PROFESI seniman rias atau kerap disebut make-up artist (MUA) memang banyak digandrungi oleh kaum hawa. Salah satunya Mitha Della Karina, perempuan asal Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro. Dia menekuni profesi tersebut sejak lulus SMA karena ketidaksengajaan.
Berawal dari gagalnya masuk universitas yang dicita-citakan, Mitha, sapaan akrabnya, pun diarahkan orang tuanya untuk kursus tata rias dan busana.
“Awal dari karir saya terbentuk karena ketidaksengajaan. Awalnya saya dituntut keluarga untuk melanjutkan sekolah di jurusan farmasi atau teknik geologi geodesi,” ujar alumnus siswi SMAN 2 Bojonegoro 2013 itu. Namun, pada 2013, Mitha ternyata gagal lolos dan diminta mencoba lagi di tahun depan.
Proses menunggu pembukaan pendaftaran universitas butuh waktu yang lama. Dia pun merasa kurang aktivitas, sehingga lebih banyak berdiam diri di rumah.
Sehingga, orang tua Mitha menyarankan untuk ikut kursus atau hal lain yang positif guna mengisi kekosongan.
“Akhirnya saya didaftarkan di kursus yang sangat singkat di bidang make up, padahal saya tidak pernah make-up dan bukan pencinta make up,” tuturnya.
Tapi, selain itu, Mitha pada dasarnya sedari kecil gemar melukis, menggambar baju, dan juga sering mendesain baju sendiri ketika akan mengikuti lomba fashion, ketika masih duduk di bangku SMA.
Dari semua ketidaksengajaan itu mulailah rasa suka dengan dunia make up dan fashion design. Hingga pada akhirnya, atas persetujuan dari pihak keluarga, Mitha pun mengurungkan niatnya meneruskan jenjang pendidikannya, dia mengambil keputusan menekuni bidang rias dan busana tersebut.
Keputusan yang dia ambil sangat bulat, dia pun berkomitmen bisa mempertanggungjawabkan segala keputusannya. Lantaran, Mitha sama sekali tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.
“Saya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua saya, karena saya tahu harapan terbesar orang tua adalah melihat anaknya sukses, apa pun pekerjaannya selagi itu halal,” tegasnya.
Menurut dia, setelah mengarungi perjalanan karirnya, ternyata sukses tidaknya seseorang tidak pernah diukur dari seberapa tinggi pendidikannya.
Karena, imbuh dia, sukses tidaknya seseorang hanya bisa diraih dengan tanggung jawab, doa, dan ikhtiar untuk bisa menjadi seorang yang lebih baik dari sekarang.
“Jadi, apa pun pendidikan kalian, apa pun pekerjaan kalian, selama kita bertanggung jawab pasti akan bebuah indah,” ujarnya.
Editor : Bachtiar Febrianto