BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Suara sorak begitu kencang ketika layang-layang naga sepanjang sekitar 40 meter mengudara. Anggi dan dua temannya menahan sekuat tenaga dengan tali yang sukar dikendalikan.
Sekira tiga menit, barulah layang-layang naga naik lebih tinggi, tenang, dapat dikendalikan kemarin (4/10) anak-anak Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, riang di ladang yang tak ada tanaman. Mereka menikmati permainan tradisional ini agar tidak kecanduan ragam game online di smartphone. Anggi menyadari game online tidak baik jika berlebihan.
“Mata rasanya panas jika terlalu lama main HP. Saya dan temanteman sempatkan sore hari ke sawah main laying-layang, supaya mata segar lagi,” tuturnya di lokasi. Anggi dan teman-temannya hanya bermain game online ketika luang. Tidak terus menerus. Sejak Agustus, dia dan temantemannya mulai menerbangkan layang-layang. Seiring kemarau gerakan angin mendukung untuk mencapai titik tinggi.
Layanglayang dipilihnya berbentuk naga. Dibuat bersama melibatkan 14 anak. Hampir seluruhnya siswa SMP. “SD hanya sedikit. Kelihatannya cuma tiga,” ujarnya. Setiap menerbangkan layanglayang, Anggi mengatakan banyak pengendara lewat Jalan Desa Tanjungharjo-Kedaton berhenti sejenak melihat layang naga mengular di udara. Begitu pun masyarakat setempat riang membawa balita.
“Mereka berhenti, melihat dari atas motornya sambil gendong anak atau bayi. Kami sering difoto dan divideokan,” tutur Anggi. Indra juga mengaku bangga bisa membuat layang-layang naga. Tidak semua anak bisa melakukannya. “Rata-rata buat layang-layang naga itu orang dewasa. Anak-anak jarang sekali,” ujarnya di sela menerbangkan layang-layang.
Permainan layang-layang di pinggir jalan itu menarik perhatian warga berdatangan. Peluang itu dimanfaatkan sejumlah pedagang turut berjualan. Santen, salah satu pedagang lumpia mengaku turut ambil peluang dengan adanya keramaian itu. “Berjualan di sini, sediakan jajanan untuk orang-orang ingin ngemil sambil menonton layang-layang,” tuturnya dengan senyum. (sab)
Editor : Bachtiar Febrianto