FEATURES - Raut wajah Widi gelisah. Sesekali dia meneguk air mineral di tangan kanannya. Setelah itu, botol plastik tersebut diletakkan kembali. Namun, Widi tetap tak bisa tenang. Diambilnya kipas yang ada di dekatnya. Digerak – gerakkannya kipas itu. Sesekali dia menggeser sedikit tubuhnya. Udara di ruangan tersebut terasa panas bagi Widi.
Tak jauh dari lokasinya duduk, Chandra melakukan cek sound. Pemegang alat musik slenthem itu ingin memastikan suara yang keluar dari sound sesuai keinginannya.
Sementara Erwin sudah siap bersama alat tabuhannya. Dia bertugas memainkan gendang. Sedangkan Rama, memersiapkan bonang babok untuk mengiringi sang pesinden. Vebri dan Catur berdiskusi untuk menyatukan nada dari alat musik saron.
Pada bagian lain, Diva, yang menjadi vokal seperti Widi, menurut ketika wajahnya dirias. Dia tidak terlalu memerhatikan sekitarnya. Ketika ditanya, jawabannya tidak banyak. Bagi Diva, menjadi vokal karawitan sangat menantang. Selain dirinya tidak memiliki basic sebelumnya, dia harus bisa menunjukkan karakter suara tinggi. “Proses latihannya cukup rutin, tapi dilakukan di rumah,” tuturnya.
Anak – anak itu bagian dari anggota grup karawitan besutan SDN Sumbersari, Kecamatan Sambeng. Mereka terdiri atas 10 pemegang alat musik dan tiga vokal. Sekolahnya, kelas IV dan V. Anak – anak tersebut bersiap mengikuti perlombaan.
Sebelum perlombaan dimulai, para anggota karawitan itu saling melontarkan candaan. “Mungkin dengan bercanda bisa menghilangkan gugupnya,” tutur kepala SDN Sambeng, Santriman.
Ketika pembinanya memberi isyarat dengan hitungan ketiga, grup itu memainkan gamelannya. Sumantri, kepala UPT Sambeng, menuturkan, wilayah selatan sangat kental dengan karawitan. Namun, pelaku karawitan selama ini rata-rata sudah tua. Akibatnya, musik karawitan kian jarang terdengar.
Anak - anak yang tergabung karawitan tersebut awalnya ditunjuk. Mereka kemudian dilatih secara otodidak. Ternyata, anak – anak itu cukup mudah dalam memahami nada. “Hanya perlu dikenalkan tiga empat kali, sudah bisa hafal,” tuturnya.
Dalam latihan, Sumantri tidak mewajibkan anak - anak terpaku pada satu lagu. Mereka hanya dikenalkan not nada dulu. Setelah itu, dibebaskan bermain sesukanya. Sebab, nada-nada tersebut akan mengalir menyesuaikan ritmenya. “Itu alasan kenapa grub karawitan ini bisa menang,” lanjutnya.
Bahkan, dalam menghadapi perlombaan, grup karawitan ini hanya berlatih dua kali satu minggu dalam tempo dua bulan. Dengan keberhasilan menjuarai jenjang kabupaten, grup karawitan ini bakal mewakili Lamongan maju ke pekan seni pelajar provinsi tahun depan.
Editor : Bachtiar Febrianto