Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Gelombang Panas Mengancam Kesehatan, Hoax atau Fakta?

Hakam Alghivari • Rabu, 22 Mei 2024 | 22:00 WIB
Ilustrasi Heatwave.
Ilustrasi Heatwave.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sudah lama mewanti-wanti perihal peningkatan suhu atau serangan gelombang panas (heatwave) yang melanda wilayah Asia. Asia merupakan daerah yang dominan dilanda cuaca ekstrem.

Asia mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Pemanasan global meimgkat hampir dua kali lipat sejak periode 1961-1990. Dalam laporan kondisi iklim di Asia pada tahun 2023, WMO menyatakan, faktor-faktor perubahan iklim seperti suhu permukaan, penyusutan gletser, dan kenaikan permukaan laut, yang akan berdampak besar bagi masyarakat, perekonomian, dan ekosistem dikawasan Asia ini.

Dengan keluarnya pernyataan WMO tersebut, banyak warga Asia Selatan dan Asia Tenggara dilanda gelombang panas yang dapat mengancam kesehatan masyarakat. Banyak pemimpin negara di Asia yang mengimbau masyarakatnya untuk tetap berhati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Karena dikabarkan heatwave kali ini sangat tinggi hingga dapat mengancam kesehatan. Seperti contohnya di Thailand, pihak berwenang menyatakan 30 orang tewas akibat serangan panas (heatstroke) sepanjang tahun ini.

Suhu di Bangkok sempat mencapai 40,1 derajat celsius dengan indeks panas yang melebihi 52 derajat celsius. Di Bangladesh, sekitar 33 juta anak-anak terkena dampak gelombang panas (heatwave), menurut badan amal Save The Childreen.

Panas juga menghantam India, WMO mengatakan, serangan gelombang panas di wilayah yang sama ini pernah terjadi di tahun sebelumnya. Gelombang panas yang menghantam India pada bulan April dan Juni menyebabkan 110 orang warga meninggal akibat serangan panas.

Ribuan sekolah di Filipina, menangguhkan kelas tatap muka. Menurut PBB, dikutip dari The Guardian, separuh dari 82 Provinsi di Filipina mengalami kekeringan dan hampir 31 provinsi lainnya menghadapi musim kemarau atau kondisi kering.

Para ahli menyebut, kerusakan ikim memicu cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas lebih sering melanda dan suhu rata-rata dunia makin naik. Salah satu faktor pemicu perubahan ekstrem iklim ini adalah aktivitas manusia, terutama penggunaan berlebih bahan bakar fosil yakni, BBM dan batu bara. (cha/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#Perubahan Iklim #WMO #Gelombang Panas Asia #heatwave