Bambang Sutrisno, Generasi Kelima Penerus Ajaran Samin Surosentiko


RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus modernisasi, ajaran Saminisme masih bertahan di tengah masyarakat Bojonegoro. Salah satu sosok yang terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai tersebut adalah Bambang Sutrisno.
Bagi Bambang, meneruskan ajaran Samin bukan sekadar menjaga tradisi keluarga maupun identitas masyarakat adat. Lebih dari itu, ia memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskan leluhur, mulai dari kejujuran, kesabaran, kesederhanaan, hingga sikap saling menghormati.
Bambang Sutrisno merupakan putra Mbah Hardjo Kardi, tokoh masyarakat Samin generasi sebelumnya. Ia bersama keluarganya tinggal di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro.
"Nggih betul, saya kebetulan penerus ajaran samin generasi kelima" ucap Bambang
Suro Sentiko (1914) – Tokoh yang menjadi pelopor gerakan Saminisme dan meletakkan dasar ajaran kehidupan masyarakat Samin.
Suro Kidin (1942) – Generasi penerus yang menjaga keberlangsungan ajaran Samin.
Suro Karto Kamidin (1986) – Penerus berikutnya yang turut mempertahankan warisan ajaran leluhur.
Harjo Kardi (2023) – Tokoh generasi selanjutnya sekaligus ayah Bambang Sutrisno.
Bambang Sutrisno – Generasi penerus yang melanjutkan upaya pelestarian ajaran dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Samin hingga sekarang.
Sebagai penerus ajaran Samin Surosentiko, Bambang berupaya menjaga agar pitutur atau nasihat leluhur tetap diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui penyampaian lisan, bukan semata-mata melalui tulisan.
Dedikasi Bambang dalam menjaga warisan budaya masyarakat Samin mendapatkan pengakuan nasional. Pada 17 Desember 2025, ia menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 kategori Masyarakat Adat dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Baca Juga: Doktrin Samin Surosentiko dan Rencana 'Pemberontakan' Kaum Tani di Bojonegoro dan Blora 1907
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas konsistensinya dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur ajaran Samin yang diwariskan secara turun-temurun.
Namun, bagi Bambang, penghargaan tersebut bukan semata-mata pencapaian pribadi. Ia memandangnya sebagai bentuk apresiasi terhadap leluhur, keluarga, masyarakat adat, serta berbagai pihak yang ikut menjaga keberlangsungan budaya Samin.
Ia juga mengingatkan bahwa ajaran Samin tidak mengajarkan seseorang untuk meminta sesuatu kepada orang lain. Pemberian baru diterima apabila diberikan secara ikhlas.
Salah satu prinsip utama yang terus dijaga masyarakat Samin adalah kejujuran, kesabaran, usaha sungguh-sungguh, dan keikhlasan menerima hasil kehidupan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




