RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Mendapatkan gelar sarjana tidak selalu menjadi jaminan seseorang dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, banyak lulusan perguruan tinggi justru harus menghadapi kenyataan sulitnya mendapatkan pekerjaan, bahkan setelah mengirim puluhan hingga ratusan lamaran.
Fenomena ini memperlihatkan adanya persoalan dalam pasar tenaga kerja Indonesia. Setiap tahun, perguruan tinggi menghasilkan lulusan baru, tetapi ketersediaan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kompetensi mereka belum tentu bertambah dengan kecepatan yang sama.
Akibatnya, sebagian lulusan terpaksa menganggur lebih lama, bekerja di luar bidang keahlian, atau menerima pekerjaan dengan tingkat pendidikan yang sebenarnya lebih rendah dari kualifikasi mereka.
Lebih dari Satu Juta Lulusan Perguruan Tinggi Menganggur
Persoalan pengangguran sarjana dapat dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS).
Baca Juga: Jatim Raih Penghargaan Kemendagri Kategori Pemda Terbaik dalam Penurunan Pengangguran
Berdasarkan data Sakernas Agustus 2025, jumlah pengangguran dengan pendidikan terakhir universitas mencapai 904.440 orang. Sementara pada Februari 2025, jumlahnya masih berada di angka 1.010.652 orang.
Data tersebut menunjukkan bahwa kelompok berpendidikan tinggi juga menghadapi tantangan dalam memperoleh pekerjaan.
Pada perkembangan berikutnya, Kementerian Ketenagakerjaan melalui keterangan yang diberitakan ANTARA pada 13 Agustus 2026 menyebutkan bahwa jumlah pengangguran berlatar belakang pendidikan perguruan tinggi, mulai Diploma IV hingga S3, mencapai 1.033.182 orang berdasarkan data BPS per Mei 2026. Jumlah tersebut setara sekitar 14,31 persen dari total 7,22 juta pengangguran nasional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pengangguran tidak hanya berkaitan dengan tingkat pendidikan, tetapi juga kemampuan pasar kerja dalam menyerap tenaga kerja terdidik.
Mengapa Sarjana Semakin Sulit Mendapatkan Pekerjaan?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan lulusan perguruan tinggi menghadapi kesulitan ketika memasuki dunia kerja.
1. Ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri
Salah satu persoalan utama adalah kesenjangan antara kompetensi yang diperoleh selama kuliah dan kebutuhan perusahaan.
Dunia industri terus mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi, digitalisasi, dan otomatisasi. Perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis, kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, hingga literasi digital.
Sementara itu, sebagian lulusan masih mengandalkan pengetahuan teoritis tanpa pengalaman praktik yang cukup.
Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kemnaker, Anwar Sanusi, dalam pemberitaan ANTARA pada Agustus 2026 menyebutkan bahwa skill mismatch atau ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri menjadi salah satu faktor utama tingginya pengangguran terdidik.
2. Lapangan kerja formal belum tumbuh sebanding
Pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi tidak selalu diikuti peningkatan lowongan pekerjaan formal. Kondisi tersebut membuat persaingan semakin ketat, terutama untuk posisi pekerjaan yang menawarkan gaji tetap, jenjang karier, dan perlindungan ketenagakerjaan.
Satu lowongan pekerjaan dapat menerima ratusan pelamar dengan latar belakang pendidikan yang hampir sama. Akibatnya, perusahaan memiliki banyak pilihan dan proses seleksi menjadi semakin kompetitif.
3. Persyaratan pengalaman kerja bagi fresh graduate
Persoalan lain yang sering dihadapi lulusan baru adalah tuntutan pengalaman kerja. Tidak sedikit perusahaan yang mencantumkan persyaratan pengalaman satu hingga tiga tahun, meskipun posisi yang ditawarkan berada pada tingkat pemula.
Situasi ini menciptakan dilema bagi para fresh graduate. Mereka membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh pengalaman, tetapi pengalaman justru menjadi salah satu syarat agar dapat diterima bekerja.
