Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Perjamuan Kata-Kata dengan Membaca Puisi dan Geguritan

M. Yusuf Purwanto • Rabu, 22 Desember 2021 | 20:31 WIB
Perjamuan Kata-Kata dengan Membaca Puisi dan Geguritan
Perjamuan Kata-Kata dengan Membaca Puisi dan Geguritan

Pandemi sejenak menghentikan Purnama Sastra. Begitu merindu hingga akhirnya helatan sastra dan budaya itu kembali digelar di bekas sekolah rakyat di Desa Samberan, Kecamatan Kanor. Malam itu, malam sastra.


PURNAMA tidak menunjukkan sinarnya pada Sabtu malam (17/21). Tak banyak bintang gemintang. Namun, purnama dengan mengusung sastra budaya jatuh di Desa Samberan, Kecamatan Kanor. Purnama hanya “nongol” dalam hiasan backdrop, meski tak bersinar.
Sampai di pelataran lokasi acara, backdrop hitam menjadi penghias sederhana. Beberapa orang berbaur dengan jajanan pedesaan. Karpet menghiasi altar acara dibalut kesederhanaan dalam malam purnama. Duduk sejajar menandakan kesamaan.
Siswoyo dengan wajah tegak berdiri di tengah panggung pagelaran. Membacakan pengantar kepada pengunjung Purnama Sastra. Lelaki penggerak sastra itu mengatakan, menggerakkan sastra tidak mudah, butuh konsistensi bergandengan dengan berbagai pihak, salah satunya antarkomunitas.
Jatuhnya Purnama Sastra di kediaman kepala desa menjadi oase bagi pegiat sastra dan budaya. Tidak hanya dari Bojonegoro, Purnama Sastra ini juga menjadi magnet pegiat sastra dari luar daerah untuk hadir duduk bersila. Mulai pegiat dari Surabaya, Madura, Kediri, Nganjuk, Tuban, hingga Lamongan, berkumpul menjadi satu dalam ruang bekas sekolah rakyat tersebut. Dari unsur pemerintah desa dan masyarakat sekitar, turut memeriahkan panggung sastra.
Agus Sighro pemandu acara mulai menunjuk satu per satu peserta ingin tampil di panggung Purnama Sastra. Berbagai macam puisi memenuhi ruangan tidak cukup besar tersebut. Karya puisi dibacakan mulai dari tokoh sastra terkemuka hingga karya pribadi. Belbagai latar belakang dan usia anak-anak, muda, hingga usia tua.  
Purnama Sastra ke 60 tersebut bertajuk Membaca Diri, Membaca Ruang. Arif Rahman selaku Kepala Desa (Kades) Samberan turut membacakan puisi karya Mustofa Bisri (Gus Mus). Baginya, sastra dapat melembutkan hati pembacanya. Itulah mengapa ia memberikan ruang kepada komunitas sastra di Bojonegoro.
“Orang belajar sastra pasti mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekitar,” terangnya.
Arif meyakini dengan sastra, pemuda yang nakal di desa dapat diketuk hatinya. Sehingga kenakalan tidak sampai parah. Terlebih jika bisa tersalurkan dengan sastra, salah satunya membentuk karya sastra sendiri. “Mas Timur Budi Raja (salah satu sastrawan) yang mengajak saya membuat acara ini,” ujarnya.
Malam itu, seperti perjamuan kata-kata bagi pelaku dan penikmat sastra. Agus Sigro mengungkapkan acara bertajuk Membaca Diri, Membaca Ruang, menjadi tema yang saklek dengan tujuan Purnama Sastra. Yakni, mendekatkan sastra kepada masyarakat. Sehingga masyarakat mempunyai rasa memiliki. “Dari sana kemudian lahir sastrawan-sastrawan baru di Bojonegoro,” terangnya.
Purnama Sastra ini untuk menggerakan napas peradaban sastra agar lebih berumur panjang. Bergandengan antarkomunitas menjadi kunci bagi para penggerak purnama sastra. Sehingga tercipta iklim sastra berkembang. Memunculkan sastrawan-sastrawan baru menjadi agenda dilakukan ke depan. “Harus ada kritik antar karya sastra, dan itu mengharuskan munculnya sastrawan baru,” tegas pria memakai baju adat jawa tersebut.
Pembacaan puisi ditutup dengan geguritan dibawakan Gampang Prawoto. Pegiat Pamursadi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) itu membacakan dengan suara meleking dan merdu di telinga.
Pungkasan diakhiri dengan diskusi Membaca Diri, Membaca Ruang. Menggerakkan sastra di kabupaten terkenal sebagai penghasil padi terbanyak ketiga di Jawa Timur.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#bupati bojonegoro #anna mu’awanah #bok #bojonegoro #sastrawan #Sekolah Rakyat