PERLAHAN tapi pasti, SMAN 4 Tuban terus menuju pendidikan berbasis E-Learning secara sempurna. Siswa kini kian akrab dengan informasi dan teknologi (IT). Siswa juga terus difokuskan untuk memanfaatkan gadget, internet, dan jejaring sosial sebagai media pembelajaran. Mulai pembelajaran harian, ulangan, tugas sekolah, ujian tengah semester (UTS), ujian akhir semester (UAS), hingga Ujian Nasional (UN).
Kepala SMAN 4 Tuban Drs. H. Suparlin, M.Ed didampingi Waka Kurikulum Indra Sagita mengatakan, sejak pertengahan 2016, sekolah di Jalan Mondokan Nomor 1 itu sudah memulai pembelajaran menggunakan konsep E-Learning.
Pembelajaran pada siswa dibuat enjoy dengan menggunakan gadget. Baik laptop, tablet, maupun ponsel. ‘’Untuk siswa tidak mampu, kami fasilitasi laboratorium komputer,’’ tutur Indra.
Remaja zaman sekarang, dikatakan Indra, tidak bisa dilepaskan dari teknologi. Sehingga pembelajaran menggunakan teknologi akan membuat siswa nyaman dan menyenangkan.
Selain itu, kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa lebih fleksibel. Jika guru berhalangan mengajar di kelas, tugas akan tetap diberikan melalui media sosial yang terkoneksi antara siswa dan guru. Untuk tugas, siswa bisa tidak lagi sepenuhnya mengandalkan buku kertas.
Melainkan bisa mengunduh langsung melalui website sekolah dan aplikasi yang sudah dibuat.
Indra mengatakan, kini lima puluh persen pembelajaran sekolah menggunakan digital. Separonya menggunakan kertas manual.
Buku kertas kini, menurut Indra, sifatnya hanya sebagai pendamping pembelajaran saja.
Untuk penugasan, kini siswa hanya perlu membuka internet dan membuka website sekolah. Berikutnya tugas pun cukup dikirim e-mail maupun aplikasi.
Ditambah, bagi siswa yang membutuhkan referensi bacaan tidak perlu membawa puluhan buku perpustakaan untuk dibawa pulang.
Siswa cukup mengakses website dan aplikasi sekolah, sudah bisa membaca ratusan e-book.
‘’Jadi kami maksimalkan gadget pada siswa untuk pembelajaran yang menyenangkan dan memintarkan.
Biar siswa siap menghadapi era digitalisasi yang kian pesat,’’ tutur pendidik Bimbingan Konseling (BK) itu.
Editor : Bachtiar Febrianto