Tubuh Qoriyah memang tidak muda lagi. Posturnya sedikit membungkuk dan kulitnya semakin keriput tergerus usia. Di balik fisiknya yang sudah rapuh termakan waktu tersebut, Qoriyah masih aktif melakukan kegiatan di ladang, mulai tanam ketela hingga talas. Kemampuannya itu tidak terlepas dari kebiasaannya dalam menjaga tradisi nyusur.
-----------------------------------
RIKA RATMAWATI, Bojonegoro
-----------------------------------
Diiringi rintik gerimis Minggu pagi, (5/11) langkah ini semakin cepat menyusuri genangan air jalanan. Paving yang sedikit rusak membuat sejumlah ruas jalan RT 13, RW4, Dusun Bangle, Desa Bulu, Kecamatan Balen sedikit tidak rata.
Sehingga, setiap pijakan ini harus diatur supaya tidak jatuh pada genangan air. Asap terlihat mengepul dari bilik bambu berukuran 4x5 meter.
Langkah kaki ini kemudian berbelok dan mencari kehangatan asap, karena hujan semakin deras. Dari bilik terlihat perempuan tua mengenakan kebaya hijau lengkap dengan jarik wilisnya.
”Hujan nak, pinarak mriki (masuk sini, Red),” ujar Qoriyah, 84, sembari menggeser posisi duduknya.
Tidak ada hal lain kecuali kehangatan api dari tungku yang mengepul kala itu, kebiasaan ketika hujan turun. Orang desa selalu menyalakan tungku guna melawan angin.
Karena, setiap hujan deras mereka selalu mengkhawatirkan adanya angin besar. Segelas teh hangat disodorkan dihadapan wartawan koran ini. Dengan luwes, Mbah Yah, sapaan Qoriyah, kembali mengambil daun sirih di dekatnya.
Kemudian, dia mulai meracik daun sirih tersebut dengan gambir dan sedikit kapur sirih. Setelah itu, dia membungkus gambir dan kapur sirih dalam lipatan kecil daun sirih. Kemudian, lipatan daun sirih itu mulai diusapkan ke bagian luar bibir dari arah kanan ke kiri.
Diputar-putar lebih kurang tiga kali, kemudian dilanjut diputar di antara ruas-ruas gigi tersisa. Daun sirih terus diputar di mulutnya hingga mengeluarkan warna kemerahan. ”Aku nginang disek (dulu) ya,” ujarnya tanpa mengeluarkan sirih dari mulutnya.
Nginang, tradisi ini tidak banyak diketahui oleh anak generasi 2000-an atau anak milenial. Entah kenapa, tradisi ini benar-benar hilang. Padahal, zaman dahulu hampir seluruh remaja seolah diwajibkan untuk melakukan tradisi tersebut.
Konon, dengan nginang para gadis akan memiliki gigi bersih dan bau nafas lebih segar. Nginang juga bisa menjadikan gigi lebih awet dan tidak keropos karena dimakan oleh ulat. Selain itu, nginang sudah menjadi menu wajib setelah makan.
Bahkan, tak jarang, setelah bekerja dari ladang, suguhan seusai menyantap makanan bukan pisang goreng atau roti bolu, melainkan daun sirih lengkap dengan perangkat nginang.
Dalam tradisi nginang, ada satu perangkat yang tidak boleh ditinggalkan karena berpengaruh pada cita rasanya, yakni tembakau. Tidak bisa dipungkiri bahwa tembakau memang menjadi bagian dari masyarakat sejak zaman penjajahan.
Pasalnya, tembakau tidak hanya di konsumsi oleh kaum laki-laki, melainkan perempuan. Bahkan, kecanduan tembakau tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin. ”Nek mbakone la enak, ngingane yo la enak (kalau tembakau tidak enak, menginang jadi tidak enak, Red),” terangnya.
Orang dengan kebiasaan menginang, ketika berbicara tidak akan bisa melafalkan huruf dengan jelas. Karena mereka terlalu menikmati nginang, sehingga hanya berbicara ala kadarnya dan sedikit cadel. Meski begitu, dia tetap menanggapi setiap pertanyaan yang diajukan.
Bahkan, dia akan menjelaskan secara jelas mengenai keunikan dan cita rasa nginang. Dia selalu menyugesti dirinya, ketika tidak nginang maka mulutnya terasa asam dan akan dikerubungi lalat karena bau. Sehingga, dalam sehari, minimal Mbah Yah akan menginang selama tiga kali, setiap setelah makan.
Bahkan, bisa lebih apabila tembakaunya enak. Untuk tembakau, dia hanya mau tembakau lokal pilihan, jenis net petikan keempat dan kelima. Dengan kisaran harga Rp 100/kg.
Tahapan selanjutnya nyusur, tahapan terakhir dalam nginang. Semula, tidak ada beda dari dua kebiasaan ini. Karena hanya memutar-mutar sesuatu di mulut dan gigi, untuk kenikmatan sesaat. Namun, nikmatnya menginang ialah ketika sudah dicampur dengan tembakau, dan kemudian dikenal dengan istilah nyusur.
Dua istilah berbeda tetapi lebur dalam satu tradisi dan sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Istilah itu hanya sebutan dalam suatu proses, supaya lebih afdol dan nikmat ketika dilakukan.
Kenikmatan nyusur akan semakin terasa ketika kualitas tembakau pilihan. Karena proses terakhir dengan memasukkan tembakau di sela-sela daun sirihlah yang menjadi puncak kenikmatan nginang/nyusur. Setelah tembakau disisipkan, kemudian akan diputar menyusuri ruas gigi, berkali-kali sampai tembakau basah.
Setelah tembakau basah, maka akan dijemur atau diselipkan ke bilik bambu. Setelah itu, ketika akan nyusur, tembakau kembali digunakan. ”Karena tembakau kualitas bagus, jadi bisa digunakan lebih dari dua kali,” terangnya.
Proses nginang hingga nyusur akan memakan waktu lebih kurang satu jam, menyesuaikan kualitas tembakau. Tetapi, manfaatnya bisa dirasakan hingga puluhan tahun ke depan. Dia merasa miris melihat sejumlah anak muda mengeluh giginya sakit karena ngilu atau dimakan ulat.
Bahkan, dengan usia terbilang sangat muda, mereka sudah mengeluh berbagai penyakit. Padahal, nginang ataupun nyusur tidak di telan, tapi efeknya bisa ke seluruh tubuh.
Editor : Bachtiar Febrianto