terangnya.


Lelaki hobi berlari dan bersepeda itu setidaknya setahun sekali pulang ke kampung halamannya. Hal yang ia rindukan selain orang tuanya ialah suasana perdesaan yang asri. Biasanya ia mengajak anak dan istrinya pergi ke sawah atau ke tanggul ketika sore.

Editor : Indra Gunawan
#bojonegoro