LAREN – Meski banyak terdapat bibit cabai varitas baru, petani di Dusun Tlogorejo Desa Gampangsejati, Kecamatan Laren masih mempertahankan bibit cabai lokal atau dikenal dengan bibit cabai Sundari. Alasannya, kualitas bibit cabai lokal itu dinilai lebih bagus dibanding bibit dari luar. ‘’Dari dulu ya menggunakan bibit cabai lokal yang sudah turun temurun dari nenek moyang,’’ tutur seorang petani cabai di desa setempat, Sholeh kepada Jawa Pos Radar Lamongan jumat (30/3).
Menurut dia, cabai lokal Dusun Tlogorejo memiliki rasa yang lebih pedas dan tidak gampang membusuk. Juga sudah pernah dibandingkan dengan cabai lainnya. ‘’Kami sudah amati, jika cabai di sini lebih tahan lama, dibanding cabai lainnya,’’ ungkap dia. Namun, diakui Sholeh, kondisi tanah juga mendukung kualitas cabai. Sebab bibit cabai Dusun Tlogorejo pernah dikembangkan di kecamatan lain, tapi kualitasnya masih di bawah tanaman cabai yang ditanam di dusun tersebut.
‘’Selain bibit, kondisi tanah juga mempengaruhi kualitas cabai. Kebetulan disini cocok dan mayoritas petani mempertahankan menanam cabai itu,’’ ujar pria yang sebagian rambutnya mulai memutih tersebut. Menurut dia, untuk mendapatkan bibit cabai itu, setelah dipetik, petani akan melakukan sortir.
Sebagian besar dijual atau dikonsumsi, dan sebagian digunakan untuk bibit. Sebelum ditanam, akan dijemur hingga kering dan disimpan di lemari es agar bisa digunakan untuk musim tanam berikutnya. ‘’Setiap tahun ya seperti itu. Seluruh warga masih senang mempertahankan bibit lokal,’’ ujar pria yang juga menjadi ketua gabung kelompok tani (gapoktan) itu.
Editor : Muhammad Suaeb