RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Blora resmi masuk dalam daftar sembilan daerah usulan Kawasan Industri (KI) baru Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Langkah ini digadang-gadang sebagai strategi pemerataan ekonomi ke wilayah timur sekaligus mengakselerasi hilirisasi berbasis energi gas.
Wakil Ketua DPRD Blora Siswanto menegaskan, Blora tak lagi sekadar daerah penyangga, melainkan diproyeksikan menjadi pusat industri berbasis gas bumi.
“Kawasan Industri Blora dirancang berbeda. Basisnya gas, bukan sekadar manufaktur umum,” ujarnya.
Potensi itu ditopang cadangan gas dari Blok Gundih dan Blok Cepu yang dikelola Pertamina bersama mitra strategis.
Hilirisasi gas diproyeksikan menyasar sektor pupuk, petrokimia, hingga pembangkit listrik mandiri kawasan industri.
“Investor padat energi butuh suplai gas stabil. Blora punya itu,” tegas Siswanto yang juga Ketua Asosiasi DPRD Kabupaten Kota Seluruh Indonesia.
Tak hanya energi, Blora mengandalkan konektivitas. Ada Bandara Ngloram yang menopang mobilitas eksekutif dan teknisi.
Jalur kereta api ganda di Cepu juga terhubung langsung ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan Tanjung Perak Surabaya. Distribusi bahan baku dan ekspor-impor dinilai makin efisien.
Dari sisi lahan, hampir 50 persen wilayah Blora berupa hutan produksi. Melalui skema kerja sama pemanfaatan lahan dengan Perhutani, pemerintah daerah menyiapkan kawasan siap bangun tanpa persoalan pembebasan lahan berlarut.
Faktor lain yang jadi daya tarik adalah ongkos tenaga kerja. UMK Blora 2026 diproyeksikan Rp 2.383.928, jauh di bawah kawasan industri di Jawa Barat yang tembus di atas Rp 5 juta. SDM pun ditopang keberadaan PPSDM Migas sebagai pusat pendidikan migas nasional.
Baca Juga: Doplang Jadi Desa AI, Siswanto Sarankan Gali Potensi dengan Kreativitas
Masuknya Blora dalam peta KI Jateng diharapkan memicu transformasi ekonomi. Targetnya jelas: serap ribuan tenaga kerja lokal dan dongkrak kesejahteraan masyarakat. “Momentum ini tak boleh lewat,” pungkas Siswanto. (hul/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko