LAMONGAN, Radar Lamongan - Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Lamongan mendata luas tanam tebu periode 2019- 2020 ada 3.250 hektare. Tahun ini, 3.500 hektare. Kasi Perkebunan Dinas TPHP Lamongan Suryo Putro menjelaskan, di wilayah Sambeng terjadi penurunan lahan tebu. Sebelumnya sekitar 500 hektare, kini hanya 400 hektare. Dia memerkirakan luas lahan tanaman tebu tahun depan tidak ada kenaikan. Alasannya, sebagian petani memilih tanam palawija yang pola tanamnya lebih dari dua kali. “Kalau tebu hanya sekali panen, karena itu sebagian petani melakukan pola tanam berkelanjutan,” jelasnya.
Suryo mengatakan, pola tanam berkelanjutan diterapkan agar cadangan tebu selalu ada setiap musim. Petani biasanya melakukan tanam tebu ketika usia tebu yang sebelumnya masuk panen. Setelah tebu semua tebang, maka tebu yang ditanam bisa langsung tumbuh. Menurut Suryo, biasanya petani memilih memberikan jarak tanam. Sehingga masing-masing tebu bisa tumbuh dengan baik. Suryo menambahkan, selama ini sebagian besar petani memanfaatkan lahan Perhutani untuk tanam tebu. Ada beberapa pengembangan di wilayah tengah Kabupaten Lamongan, tapi tidak berhasil karena kondisi tanahnya. Tebu membutuhkan jenis tanah khusus. Biasanya di lereng gunung. Dia berharap pemerintah pusat tetap melakukan stabilisasi harga gula supaya petani tebu Lamongan tetap konsisten. “Alhamdulillah tahun ini harga tebu cukup baik bahkan rendemen terendah tetap dibeli Rp 65 ribu per kuintal, semoga tahun depan tetap dipertahankan,” harapnya.
Editor : Khorij Zaenal Asrori