Radar Bojonegoro - Desa Kedaton Kecamatan Kapas dikenal dengan pandai besinya. Usaha itu sudah berlangsung turun temurun. Kini, sudah mencapai generasi ketiga. Setidaknya ada 24 pandai besi di di desa itu. Produknya tidak hanya diminati dalam daerah, namun juga luar pulau Jawa.
Seorang pria paro baya tengah memukul-mukul besi panas menyala merah. Kemudian mencelupkanya ke air. Lalu diangkat dan dipukul lagi.Dipanaskan lagi di api yang membara. Begitulah proses membuat sebuah golok, cangkul, sabit atau perkakas besi lainnya. Proses itu disebut mandai. Yakni, proses menempa besi agar bisa dibuat perkakas pertanian.
Itulah suasana bengkel pandai besi milik Sriatun dan Masrum di Desa Kedaton Kecamatan Kapas. Di desa itu dikenal banyak pandai besinya. Setidaknya ada 24 pandai besi yang masih aktif di desa itu.
Saat Jawa Pos Radar Bojonegoro berkunjung akhir Ramadan lalu, kebetulan tidak banyak yang masih mandai. Sebagian besar libur. Maklum sibuk persiapan lebaran. Hanya Sriatun dan Masrum yang masih mandai saat itu.
Setiap hari mereka selalu sibuk menempa besi karena banyak pesanan. Bahkan, saat puasa Ramadan pun tidak libur. Mereka bekerja penuh sampai sore. ‘’Jam 5 sore baru berhenti. Banyak pesanan setiap hari,’’ ujar Sriatun.
Pesanan tidak hanya dari Bojonegoro, tidak jarang pesanan malah datang dari luar Jawa. Seperti Kalimantan dan Sulawesi. Terakhir, dia menerima pesanan ratusan perkakas pertanian, mulai cangkul, sabit, golok, dan gancu dari Kalimantan. Banyaknya pesanan itu dikerjakan selama 32 hari tanpa libur. ‘’Itu satu truk. Lalu dikirim ke Kalimantan,’’ tuturnya.
Selain pesanan langsung, juga ada pesanan tidak langsung dari para penjual. Setiap hari tidak kurang dari 40 barang terjual. Hal itu membuatnya hampir tidak pernah libur mandai. Meskipun puasa mereka tetap mandai. ‘’Libur hanya kalau ada acara penting. Kalau tidak ada yang setiap hari mandai,’’ tutur wanita 57 tahun itu.
Sriatun dan suaminya menjadi pandai sejak 30 tahun silam. Sebelumnya, pandai yang pandai besi adalah bapak Sriatun. Dia memang berasal dari keluarga pandai besi. Sriatun adalah negeri ketiga pabdai besi di keluarganya. Setelah kakek dan bapaknya.
Sriatun memiliki dua saudara. Namun, semua saudaranya hanya Sriatun yang menggeluti pandai besi.Dua saudaranya bekerja di luar kota. ‘’Saudara saya hidup di Surabaya. Satunya jadi polisi,’’ tuturnya.
Di pandai besi, Sriatun tidak bertugas di bagian menempa besi. Dia di bagian membuat gagang atau pegangan sabit dan golok. Dia membuatnya dengan cekatan. Tidak sampai 30 menit ada 20 gagang yang dia selesaikan. Dia tidak mengukirnya secara manual. Namun, menggunakan alat. Sraitun hanya cukup mendekatkan pisau tatahnya ke kayu yang berputar itu, maka secara cepat kayu akan berbentuk dengan sendirinya. ‘’Gagang itu terbuat dari kayu jati. Kayunya dari Dander,’’ tuturnya.
Dalam menjalankan pandai besi ini, Sriatun dan Masrum dibantu dua anaknya. Mereka bertugas menghaluskan hasil pandai dengan cara digerinda. Peralatan pandai besi juga sedikit modern. Sriatun menggunakan palu elektronik. Palu itu memukul-mukul besi yang masih merah menyala. Kemudian, masrum suami Sriatun tinggal menyempurnakan saja. ‘’Alat itu baru setahun saya beli. Untuk memudahkan kerja,’’ ungkapnya.
Pandai besi tidak pernah sepi. Itu karena sering dibutuhkan orang. Mulai ibu-ibu hingga petani. Sriatun mendatangkan besi dari Surabaya. Dia memakai besi apa saja. Namun, ada besi yang lebih bagus. Yakni, besi dari suspense mobil. ‘’Jika dijadikan pisau bisa sangat tajam,’’ jelasnya.
Ramainya usaha pandai besi membuat berbagai bank menawarkan pinjaman. Namun, Sriatun dan suaminya tidak pernah tergiur. Sebab, dia masih belum membutuhkan banyak modal. ‘’Saya masih belum mau meskipun yang menawarkan ke sini banyak sekali,’’ ujarnya.
Editor : Indra Gunawan