RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Masyarakat Indonesia tentu ingat bahwa kemerdekaan Indonesia diraih setelah berjuang melawan pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II. Namun mungkin masyarakat lupa jika ada seorang tokoh militer Jepang yang punya andil dalam proses proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Tentu, ada tokoh-tokoh yang juga berandil secara tidak langsung dalam proses tersebut, misal Jenderal Kuniaki Koiso yang pertama kali menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Atau Marsekal Hisaichi Terauchi yang meneruskan kabar bahwa pemerintahan Jepang merestui kemerdekaan Indonesia melalui pertemuan di Da Lat, Vietnam.
Namun ada satu tokoh yang lebih dekat dan penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Yakni Laksamana Muda Tadashi Maeda, yang rumahnya dijadikan tempat penulisan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus malam hari.
Laksamana Maeda berasal dari kota Kajiki, prefektur Kagoshima, dengan latar belakang keluarga keturunan samurai. Ayah Maeda bekerja sebagai kepala sekolah di wilayah tersebut.
Semada muda, Maeda bergabung dengan akademi militer angkatan laut Jepang sebagai navigator. Maeda mengawali karir di staf angkatan laut dengan pangkat Letnan Satu pada 1930.
Awalnya, Maeda bekerja sebagai anggota staf khusus hubungan diplomatik Eropa milik AL. Kemudian dia ditugaskan di Markas AL Ominato di kota Mushu, prefektur Aomori selama dua tahun.
Setelah menjadi ajudan untuk Laksamana Zengo Yoshida dan Kiyoshi Hasegawa, Maeda ditugaskan ke tanah Eropa sebagai atase atau diplomat AL Jepang di Belanda. Pada Oktober 1940, Maeda datang ke Batavia (sekarang Jakarta) untuk pertama kali dalam rangka menyelesaikan perdagangan minyak antara Jepang dan Hindia Belanda.
Di samping urusan perdagangan, Maeda juga ditugaskan untuk membangun jaringan mata-mata di Indonesia. Maeda merekrut seorang manajer toko waralaba di Batavia asal Jepang, Shigetada Nishijima sebagai intelnya sekitar 1941.
Setelahnya Maeda kembali ke kantor hubungan diplomatik Eropa di Jepang, sementara Nishijima mulai membentuk jaringan dengan tokoh nasionalis Indonesia. Setahun kemudian setelah pendudukan Belanda di Indonesia berhasil dipatahkan pasukan Jepang, Maeda kembali ke wilayah Nusantara.
Awalnya dirinya ditugaskan ke Papua untuk mengatur operasional AL di wilayah tersebut, namun setelah pemerintah pendudukan Belanda berhasil diusir dari Batavia, pada Agustus 1942 Maeda diangkat sebagai Kepala Kaigun Bukanfu, yakni badan intelijen AL yang juga menghubungkan AL dengan pasukan pendudukan Jepang.
Menurut catatan Direktorat Sejarah Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek dalam buku ‘Sayonara, Saudara Tua!’, Maeda kerap membuat kebijakan yang pro-Indonesia. Bahkan Maeda berani melanggar perintah angkatan perang sekutu dan Jepang, yang memerintahkan agar status quo (kekosongan kekuasaan) di Indonesia dipertahankan hingga pasukan sekutu datang. Sebaliknya, Maeda memberi ruang gerak untuk tokoh-tokoh nasionalis dalam memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur politik.
Setelah Jenderal Kuniaki Koiso naik sebagai Perdana Menteri Jepang dan menjanjikan kemerdekaan Indonesia pada Oktober 1944, Laksamana Maeda membentuk Asrama Indonesia Merdeka sebagai persiapan mencari bibit muda pemimpin bangsa. Nishijima yang kini sudah akrab dengan Achmad Soebardjo, dan intel lain rekrutan Maeda, Tomegorou Yoshizumi menjadi asisten Laksamana Maeda dalam pendirian sekolah.
Pada 16 Agustus 1945, setelah peristiwa Rengasdengklok terselesaikan dengan kembalinya Soekarno dan Mohammad Hatta ke Jakarta, keduanya disarankan oleh Achmad Soebardjo dan para golongan muda untuk pergi ke rumah Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol no. 1. Tadinya mereka berencana menyusun naskah di Hotel des Indes, namun hotel sedang dalam keadaan tutup.
Karena Laksamana Maeda merupakan anggota angkatan laut dengan kekebalan militer, rumah miliknya secara hukum juga merupakan wilayah angkatan laut Jepang yang dilarang diintervensi angkatan darat yang kala itu melakukan penjagaan ketat. Selain mengkonfirmasi bahwa Jepang telah menyerah dalam Perang Dunia II, Laksamana Maeda juga mempersilakan rombongan Soekarno untuk menyusun naskah proklamasi kemerdekaan.
Akhirnya, Laksamana Maeda dan Nishijima juga turut menjadi saksi proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Laksamana Maeda juga membantu menyebarkan berita kemerdekaan dengan meminjamkan mesin fotokopi milik kantor AL untuk menggandakan teks proklamasi, agar dapat disebar di penjuru kota Jakarta.
Sayangnya, Laksamana Maeda tidak dapat menjadi saksi berkembangnya Indonesia dalam waktu lama. Di akhir 1945 dirinya bersama Nishijima ditangkap oleh pasukan Sekutu karena membangkang terhadap perintah menjaga status quo sepanjang pendudukan Jepang, kemudian diadili pengadilan militer Jepang pada 1947.
Meskipun dinyatakan tidak bersalah, Laksamana Maeda memilih keluar dari tugas militer usai diadili. Maeda melanjutkan hubungan baik dengan Soekarno dan pemerintahan Indonesia, terutama di bidang perminyakan hingga akhir hayatnya pada 13 Desember 1977.
Sebelum dipanggil ke hadapan Yang Maha Kuasa, pemerintah Indonesia masih sempat memberikan penghargaan Bintang Jasa Nararya pada tahun 1973, yang diterima Maeda secara pribadi di Indonesia. Selain itu, kini kediamannya diabadikans ebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana