Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bangunannya Tetap Kukuh, Menlu Belanda Kunjungi Waduk Prijetan

Bachtiar Febrianto • Rabu, 4 Juli 2018 | 13:20 WIB
Bangunannya Tetap Kukuh, Menlu Belanda Kunjungi Waduk Prijetan
Bangunannya Tetap Kukuh, Menlu Belanda Kunjungi Waduk Prijetan












LAMONGAN - Menteri Luar Negeri (Menlu) Belanda, Stephanus Abraham Blok, dijadwalkan berkunjung ke Lamongan rabu (4/7). Salah satu agendanya, melihat kondisi Waduk Prijetan, yang konon merupakan peninggalan nenek moyangnya. Waduk selalu meninggalkan cerita sejarah kala pembangunannya. Apalagi, waduk tersebut berdiri sejak zaman penjajahan. Sejarah akan lekat dalam setiap puing bangunannya.




Salah satunya, Waduk Prijetan. Bangunan yang tulisannya Wadoek Pridjetan itu terletak di selatan wilayah Kabupaten Lamongan. Tepatnya Desa Tenggerejo, Kecamatan Kedungpring. Bangunan penampung air itu menjadi satu - satunya waduk peninggalan Belanda yang masih utuh dan memberikan sejuta penghidupan bagi masyarakat di sekelilingnya.



Waduk Prijetan memiliki bendungan sepanjang 460 meter (m), 300 m kali induk, 5.176 saluran primer, dan 21.594 m saluran sekunder. Selain itu, memiliki dua waduk lapangan. Yakni Waduk Sentir Tenggerejo dan Waduk Kalen.



Waduk Prijetan dibangun di atas lahan pertanian seluas 231 hektare. Kapasitas volume air waduk mencapai 12 juta meter kubik (m3).  Waduk tersebut mampu mengairi 4.513 hektare lahan pertanian di Kedungpring, Sugio, dan Modo.



Koordinator dan Juru Bendung Waduk Prijetan Lamongan, Tulus, mengatakan, pertanian masyarakat sekitar mengandalkan waduk. Ketika volume waduk berkurang, secara otomatis petani tidak bisa memulai musim tanam.



Menurut Tulus, Waduk Prijetan lima tahun terakhir mengalami sedimentasi (pendangkalan). Saat ini, volume waduk hanya tersisa sekitar 7 juta m3. Hal itu berdampak pada pola pertanian masyarakat di sekitarnya. Jika sebelumnya pola tanam tiga musim padi, maka sekarang, dua kali tanam padi dan sekali palawija.



Dia menjelaskan, ketika volume waduk berada pada rata - rata 40 per 80 m3 per hari, maka pintu waduk tidak diperbolehkan dibuka. Tujuannya, perendaman bendungan. Apabila salah satu celah bendungan terbuka dan terisi air,  maka saat musim hujan bisa berakibat longsor. “Teori tersebut berlaku untuk seluruh waduk dan bendungan dimanapun,” ujarnya.



Waduk boleh dibuka bila volume air 41 per 90 m3 per hari. Posisi tidak aman waduk ketika ketinggian air hanya 49 m.



Waduk Prijetan hanya mengalami satu kali pengerukan pada 2009 dengan kedalaman sekitar 3 meter. Setelah itu, waduk peninggalan Belanda ini tidak mendapat perawatan lebih selain perbaikan sejumlah akses menuju bendungan.



Waduk Prijetan mampu mengeluarkan air sekitar 700 liter per detik dengan mekanisme buka - tutup selama sepuluh hari sekali. Pelayanan pintu waduk menyesuaikan kebutuhan di lapangan. Sehingga masing-masing UPT mengajukan ke perwakilan penjaga pintu.



Mantan Juru Pengamanan Waduk Prijetan, Hudi, menuturkan, seluruh operasional waduk masih menggunakan peralatan peninggalan Belanda. Mulai dari alat buka - tutup waduk, alat untuk menyalurkan air ke beberapa sungai, serta alat untuk mengatur pembuangan air dari waduk. Alat-alat serta bangunannya masih sangat kukuh. Pemerintah hanya melakukan sedikit perbaikan sarana prasarana.



Waduk Prijetan dibangun di bawah kepemimpinan empat petinggi negara. Yakni Tuan Dligur, Birman, Deles, dan Ireng. Waduk Prijetan yang berusia sekitar 102 tahun, itu proses pengerjaannya dulu selama delapan tahun. Salah satu istri dari petinggi proyek pengerjaan, Mrs. Dligur meninggal di Lamongan dan dimakamkan di dekat waduk.


Editor : Bachtiar Febrianto
#waduk #lamongan