Di tengah redupnya minat baca dari kalangan generasi muda, Ninda Sintiyah Rachmawati justru memberikan gebrakan baru dengan meluncurkan buku motivasi. Dengan berbekal sedikit ilmu jurnalistik, sebuah kumpulan cerita patah hati berhasil dibukukan dan terbit April 2017.
------------------------------------
RIKA RATMAWATI, Bojonegoro
------------------------------------
Sesaat ketika motor diparkir di sebuah halaman masjid di Desa Pacul Bojonegoro, seorang dara manis mengenakan baju ungu senada dengan kerudungnya keluar menuju serambi masjid. Senyum ramah tersungging ketika bertemu. Tanpa canggung Ninda mengajak berdiskusi mengenai kesibukannya.
’’Maaf ya bertemunya di masjid, karena ini paling dekat dan tenang,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro, Minggu (3/12).
Ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro menemui sosok Ninda, tidak banyak informasi bisa digali. Mungkin, kabar terakhir mengenai sosoknya yang belum lama ini telah meluncurkan buku motivasi untuk kalangan remaja. Tepatnya pada April 2017. Buku tersebut diterbitkan setelah melalui proses panjang penulisan sejak September 2016. Dara kelahiran Semarang 13 Juni 1995 ini berencana untuk membedah buku pertamanya berjudul “Let’s Move on” tapi masih terkendala waktu.
Kesibukannya sebagai mahasiswa semester lima salah satu perguruan tinggi swasta Bojonegoro cukup padat. Karena dia merupakan mahasiswa aktif, sehingga waktunya hampir habis dengan jadwal kampus dan kegiatannya sebagai guru les privat.
Dalam waktu dekat, dia harus mengurungkan niatnya untuk melakukan bedah buku. Karena persiapan untuk melakukan bedah buku membutuhkan proses panjang dan waktu lama. Supaya pesan dalam buku tersebut bisa tersampaikan kepada pembaca. Di tengah penantiannya itu, dia sudah merencanakan untuk menulis sebuah novel.
Tema romantis masih menjadi pilihan untuk novelnya nanti, prosesnya masih mengumpulkan judul. Biasanya, tahapan menulisnya dimulai dengan penyusunan judul kemudian disusul dengan tulisan-tulisan pendek menyesuaikan dengan judulnya.
Setelah itu, setiap judul disusun sesuai dengan tema cerita, baru kemudian disalinnya ke format buku. Tema romantis memang menyedot perhatiannya, selain mengisahkan pengalaman pribadi. Melalui buku, dia ingin memberikan pesan motivasi kepada setiap pembaca.
Kebiasaan menulis sudah digelutinya sejak duduk di bangku SMP. Kala itu dia didapuk sebagai ketua OSIS di sekolahnya. Sehingga dia kerap diminta untuk menghadiri berbagai seminar dan pelatihan, salah satunya pelatihan jurnalistik. Bahkan dia selalu diminta melaporkan setiap kegiatannya tersebut di hadapan guru dan teman-temannya. Akhirnya dia menjadi terbiasa menyusun kata-kata untuk menyampaikan berbagai pelaporan (reportase). Karena kebiasaan itu membuatnya semakin nyaman, bahkan Ninda merasa tenang setelah meluapkan perasaannya dalam sebuah tulisan.
Sejumlah cerpen dan tulisan reportase berhasil menghiasi surat kabar nasional, di antaranya Jawa Pos Radar Bojonegoro. Tulisan-tulisan ringan mengenai perjalanan dan pengalaman itu akhirnya dibukukan April lalu, diterbitkan oleh RWTC Bogor.
Menulis merupakan hobi baru baginya. Karena sebelumnya dia sudah akrab dengan sejumlah buku bacaan bernafas Islam dan roman. Dengan begitu, dia mulai menggali bakat lain sehubungan dengan kebiasaan membacanya. Karena, baginya, tidak banyak hal bisa dilakukan dan memberikan manfaat untuk orang lain. Sehingga, dia mulai memikirkan untuk membuat sebuah buku motivasi pengalaman pribadi.
Tidak ada niatan untuk menggurui, karena buku itu disusun berdasarkan sejumlah testimoni. Bahkan, ratusan coretan editor sudah menjadi makanan sehari-hari sebelum tulisan berhasil dibukukan. Meski diakuinya, kemamuan menulisnya masih sangat buruk dibandingkan para penulis lain, tetapi dengan tekad kuat akhirnya buku pertama bisa diterbitkan.
’’Tidak ada peluncuran khusus, hanya dibagi ke teman-teman dan dosen prodi,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara tersebut.
Setelah buku di cetak sebanyak 35 buah, Ninda sempat bingung buku tersebut akan dibuat apa. Sehingga, dia membagi-bagikan buku tersebut kepada teman dan dosennya. Beruntungnya teman-temannya memang mendukung dan menerima buku tersebut. Bahkan, selang 1,5 bulan buku tersebut laku terjual, meski pembelinya tidak lain saudaranya sendiri. Tetapi, keteguhannya itu memang layak diberikan apresiasi, karena akhir tahun ini dia berencana untuk melakukan cetakan kedua.
Dalam benak Ninda, menulis sudah menjadi nafas baginya. Dimana dia bisa meluapkan semua keluh kesahnya, bahkan tidak sedikit dari curhatan temannya bisa menjadi sumber inspirasi. Sehingga, dia memang berkomitmen untuk terus memperbaiki tulisannya. Dia tidak pernah ragu untuk bertanya kepada dosen atau penulis lain untuk menambah ilmu jurnalistiknya. Baginya, menulis merupakan koreksi diri dan ke depannya bisa berkaca dari tulisan tersebut.
Editor : Bachtiar Febrianto