RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Jelang akhir tahun, potensi cuaca ekstrem masih menyelimuti wilayah Jawa Timur. Tentu hal ini dapat membahayakan, karena selain adanya potensi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, banyak pula wisata alam di Jatim yang bergantung pada keadaan cuaca agar tetap beroperasi.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda menyebut bahwa selain bibit siklon 93S masih hinggap di selatan Pulau Jawa dan Bali, ada pula badai yang berada dekat dengan perairan Jawa Timur. Sehingga potensi hujan deras, angin kencang dan petir masih tinggi di Jawa Timur.
“Potensi cuaca ekstrem ini merupakan dampak aktifnya monsun Asia serta adanya bibit siklon tropis 93S di sekitar Samudra Hindia sebelah selatan Jawa Barat yang berdampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca khususnya di wilayah Jawa Timur berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dan peningkatan ketinggian gelombang di perairan Jawa Timur,” jelas Kepala BMKG Stamet Juanda, Taufiq Hermawan pada Sabtu (20/12) melalui rilis resmi OPD tersebut.
Untuk mengantisipasi faktor cuaca ekstrem tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) membentuk Posko Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak awal Desember. Pada Minggu siang (21/12), Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung posko tersebut untuk memastikan kinerja optimal, termasuk untuk mitigasi bencana hidrometeorologi.
Selain itu, Gubernur Khofifah juga meninjau kesiapan teknis dan koordinasi lintas sektor dalam upaya pengurangan risiko bencana hidrometeorologi. OMC sendiri bermarkas di Base Ops Pangkalan Udara TNI AL (Lanudal) Juanda, dan terbentuk dari gabungan antara Pemprov Jatim, BPBD Jatim, Lanudal Juanda, BMKG, serta PT Milan Pillery Bersatu.
“BMKG menyampaikan bahwa puncak hujan di bulan Desember sebesar 20 persen, sedangkan puncak tertinggi terjadi pada Januari mencapai 58 persen dan Februari 22 persen. Proses modifikasi cuaca ini adalah bagian dari ikhtiar agar hujan lebat tidak menimbulkan dampak yang tidak kita inginkan,” jelas Gubernur Khofifah dalam keterangan resmi BPBD Jatim.
Gubernur Khofifah juga menambahkan, kegiatan OMC dilaksanakan dengan pendekatan ilmiah. Jadi, penentuan titik persemaian awan tidak dilakukan secara asal-asalan, namun bersifat dinamis, mengikuti pergerakan awan yang terpantau melalui radar cuaca.
Menurut pantauan laman FlightRadar24, setiap pesawat milik OMC melaksanakan operasi modifikasi cuaca sebanyak dua hingga tiga kali dalam sehari. Yakni sekali pada siang hari, dan sekali pada sore hari, serta tambahan pada pagi hari jika diperlukan.
“Misal tadi pertama berangkat pukul setengah 12 siang, titik awan berada di bagian selatan. Nanti pukul setengah 2 siang, geser ke bagian utara. Tentu semua akan termonitor dari pergerakan awan,” jelas Khofifah.
Kru OMC sendiri menggunakan bahan kapur kalsium oksida (CaO) dan garam dapur (natrium klorida, NaCl) untuk melakukan modifikasi cuaca tersebut. Sehingga Gubernur Khofifah menjamin modifikasi cuaca tersebtu aman untuk lingkungan.
“OMC bukan bertujuan untuk membuat hujan tiba-tiba, melainkan agar hujan tidak turun terlalu deras di suatu tempat. Sehingga bisa mengurangi resiko banjir, tanang longsor dan bencana lainnya,” tambah Khofifah.
Mengutip dari Antara, hingga Sabtu (20/12), tim OMC telah menyelesaikan 30 sortie penerbangan modifikasi cuaca di beberapa wilayah Jawa Timur dengan total jam terbang 62 jam 24 menit. Sepanjang penerbangan tersebut, OMC menggunakan sekitar 14 ton kapur CaO dan 16 ton garam. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana