RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Cuaca ekstrem, termasuk hujan deras dan angin kencang diperkirakan masih akan melanda berbagai wilayah di Indonesia hingga akhir bulan Januari, termasuk di Jawa Timur. Peluang pembentukan awan hujan yang meningkat memicu pengaruh cuaca tersebut, dan berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologis.
Menurut Plt. Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani, peluang cuaca ekstrem lebih banyak terjadi di sisi selatan Indonesia. Selain masih ada Monsun Asia yang berhembus di wilayah Indonesia, bibit siklon 97S sedang bergerak di Samudra Hindia sisi selatan.
“Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatra hingga Nusa Tenggara, yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” jelas Andri dalam rilis resmi BMKG Selasa (20/1).
Selain dua faktor tersebut dan kelembapan udara tinggi, banyak faktor alam lain yang turut mendukung terbentuknya awan hujan, utamanya awan kumulonimbus yang juga menyebabkan angin kencang dan terciptanya petir. Yakni aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Equator, dan Gelombang Kelvin di wilayah selatan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi (Stamet) Juanda Jawa Timur, Taufiq Hermawan juga menambahkan, seluruh gelombang udara tersebut juga banyak melintasi atmosfer Jawa Timur. Selain itu, suhu muka air laut juga masih berperan banyak dalam membentuk awan hujan, dengan potensi puncak curah hujan diperkirakan turun pada Minggu (25/1) dan Senin (26/1).
“Suhu muka laut perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan, serta kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang,” jelas Taufiq dalam rilis lembaga.
Pun demikian, baik Andri maupun Taufiq sama-sama mewati-wanti bahwa cuaca masih bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Sehingga masyarakat tetap perlu waspada dan memantau perkembangan cuaca harian sebelum beraktivitas. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana