RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) mengumpulkan dan mengajak sekitar 40 kreator dan media digital sebagai mitra komunikasi pada Rabu (6/5). Namun sebagian dari kreator dan media tersebut membantah keikutsertaan dalam kegiatan tersebut pada Kamis (7/5).
Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari mengajak berbagai kreator dan media yang termasuk dalam “Homeless Media” (media tanpa struktur kelembagaan) dalam pertemuan tertutup tersebut pada Selasa. Setidaknya sebagian dari mereka tergabung dalam asosiasi Indonesia New Media Forum (INMF).
“New media harus dirangkul agar dapat meningkatkan kualitas dan standar agar produknya makin berkualitas seperti media konvensional. New media hari ini punya jangkauan besar, bahkan bisa sampai 100 juta followers dengan miliaran views per bulan. Ini potensi besar untuk meningkatkan kualitas komunikasi publik” ujar Qodari sebagaimana dikutip dari Jawa Pos.
Namun, satu per satu dari media yang diklaim hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan bahwa mereka tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Bahkan beberapa mengaku tidak menerima undangan dalam bentuk apapun, sehingga merasa nama mereka dicatut.
Yang paling mencolok, Narasi Newsroom turut angkat suara mengenai pertemuan tersebut serta klaim dari Qodari. Terlebih Narasi merupakan media anggota Dewan Pers, dan tidak tergabung dalam INMF.
Baca Juga: Dugaan Markup Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat, Mensos Gus Ipul: Bukan Waktunya Lagi Kongkalikong!
“Narasi tidak mengetahui, tidak terlibat, dan tidak menghadiri pertemuan maupun jumpa pers terkait INMF maupun Bakom RI pada 6 Mei. Narasi merupakan media resmi yang terdaftar dan terverifikasi Dewan pers, dan beroperasi sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik,” bunyi pernyataan Narasi Newsroom melalui kanal media sosial mereka.
Berbagai kanal media dan kreator lain yang disebut-sebut tergabung dalam pertemuan tersebut juga mengaku tidak diundang sama sekali, misal Ngomongin Uang, Indomusikgram, dan Bapak2ID. Mereka juga mengaku kaget nama usaha mereka tiba-tiba dicatut dalam statemen Bakom RI. Sebagian lain membenarkan hadir dalam pertemuan tersebut atau menjadi anggota INMF, namun membantah bermitra dengan Bakom RI, misal Big Alpha.
“Tim Ngomongin Uang tidak pernah menerima undangan, menghadiri pertemuan, maupun melakukan komunikasi, baik secara tatap muka maupun digital dengan Bakom RI. Oleh karena itu, klaim di berbagai media yang menyatakan Ngomongin Uang menjadi mitra pemerintahan adalah tidak pernah,” bunyi pernyataan dari Ngomongin Uang melalui media sosial mereka.
Hal tersebut juga diamini oleh pendiri Ngomongin Uang, Izmul Ruli Azmi. “Ketemu pun enggak. Hampir semua kerjasama Ngomongin Uang dua minggu terakhir tidak ada satupun dari pemerintah. Kecuali Danantara, itupun murni publikasi laporan keuangan,” jelas ekonom dan tutor bisnis tersebut di media sosial pribadinya,
INMF sendiri membenarkan terjadinya pertemuan dengan Bakom RI. Namun mereka menyebut pertemuan tersebut hanya undangan saling berkomunikasi antara pemerintah dan media, dan tidak menghasilkan kesepakatan atau kemitraan dalam bentuk apapun.
“Terkait pemberitan yang beredar, kami menegaskan bahwa tidak ada komitmen maupun kesepakatan antara INMF dan Bakom. Pertemuan yang terjadi merupakan bagian dari ruang dialog untuk saling bertukar perspektif terkait perkembangan ekosistem media digital,” bunyi pernyataan INMF di media sosial mereka.
Lalu bagaimana bisa media non-anggota INMF juga ikut dicatut dalam statemen Bakom RI, sebagaimana yang terjadi dengan Narasi? “Daftar media yang beredar di publik merupakan pemetaan ekosistem industri dan media sosial, bukan daftar anggota resmi,” klaim INMF. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana