Fenomena Pengangguran Terdidik, Ketika Gelar Sarjana Tak Menjamin Pekerjaan

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi Pengangguran (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Pengangguran (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Memiliki gelar sarjana selama ini kerap dianggap sebagai salah satu jalan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan meningkatkan taraf hidup. Namun, kondisi dunia kerja saat ini menunjukkan kenyataan yang tidak selalu sejalan dengan harapan tersebut.

Fenomena pengangguran terdidik semakin menjadi perhatian. Banyak lulusan perguruan tinggi harus menghadapi persaingan ketat untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan tidak sedikit yang terpaksa bekerja di luar bidang keahliannya atau menerima pekerjaan dengan kualifikasi di bawah tingkat pendidikannya.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai hubungan antara pendidikan tinggi dan peluang kerja. Apakah gelar sarjana masih cukup untuk menjamin masa depan karier seseorang?

Ratusan Ribu Lulusan Universitas Masih Menganggur

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pengangguran tidak hanya berasal dari kelompok masyarakat berpendidikan rendah.

Baca Juga: Jatim Raih Penghargaan Kemendagri Kategori Pemda Terbaik dalam Penurunan Pengangguran

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, terdapat sekitar 904.440 pengangguran dengan pendidikan terakhir universitas di Indonesia. Sementara itu, pada Februari 2025 jumlahnya mencapai 1.010.652 orang.

Jika dilihat berdasarkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) menurut pendidikan pada 2025, kelompok lulusan universitas mencatat angka sebesar 5,39 persen. Adapun lulusan diploma I/II/III sebesar 4,31 persen. Angka tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi belum sepenuhnya membuat seseorang terbebas dari risiko pengangguran.

Data ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan jumlah lulusan perguruan tinggi. Ketersediaan lapangan kerja dan kesesuaian kompetensi juga menjadi faktor penting.

Mengapa Gelar Sarjana Tidak Menjamin Pekerjaan?

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan lulusan perguruan tinggi kesulitan mendapatkan pekerjaan.

1. Ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri

Salah satu persoalan utama adalah kesenjangan antara kompetensi yang diperoleh selama kuliah dan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Dunia industri terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademis, tetapi juga kemampuan praktis, komunikasi, pemecahan masalah, dan penguasaan teknologi digital.

Sementara itu, tidak semua program pendidikan mampu menyesuaikan kurikulum dengan perubahan kebutuhan industri secara cepat.

2. Persaingan pencari kerja semakin ketat

Setiap tahun, perguruan tinggi menghasilkan lulusan baru yang masuk ke pasar tenaga kerja. Di sisi lain, pertumbuhan lapangan pekerjaan tidak selalu sebanding dengan jumlah pencari kerja. Akibatnya, satu posisi pekerjaan dapat diperebutkan oleh banyak pelamar dengan latar belakang pendidikan yang relatif sama.

Kondisi tersebut membuat perusahaan memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan kandidat yang dianggap paling sesuai.

Baca Juga: Tingkat Pengangguran Kabupaten Bojonegoro Masih di Atas Provinsi Jatim, Disperinaker Genjot Informasi Loker

3. Pengalaman kerja menjadi persyaratan

Persoalan lain yang sering dihadapi lulusan baru adalah persyaratan pengalaman kerja. Tidak sedikit lowongan pekerjaan yang meminta pengalaman satu hingga tiga tahun, sementara pelamar merupakan lulusan baru yang belum memiliki pengalaman profesional.

Akibatnya, muncul situasi yang cukup dilematis. Lulusan membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pengalaman, tetapi pengalaman justru menjadi salah satu persyaratan untuk memperoleh pekerjaan.

4. Ketidaksesuaian jurusan dengan kebutuhan pasar kerja

Tidak semua bidang pendidikan memiliki tingkat kebutuhan tenaga kerja yang sama. Ada jurusan yang menghasilkan banyak lulusan, tetapi jumlah lowongan di bidang tersebut relatif terbatas. Sebaliknya, sejumlah sektor industri justru mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan keterampilan khusus.

Fenomena ini dikenal sebagai education-job mismatch, yakni ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan seseorang dengan pekerjaan yang dijalani.

Penelitian Mengungkap Persoalan Kesenjangan Pendidikan dan Dunia Kerja

Persoalan pengangguran terdidik juga menjadi perhatian dalam berbagai penelitian akademis.

Penelitian Rizkia Ariyani Pratiwi berjudul Unemployment Among Higher Education Graduates in Indonesia: Growth Dynamics and Labor Market Mismatch (2019–2025) yang diterbitkan dalam jurnal ALETHEIA tahun 2025 membahas dinamika pengangguran lulusan pendidikan tinggi di Indonesia.

Penelitian tersebut menyoroti adanya ketidaksesuaian struktural antara hasil pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Peningkatan jumlah lulusan diploma dan universitas belum selalu diikuti penyerapan tenaga kerja yang sesuai.

Selain itu, penelitian Anita Paramitha dan Deniey Adi Purwanto (2026) dari Institut Pertanian Bogor berjudul Analisis Vertical Skill Mismatch, Pengangguran Terdidik, dan Disparitas Antarwilayah di Indonesia menggunakan data Sakernas Agustus 2024.

Baca Juga: Angka Pekerja Informal di Bojonegoro Tembus 69,35 Persen: Belum Aman, meski Pengangguran Hanya 3,9 Persen

Penelitian tersebut menemukan adanya fenomena vertical skill mismatch, yakni ketidaksesuaian tingkat pendidikan pekerja dengan kualifikasi pekerjaan yang dijalani. Kondisi ini dapat muncul ketika seseorang memiliki pendidikan lebih tinggi daripada persyaratan pekerjaan yang ditempatinya atau justru memiliki pendidikan di bawah kebutuhan pekerjaan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pengangguran terdidik tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja, tetapi juga bagaimana sistem pendidikan dan kebutuhan industri dapat saling menyesuaikan.

Dampak Pengangguran Terdidik bagi Anak Muda

Pengangguran setelah menyelesaikan pendidikan tinggi dapat menimbulkan berbagai konsekuensi bagi kehidupan seseorang.

Dari sisi ekonomi, lulusan perguruan tinggi yang belum memperoleh pekerjaan akan mengalami keterlambatan dalam mencapai kemandirian finansial. Mereka mungkin masih bergantung kepada orang tua untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara dari sisi psikologis, ketidakpastian pekerjaan dapat memicu stres, kecemasan, dan penurunan rasa percaya diri.

Tekanan juga dapat muncul akibat ekspektasi keluarga dan lingkungan sosial. Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menempuh pendidikan tinggi, seseorang sering kali diharapkan segera mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang baik. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, sebagian lulusan dapat merasa tertinggal dibandingkan teman sebaya yang sudah lebih dahulu bekerja.

Pendidikan Tinggi Perlu Diikuti Keterampilan yang Relevan

Fenomena pengangguran terdidik menjadi pengingat bahwa gelar akademis bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan memasuki dunia kerja.

Perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan dengan dunia industri melalui program magang, pembelajaran berbasis proyek, sertifikasi kompetensi, serta pengembangan keterampilan yang sesuai kebutuhan pasar.

Di sisi lain, mahasiswa dan lulusan baru juga perlu meningkatkan kemampuan di luar bidang akademis, seperti komunikasi, bahasa asing, literasi digital, kreativitas, hingga kemampuan beradaptasi.

Baca Juga: Temuan Anomali Ground Check DTSEN di Bojonegoro: Temukan Data Pengangguran, Ternyata Pensiunan

Pemerintah juga memiliki peran dalam memperluas kesempatan kerja, memperkuat pelatihan vokasi, dan mendorong pertumbuhan sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja terdidik.

Pada akhirnya, fenomena pengangguran terdidik menunjukkan bahwa memperoleh gelar sarjana hanyalah salah satu tahapan dalam perjalanan menuju dunia kerja.

Pendidikan tetap menjadi investasi penting bagi masa depan. Namun, tanpa keterampilan yang relevan, pengalaman, serta ketersediaan lapangan kerja yang memadai, gelar akademis belum tentu menjadi tiket menuju pekerjaan yang diharapkan. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
Pengangguran Terdidik pengangguran Pendidikan pekerjaan sarjana