Mengelola hotel dan resto berarti mengelola dua lidah. General Manager Mahkota Hotel Lamongan, Rusdi, menyatakan, seorang koki harus bisa menempatkan dirinya sesuai dengan lokasinya. Pengunjung hotel banyak didominasi orang luar daerah. Sehingga karakter masakannya harus lebih mengutamakan khas daerahnya.
Sedangkan untuk resto, rata - rata pengunjungnya orang lokal. Maka cita rasa disesuaikan dengan kebutuhan. Sehingga, tidak menutup kemungkinan untuk resto seluruh menu dari berbagai negara bisa masuk. Contohnya, Western, Japanese Food, Chinese Food, hingga Javanese Food.
Sebagai koki senior yang mengawali karir sejak 1988, Rusdi merasa tidak ada yang berubah. Bagi dia, karakter lidah orang Indonesia sebenarnya sama, terutama Jawa. Menu khas rempah-rempah selalu menjadi andalan. Bumbu - bumbu memasak itu tidak diperolehnya dari luar. Dia terbiasa mengkombinasikan bumbu dengan tangannya sendiri. Karena itu akan menjadi karakter seorang koki. “Kecuali menu barat, biasanya lebih mengandalkan sesuatu yang segar dengan sentuhan saus dan keju,” tuturnya.
Di hotel yang memiliki resto itu, dia dibantu Bayu Cahya Praditya. “Baru enam bulan, dan alhamdulillah diterima masakan saya,” ujarnya.
Menurut Bayu, setiap tempat baru memberikan pengalaman berbeda baginya. Apalagi menjadi seorang koki. Pengalaman kerja sangat menentukan. Ketika koki puas dengan satu tempat, berarti dia tidak ingin berkembang. Sebab tempat baru akan menambah ilmunya. Hampir setiap daerah memiliki karakter lidah yang berbeda.
‘’Itu tantangan berarti sebagai seorang koki,” tutur koki yang sebelumnya pernah bekerja di Kalimantan dan Surabaya tersebut.
Editor : Bachtiar Febrianto