RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menghasilkan asap yang dapat mengancam kesehatan manusia. Salah satu komponen berbahaya dalam asap karhutla adalah PM2.5, partikel polutan berukuran sangat kecil yang mampu menembus jauh ke dalam paru-paru. Paparan partikel ini dapat memicu gangguan pernapasan hingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan kerap menjadi persoalan kesehatan masyarakat, terutama ketika kebakaran terjadi dalam skala luas dan berlangsung dalam waktu lama. Partikel asap dapat terbawa angin hingga menjangkau kawasan permukiman, perkotaan, bahkan wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran.
Di antara berbagai zat pencemar yang terkandung dalam asap tersebut, PM2.5 menjadi salah satu polutan yang perlu diwaspadai karena ukurannya yang sangat kecil dan kemampuannya masuk ke bagian terdalam sistem pernapasan.
Baca Juga: Update Kebakaran Hutan dan Lahan di Kawasan TNBTS Bromo saat Ritual Yadnya Kasada
Apa Itu PM2.5 dalam Asap Karhutla?
PM2.5 merupakan singkatan dari particulate matter 2.5, yakni partikel padat atau tetesan cairan di udara dengan diameter aerodinamis 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Ukurannya sekitar 30 kali lebih kecil dibandingkan diameter rata-rata rambut manusia. Karena sangat halus, partikel ini dapat bertahan di udara dan terhirup manusia tanpa mudah disaring sepenuhnya oleh mekanisme pertahanan alami hidung.
Ketika hutan atau lahan terbakar, pembakaran vegetasi, ranting, daun, gambut, dan bahan organik lainnya menghasilkan campuran gas serta partikel halus. Komposisi asap dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis bahan yang terbakar, suhu pembakaran, kondisi kebakaran, dan faktor lingkungan.
PM2.5 dari karhutla dapat mengandung campuran karbon, senyawa organik, dan komponen kimia lainnya. Asap juga dapat membawa gas berbahaya, seperti karbon monoksida, sehingga dampak kesehatan akibat karhutla tidak hanya ditentukan oleh partikel PM2.5.
Mengapa PM2.5 Bisa Menembus Jauh ke Paru-Paru?
Sistem pernapasan manusia sebenarnya memiliki mekanisme pertahanan alami untuk menyaring partikel yang masuk bersama udara. Rambut hidung, lendir, dan silia atau rambut-rambut halus di saluran pernapasan membantu menangkap serta mengeluarkan berbagai partikel asing.
Namun, partikel PM2.5 memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga sebagian dapat melewati pertahanan tersebut dan mencapai saluran pernapasan bagian bawah.
Ketika terhirup, partikel halus dapat mengendap di bronkiolus dan alveoli, yaitu kantong udara kecil di paru-paru yang menjadi tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
Keberadaan partikel dan komponen kimia yang menyertainya dapat memicu respons peradangan serta stres oksidatif pada jaringan paru-paru. Kondisi ini berpotensi mengganggu fungsi pernapasan, terutama pada orang yang memiliki penyakit paru-paru sebelumnya.
Sebagian komponen partikel juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular melalui mekanisme biologis yang melibatkan peradangan dan gangguan fungsi pembuluh darah. Namun, tidak semua partikel yang terhirup masuk ke aliran darah; dampaknya bergantung pada karakteristik partikel dan respons tubuh.
Dengan demikian, ukuran PM2.5 yang sangat kecil menjadi salah satu alasan mengapa polutan ini berbahaya bagi kesehatan manusia.
Apa Kata Penelitian tentang PM2.5 dari Kebakaran Hutan?
Sejumlah penelitian ilmiah telah mengkaji hubungan antara paparan asap kebakaran hutan dan gangguan kesehatan manusia.
Salah satunya adalah penelitian Reid dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Health Perspectives pada 2016 dengan judul Critical Review of Health Impacts of Wildfire Smoke Exposure.
Baca Juga: Hari Hak Asasi Binatang: Ketika Hutan Terbakar dan Rumah Satwa Terus Menghilang
Kajian tersebut merangkum bukti mengenai dampak paparan asap kebakaran hutan terhadap kesehatan. Peneliti menemukan bahwa paparan asap kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan gangguan pernapasan, termasuk eksaserbasi asma dan peningkatan kunjungan ke fasilitas kesehatan akibat masalah pernapasan.
Penelitian tersebut juga menyoroti bahwa kelompok tertentu, seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan atau kardiovaskular, dapat lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran.
Temuan ini menunjukkan bahwa asap karhutla bukan sekadar gangguan jarak pandang atau masalah lingkungan, melainkan juga persoalan kesehatan masyarakat.
Penelitian lain oleh Johnston dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Health Perspectives pada 2012, berjudul Estimated Global Mortality Attributable to Smoke from Landscape Fires, memperkirakan beban kematian global yang berkaitan dengan paparan asap kebakaran lanskap.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa asap kebakaran dapat berkontribusi terhadap beban penyakit dan kematian, meskipun besarnya dampak dapat berbeda menurut wilayah, intensitas kebakaran, tingkat paparan, serta kondisi kesehatan penduduk.
Kedua penelitian tersebut memperkuat pentingnya pengendalian kebakaran hutan dan lahan sekaligus perlindungan kesehatan masyarakat ketika terjadi kabut asap.
Apa Dampak PM2.5 Karhutla bagi Kesehatan?
Dampak paparan PM2.5 dipengaruhi oleh konsentrasi partikel di udara, durasi paparan, serta kondisi kesehatan individu. Beberapa dampak yang perlu diwaspadai meliputi:
1. Iritasi dan gangguan pernapasan
Paparan asap dapat menyebabkan batuk, tenggorokan terasa kering, iritasi mata, sesak napas, dan rasa tidak nyaman ketika bernapas. Pada sebagian orang, gejala dapat muncul atau memburuk selama kualitas udara menurun.
Baca Juga: Karhutla Belum Ditetapkan sebagai Bencana Nasional, Pemerintah Fokus Tangani 6 Provinsi
2. Memperburuk penyakit asma
Partikel halus dan komponen asap dapat memicu peradangan saluran pernapasan. Bagi penderita asma, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekambuhan, mengi, dan kesulitan bernapas.
3. Meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular
Paparan PM2.5, terutama dalam jangka panjang, berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Paparan asap dalam episode kebakaran juga menjadi perhatian, khususnya bagi orang yang sudah memiliki penyakit kardiovaskular.
4. Mengganggu kesehatan anak-anak dan lansia
Anak-anak masih mengalami perkembangan paru-paru, sedangkan lansia lebih mungkin memiliki penyakit penyerta. Kedua kelompok ini perlu mendapatkan perlindungan ekstra ketika terjadi pencemaran udara akibat karhutla.
5. Menimbulkan risiko akibat paparan berkepanjangan
Paparan berulang atau berkepanjangan terhadap polusi partikel halus dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan. Karena itu, upaya mengurangi paparan perlu dilakukan meskipun seseorang tidak langsung merasakan gejala.
Mengapa Asap Karhutla Berbahaya Meski Lokasi Kebakaran Jauh?
Asap karhutla tidak selalu berdampak hanya pada wilayah tempat kebakaran terjadi. Partikel halus dapat terbawa angin dan berpindah mengikuti pola cuaca serta kondisi atmosfer.
Dalam keadaan tertentu, asap dari kebakaran di suatu wilayah dapat mencapai kawasan lain yang berjarak puluhan hingga ratusan kilometer. Luas penyebarannya bergantung pada kekuatan angin, stabilitas atmosfer, kondisi topografi, serta besarnya kebakaran.
Baca Juga: Kejadian Kebakaran Hutan di Bojonegoro Melonjak
Hal ini menjadikan karhutla sebagai persoalan lintas wilayah. Masyarakat yang tinggal jauh dari titik api tetap dapat mengalami paparan ketika asap mencapai daerah tempat tinggal mereka.
Selain itu, asap yang tidak selalu terlihat pekat bukan berarti udara bebas dari PM2.5. Konsentrasi partikel perlu diketahui melalui pengukuran kualitas udara, bukan hanya berdasarkan pengamatan visual.
Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Paparan PM2.5?
Ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi paparan.
1. Pantau kualitas udara secara berkala
Periksa informasi kualitas udara dan konsentrasi PM2.5 melalui sumber resmi. Jika tingkat pencemaran meningkat, pertimbangkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.
2. Kurangi aktivitas fisik di luar ruangan
Hindari olahraga berat atau kegiatan yang membuat napas lebih cepat ketika asap sedang pekat. Aktivitas fisik yang berat dapat meningkatkan jumlah udara yang dihirup sehingga paparan partikel berpotensi bertambah.
3. Gunakan masker respirator yang sesuai
Masker respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Masker kain atau masker bedah tidak memberikan tingkat perlindungan yang setara terhadap partikel udara yang sangat kecil.
Masker respirator juga tidak melindungi dari semua gas berbahaya dalam asap. Karena itu, mengurangi paparan dan menjauh dari kawasan berasap tetap menjadi langkah penting.
Baca Juga: Ancaman Karhutla Mengintai : Dampak Kekeringan, Terpaksa Mencabut Padi Akibat Gagal Tanam
4. Jaga kualitas udara di dalam ruangan
Tutup pintu dan jendela ketika asap dari luar masuk ke lingkungan tempat tinggal. Jika memungkinkan, gunakan pembersih udara dengan filter HEPA yang sesuai dengan ukuran ruangan.
Hindari aktivitas yang menambah polusi di dalam rumah, seperti merokok, membakar dupa, atau memasak dengan proses yang menghasilkan banyak asap.
5. Berikan perhatian khusus kepada kelompok rentan
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit asma, penyakit paru-paru, atau penyakit jantung perlu lebih berhati-hati ketika terjadi kabut asap.
Jika muncul sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau gejala serius lainnya, segera cari pertolongan medis.
Kesimpulan
Partikel PM2.5 merupakan salah satu komponen berbahaya dalam asap kebakaran hutan dan lahan. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini menembus jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan, memperburuk penyakit pernapasan, serta berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular.
Baca Juga: ISPA dan Gangguan Pernapasan Mengintai saat Cuaca Panas dan Berdebu, Kenali Gejalanya
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa dampak asap kebakaran tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di dekat titik api, tetapi juga dapat menjangkau penduduk di wilayah yang terkena sebaran asap.
Karena itu, pencegahan karhutla perlu berjalan beriringan dengan pemantauan kualitas udara dan perlindungan masyarakat. Ketika kabut asap terjadi, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan respirator yang sesuai, dan menjaga udara dalam ruangan tetap bersih menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan PM2.5. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko