RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di usia 25–30 tahun, banyak orang mulai mengalami titik balik dalam hidup. Tiba-tiba ingin resign dari pekerjaan, meninggalkan kota tempat tinggal, atau bahkan memulai ulang semuanya dari nol.
Bukan karena impulsif, tapi karena ada sesuatu dalam diri mereka yang terasa tidak lagi pas. Fenomena ini dikenal dengan istilah Quarter Life Exit, sebuah bentuk pelarian atau pencarian ulang makna hidup yang sering kali terjadi di masa dewasa awal.
Bukan Sekadar Bosan: Tentang Rasa Terjebak dalam Hidup yang Tak Sesuai Harapan
Banyak dari kita tumbuh dengan ekspektasi bahwa usia 25-an adalah masa panen pencapaian—karier mapan, keuangan stabil, dan hubungan yang bahagia.
Namun, realitasnya sering kali berbeda. Tekanan dari standar sosial yang tinggi membuat seseorang merasa gagal walau sebenarnya sedang tumbuh. Di sinilah muncul perasaan terjebak dalam rutinitas yang tak lagi memberi gairah.
Quarter Life Exit adalah manifestasi dari konflik batin itu. Bukan semata ingin kabur, tapi karena ada dorongan untuk menemukan arah baru.
Mereka yang merasakannya mulai berpikir bahwa tinggal di kota kecil saja bisa memberi ketenangan, atau bekerja di bidang yang sesuai passion mungkin lebih menentramkan meski gajinya lebih kecil.
Pindah Kota, Resign Mendadak, hingga Mulai Lagi dari Nol: Apa yang Sebenarnya Dicari?
Yang dicari sebenarnya bukan tempat baru atau jabatan baru—tetapi rasa memiliki kendali atas hidup sendiri. Banyak orang merasa hidupnya dikendalikan oleh ekspektasi luar, bukan oleh pilihan pribadi.
Ketika tekanan itu memuncak, satu-satunya cara yang terasa masuk akal adalah dengan mengulang dari awal: keluar dari pekerjaan, pindah ke kota yang jauh, bahkan memulai profesi berbeda.
Fenomena ini juga banyak dipicu oleh kejenuhan emosional akibat burnout. Alih-alih mengambil cuti panjang, mereka memilih cuti hidup total.
Ada juga yang merasa kehilangan identitas karena hidup terlalu lama di jalur yang bukan miliknya. Maka, berpindah menjadi semacam ritual pembaruan—melepaskan yang lama demi menemukan versi diri yang lebih jujur.
Psikolog: Ini Bentuk Katarsis yang Wajar, Asal Tidak Lari Tanpa Arah
Menurut psikolog klinis, fenomena seperti ini bisa jadi bagian dari proses katarsis emosional. Dalam fase peralihan dewasa, penting bagi seseorang untuk mengevaluasi apakah hidup yang dijalani benar-benar sesuai nilai dan keinginan diri. Namun, Quarter Life Exit bisa menjadi problematik jika dilakukan secara impulsif, tanpa rencana yang matang.
Apalagi di era media sosial, migrasi karier dan pindah kota kerap dibungkus dalam narasi estetik—seolah-olah itu keputusan mudah dan menyenangkan.
Padahal, proses adaptasi dan tantangan barunya juga tidak sedikit. Maka penting untuk mengenali motifnya: apakah ini bentuk self-liberation atau justru bentuk avoidance dari masalah yang tak terselesaikan?
Tips: Jika Kamu Merasa Ingin Reset Hidup, Lakukan Ini Terlebih Dulu
-
Tulis alasanmu — Bedakan mana keinginan sesaat dan mana kebutuhan jangka panjang.
-
Evaluasi kondisi finansial dan support system — Apakah kamu siap secara mental dan logistik?
-
Coba dulu perubahan kecil — Seperti WFH dari kota lain, atau ambil kelas bidang baru sebelum total berpindah.
-
Temui mentor atau konselor karier — Minta perspektif dari orang yang lebih berpengalaman.
-
Berani jujur soal perasaan diri sendiri — Karena hidup bukan lomba cepat-cepat stabil, tapi perjalanan menemukan makna.
Penutup: Tak Semua Perubahan Harus Heboh, yang Penting Tulus dan Jelas Tujuannya
Quarter Life Exit bukan aib, bukan kegagalan. Justru, bisa menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih selaras dengan diri sendiri. Tapi pastikan kamu berpindah bukan karena kabur, melainkan karena tahu ke mana ingin melangkah. Di dunia yang terus berubah, keberanian untuk mulai ulang bukan kelemahan, tapi bentuk kedewasaan. (kam)
Editor : Hakam Alghivari