BOJONEGORO - Raut wajah Heru Nur cemas pagi itu. Suhu dingin membuatnya batuk. Dua telapak tangannya kerap mendekup dada menahan batuk. Kalau sudah tak tahan, dia membuka jendela kamar untuk meludah. Pagi yang dingin pula membuatnya enggan beranjak dari kasur. Sebab, saat pagi dingin datang, penyakit warga yang tinggal dekat tepi Sungai Bengawan Solo itu kambuh.
Dokter memvonisnya mengidap gangguan paru-paru sejak usia 31 tahun. Sesuai titah dokter pula, dia diminta berhenti merokok. Tapi, karena sulit bebas dari kecanduan rokok, Heru selalu mencuri waktu untuk merokok. Biasa dia menghisap sebatang rokok saat gangguan penyakitnya reda. Sejak didera penyakit paru-paru, dia menenggak berbutir-butir obat setiap hari.
Di Kabupaten Bojonegoro, Heru tidak sendirian. Di sana banyak juga pecandu rokok mengidap penyakit serupa. Di kabupaten populer dengan terdapat lapangan minyak dan gas (migas) ini, rokok menjadi pembunuh diam para pecandunya.
Sebab, sepanjang 2017, bukan satu atau dua nyawa melayang akibat merokok. Data RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, mencatat ada 98 pasien meninggal dunia akibat mengidap penyakit jantung, kanker paru, tuberkulosis (TB) paru, dan hipertensi. Empat jenis penyakit ini kerap diidap para perokok.
Selama 2017, sebanyak 31 pasien menderita kanker paru. Dan, akhirnya delapan pasien meninggal dunia. Sedangkan, dari 285 pasien TB paru, sebanyak 64 pasien mengembuskan napas terakhirnya.
Di RSUD berada di Jalan Veteran itu, selain TB paru dan kanker paru, juga terdata 24 pasien meninggal. Mereka adalah bagian dari 166 pasien penyakit jantung menjalani perawatan di rumah sakit pelat merah tersebut. Sedang, dari 173 penderita hipertensi, dua pasien meninggal dunia.
Humas RSUD dr Sosodoro Djatikoeosoemo Thomas Djaja mengatakan, ancaman kematian akibat rokok bisa terulang pada tahun ini. Sebab, menurut data RSUD itu, ada 6 pasien penderita jantung yang meninggal, dari total 155 pasien jantung yang menjalani perawatan. Sementara, dari 163 pasien TB paru, 52 pasien meninggal dunia. Data acuan RSUD itu sejak Januari hingga 15 Juli 2018.
Selain dua penyakit tadi, selama enam bulan terakhir, RSUD setempat juga merawat 14 penderita kanker paru dan 41 pasien penderita hipertensi. “Itu penyakit akibat rokok. Itu dilihat dari data. Tapi, itu hanya di RSUD saja. Yang meninggal banyak. Melihat angka itu sangat bahaya,” katanya.
Thomas menjelaskan, pasien menderita penyakit katastropik di RSUD punya beragam keluhan. “Ada pasien tidak pernah berobat, tapi saat diperiksa kondisi jantungnya sudah buruk,” jelasnya.
Gangguan jantung dialami pasien juga diperparah kebiasaan mereka merokok. Sementara, jelas Thomas, kebiasaan merokok juga memicu besarnya biaya pengobatan untuk penyakit diderita. “Biaya (pengobatan) justru besar (daripada merokok). Justru pemerintah kalang kabut seperti itu,” ujar dokter spesialis gigi tersebut.
Melihat angka tersebut, kata Thomas, sudah sebaiknya pemerintah mengendalikan rokok. Terutama dengan menaikkan harga rokok agar masyarakat enggan membeli. Selain memahalkan harga rokok, pemerintah daerah, menurut Thomas, perlu menerapkan peraturan daerah (perda) tentang kawasan tanpa rokok (KTR).
“Kenapa kalau urusan merokok tidak serius (membahasnya),” lanjut dia.
Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, setiap hari poli penyakit dalam RSUD dr Sosodoro Djatikosoemo, tampak antrean pasien penderita sakit paru. Karena itu, dia mengimbau pasien yang kontrol di poli penyakit dalam untuk tegar menjauhi merokok.
“Perlu ada pengendalian rokok. Beberapa bulan lalu, kami juga diundang mengikuti rapat membahas rokok di pemkab. Yang datang juga dari pusat (kementerian). Dan, mengisyaratkan perlunya ada pengendalian rokok,” katanya.
Editor : Bachtiar Febrianto