Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Evelyn Kristiana dan Lala Ummah, Hobi Makan Jadi Ladang Bisnis

Bachtiar Febrianto • Selasa, 5 Juni 2018 | 12:05 WIB
Evelyn Kristiana dan Lala Ummah, Hobi Makan Jadi Ladang Bisnis
Evelyn Kristiana dan Lala Ummah, Hobi Makan Jadi Ladang Bisnis

BOKS - Setiap pekan dua perempuan itu disibukkan menjadi reviewer makanan dari berbagai resto. Selain me-review, mereka juga tawarkan jasa paid promote dan endorse kepada para pengusaha kuliner di Bojonegoro. Modalnya akun Instagram bertema kuliner yang sudah memiliki 10,5 ribu pengikut.


semangat generasi milenial memang tak bisa dibendung kalau urusan mengeksplorasi media sosial. Contohnya ialah dua perempuan muda asal Bojonegoro, yakni Evelyn Kristiana dan Lala Ummah. Keduanya begitu lihai memilih sudut untuk mengambil gambar makanan agar terlihat menggoda. Bermodalkan kamera mirrorless dan akun Instagram, mereka berdua punya banyak klien dari kalangan para pengusaha kuliner di Bojonegoro.


Ketika ditemui di salah satu kafe di pusat kota Bojonegoro, Jawa Pos Radar Bojonegoro hanya bisa menemui satu di antara mereka yakni Evelyn, sapaan akrab Evelyn Kristiana. Malam itu, terlihat dia duduk sambil menikmati secangkir teh hangat, sesekali dia menggeser-geser layar ponselnya. Ketika dihampiri, dia pun menyambut dengan ramah dan mulai berbasa-basi sedikit. Karena, dia baru saja selesai me-review salah satu makanan di salah satu kafe yang berada di wilayah Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro.


Evelyn pun bercerita awal mula debutnya sebagai seorang food enthusiasts. Dia mengatakan awalnya tentu karena hobi, lalu dia dipertemukan dengan dua kawan, yaitu Melva dan Lala Ummah. Hingga akhirnya membuat sebuah akun Instagram yang memuat foto-foto kuliner di Bojonegoro beserta ulasan tiap menu makanannya. “Kami bikin akun itu sudah 1,5 tahun yang lalu, kami lebih suka dibilang foodies atau food enthusiasts, karena skalanya kecil hanya di Instagram, selain itu kami juga ingin kontribusi memajukan usaha kuliner di Bojonegoro,” ujar gadis asal Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Bojonegoro itu.


Namun, seiring berjalannya waktu, salah satu kawannya Melva mulai sibuk dan ingin fokus kuliah. Sehingga, Evelyn dan Lala yang makin mengembangkan proyek kecil-kecilannya itu. Hingga pada akhirnya, kini jumlah pengikutnya mencapai 10,5 ribu orang. “Itu semua pengikut asli, itu hasil konsistensi kami memberikan informasi seputar kuliner kepada warga maupun pendatang di Bojonegoro,” tuturnya.


Awalnya, mereka tentu modal sendiri, main dari kafe ke kafe, resto ke resto, lalu mencicipi berbagai manu makanan, kemudian difoto, dan diunggah di akun yang mereka kelola. Tanpa disebutkan namanya, akun tersebut tidak punya kompetitor yang berimbang dari segi jumlah pengikut, jadi mudah ditemukan ketika mencari di Instagram.


Sehingga modal akun berpengikut 10,5 ribu orang tadi mulai dilirik para pengusaha kuliner di Bojonegoro. Para pengusaha ingin dipromosikan oleh mereka lewat akun Instagram-nya. Tetapi, uniknya, mereka di Bojonegoro hanya saat akhir pekan saja. Sebab, mereka masih kuliah di Universitas Surabaya (Unesa). “Kami masih kuliah di Surabaya, semester akhir, jadi kami sempatkan akhir pekan pulang ke Bojonegoro apabila ada klien,” ujar mahasiswi jurusan pendidikan teknik elektro Unesa itu. Mereka tawarkan berbagai jasa terdiri atas endorse, review, dan paid promote.


Tarifnya dirahasiakan, namun apabila diakumulasi selama satu bulan, minimal Rp 500 ribu. Hasilnya pun tetap ditabung guna nongkrong di kafe atau resto yang sedang hit biar bisa nge-review secara jujur. “Kami tetap punya sisi idealis main ke suatu resto atau kafe tanpa dibayar untuk memberikan review yang jujur,” ujarnya. Karena, awal debut mereka, semua review-nya jujur, tidak ada tendensi.


Di sisi lain, mereke juga memfasilitasi para pehobi kuliner di Bojonegoro apabila butuh referensi atau pun rekomendasi aneka makanan. Mereka ingin pertumbuhan ekonomi lewat usaha kuliner juga semakin pesat. Karena, secara pribadi, Evelyn menilai beberapa kafe atau resto di Bojonegoro banyak yang timbul dan tenggelam. Karena menurutnya, sebagian besar masih mengandalkan tren,  jadi ketika tren makanan atau minuman itu turun, otomatis usahanya juga ikut gulung tikar. “Paling penting tentunya mengedepankan kualitas menu makanan,” tuturnya. Sudah tak terhitung ada berapa kafe atau resto yang mereka kunjungi. “Setiap ada menu baru, pasti undang kita soalnya buat me-review,” katanya.


Sementara itu, ketika diundang ke salah satu kafe, biasanya masih banyak yang mengira kalau mereka itu komunitas. Sehingga, bisa disimpulkan masih banyak orang Bojonegoro yang belum sadar akan keberadaan foodies. 

Editor : Bachtiar Febrianto
#boks #bojonegoro