4. Ketidaksesuaian jurusan dengan pekerjaan
Tidak semua lulusan dapat bekerja sesuai bidang pendidikan yang ditempuh selama kuliah. Ada yang akhirnya bekerja sebagai staf administrasi meskipun memiliki gelar sarjana teknik, menjadi tenaga penjualan meskipun berlatar belakang pendidikan sosial, atau menjalani pekerjaan lain yang tidak berhubungan langsung dengan jurusannya.
Kondisi tersebut dikenal sebagai education-job mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara tingkat atau bidang pendidikan dengan pekerjaan yang dijalani.
Penelitian Ungkap Banyak Pekerja Muda Mengalami Mismatch
Persoalan ketidaksesuaian pendidikan dan pekerjaan juga menjadi perhatian Badan Pusat Statistik. Dalam publikasi Education–Employment Mismatch Among Indonesian Youth: Implications for the Demographic Bonus yang diterbitkan pada Oktober 2025, BPS mengungkapkan bahwa sekitar 35,36 persen pekerja muda Indonesia mengalami ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan dan pekerjaan.
Baca Juga: Temuan Anomali Ground Check DTSEN di Bojonegoro: Temukan Data Pengangguran, Ternyata Pensiunan
Rinciannya, sebanyak 22,36 persen mengalami overeducation, yakni memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi daripada persyaratan pekerjaan. Sementara 13 persen lainnya mengalami undereducation, yaitu tingkat pendidikan berada di bawah kualifikasi yang dibutuhkan pekerjaan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa tantangan dunia kerja bukan hanya mengenai sulitnya memperoleh pekerjaan, tetapi juga kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan pendidikan.
Penelitian berjudul Multidimensional Labor Market Mismatch: The Case of University Graduates in Indonesia yang diterbitkan dalam jurnal Education Economics pada Agustus 2026 juga membahas persoalan ketidaksesuaian tingkat pendidikan, bidang studi, dan keterampilan lulusan perguruan tinggi.
Penelitian tersebut menemukan bahwa ketidaksesuaian pendidikan maupun bidang studi dengan pekerjaan berkaitan dengan konsekuensi pendapatan bagi pekerja. Artinya, ketidaksesuaian pekerjaan tidak hanya menjadi persoalan karier, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi ekonomi seseorang.
Dampak Pengangguran Sarjana bagi Generasi Muda
Sulitnya mendapatkan pekerjaan dapat membawa dampak yang cukup besar bagi kehidupan lulusan perguruan tinggi. Dari sisi ekonomi, mereka berisiko mengalami keterlambatan mencapai kemandirian finansial. Sebagian masih harus bergantung kepada orang tua untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menempuh pendidikan tinggi.
Dari sisi psikologis, proses pencarian kerja yang panjang dapat memicu stres, kecemasan, dan penurunan rasa percaya diri. Tekanan juga dapat muncul dari lingkungan sosial dan keluarga. Setelah menyelesaikan kuliah, lulusan sering dihadapkan pada ekspektasi untuk segera mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang layak.
Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, muncul perasaan tertinggal dibandingkan teman sebaya yang lebih dahulu memperoleh pekerjaan.
Pendidikan Tinggi Harus Terhubung dengan Kebutuhan Industri
Menghadapi persoalan ini, diperlukan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia industri.
Kampus perlu memperkuat pembelajaran berbasis praktik, memperluas program magang, serta menghadirkan kurikulum yang lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan tenaga kerja.
Sementara itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri dengan keterampilan tambahan, seperti penguasaan teknologi digital, bahasa asing, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi.
Pemerintah juga perlu memperluas kesempatan kerja produktif, meningkatkan kualitas pelatihan tenaga kerja, serta mendorong pertumbuhan industri yang mampu menyerap lulusan pendidikan tinggi.
Pada akhirnya, fenomena sulitnya sarjana mendapatkan pekerjaan menjadi pengingat bahwa gelar akademis bukan satu-satunya penentu keberhasilan karier.
Pendidikan tetap penting sebagai investasi masa depan. Namun, tanpa kesesuaian keterampilan, pengalaman, dan ketersediaan lapangan kerja yang memadai, gelar sarjana belum tentu menjadi tiket untuk mendapatkan pekerjaan yang diharapkan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko