Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Pembudidaya Buktikan Jika Kualitas Air Bojonegoro Cocok untuk Ikan Koi

Indra Gunawan • Selasa, 5 Januari 2021 | 21:00 WIB
Pembudidaya Buktikan Jika Kualitas Air Bojonegoro Cocok untuk Ikan Koi
Pembudidaya Buktikan Jika Kualitas Air Bojonegoro Cocok untuk Ikan Koi

Ahmad Ridwan menyulap embung desa menjadi tambak ikan koi. Sebanyak 10 ribu ekor ikan koi hidup di tambak di Desa Mayangkawis, Kecamatan Sukosewu. Budidaya ini sekaligus kampanye agar merawat embung.


BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro


Airnya begitu tenang. Kehijauan menandakan keasrian embung. Terawat, tak ada sampah berserakan. Embung di Desa Mayangkawis, Kecamatan Sukosewu, itu pun terkesan tersenyum dengan kealamiannya. Embung tersebut bukan hanya menjadi tempat menampung air. Tapi, menjadi akuarium dengan terdapat ribuan ikan menggelepar. Embung yang terdapat jala-jala penyekat itu menjadi rumah bagi 10 ribu budidaya ikan koi.


Saat Jawa Pos Radar Bojonegoro berkunjung di embung tersebut, seorang pemuda sedang duduk santai di saung. Mengajak mendekat ke embung yang terdapat pembatas berupa tanah (galengan). Ketenangan embung itu pun mendadak menjadi kegembiraan, saat Ahmad Ridwan itu menyebar pakan ikan.


Hanya berselang sedetik, ikan koi pun muncul ke permukaan. Berebut memakannya. Begitu menyenangkan, ikan didominasi warna merah itu pun seakanakan sulit dihitung karena jumlahnya ribuan. Wawan menginisiasi embung milik desa itu menjadi sentra budidaya ikan koi.


Di kalangan pecinta ikan koi, Wawan sudah begitu akrab karena bukan pemain baru di dunia ikan koi. Wawan mulai hobi merawat ikan koi sejak 2003 silam. Kemudian, aktif membudidaya ikan koi sejak 2008. Karena kecintaannya pada ikan koi, membuat Wawan menguasai karakteristik ikan koi. Tinggal tak jauh dari embung, Wawan pun bergerak ketika melihat ada air melimpah. Mendapat respons pemerintah desa, bersama warga setempat, kolaborasi membudidaya ikan koi. “Kami mulai budidaya ikan koi di embung desa ini sekitar satu setengah tahun lalu,” tutur Wawan.


Embung seluas 350x70 meter itu ada sekitar 10 ribu ekor ikan koi. Ukuran dan jenisnya beragam. Seperti ikan koi jenis kohaku, sanke, showa, shiro, dan utsuri. Bagi Ridwan, tak sekadar membudidaya di embung. Seba liknya budidaya ini sekaligus bagian merawat alam. Serta edukasi agar masyarakat menjaga embung. Serta tidak lagi mengobati atau menyetruk ikan di sungai atau embung-embung desa.


Wawan juga membuktikan apabila embung dan kualitas air di Bojonegoro, ini ternyata cocok untuk budidaya ikan koi. Sehingga, tidak menutup kemung kinan Bojonegoro memiliki potensi menjadi wilayah sentra ikan koi. Dan potensinya bisa menyamai Blitar sebagai produsen terbesar ikan koi di Indonesia.


“Kalau tahu ilmunya, budidaya ikan koi tentu lebih menjanjikan daripada budidaya ikan konsumsi. Karena ikan koi termasuk komoditas internasional. Target pasar juga jelas,” ujar pria asli Lamongan itu. Menjual ikan koi bukan berdasar kuantitas, melainkan kualitas. Jadi harga ikan koi paling murah Rp 50 ribu per ekor. Lalu, harga tertingginya tidak terbatas.


Tetapi sejauh ini, Wawan pernah menjual ikan koi paling mahal seharga Rp 6 juta per ekor. Motif dan warna ikan koi menjadi incaran para pehobi. Wawan optimistis budidaya ikan koi menjanjikan ke depannya.


Bahkan, dia berani meninggalkan pekerjaan utamanya yang mana sudah ia jalani selama 15 tahun sebagai operator excavator. Pemasaran ia jalankan paling sering menggunakan Facebook. Ada banyak jenis ikan koi ia tawarkan seperti kohaku, sanke, showa, shiro, utsuri, dan masih banyak lagi.

Editor : Indra Gunawan
#bojonegoro