BOJONEGORO- Suasana di sepanjang Jalan Desa Ngemplak, Kecamatan Baureno terlihat semarak. Meski terik matahari menyengat namun tidak dapat menghalangi ratusan warga mengikuti perayaan sedekah bumi.
Ada beragam jenis acara dalam perayaan tersebut. Salah satunya adalah mengarak gunungan hasil bumi yang biasa disebut dengan buceng oleh masyarakat setempat.
Mereka mengusung gunungan tersebut dari Balai Desa Ngemplak menuju makam Mbah Renggo, leluhur yang menjadi cikal bakal Dusun Wire yang berjarak kurang lebih 4 kilo meter.
Achmad Najib Choiron, tokoh masyarakat yang memprakarsai pelaksanaan nyadran di Dusun Wire mengungkapkan, tradisi nyadran di daerah tersebut dulu pernah hilang. “ Dulu pernah hilang, kami dan warga mencoba melanjutkan kembali tradisi leluhur tersebut.
Alhamdulillah kini sudah berjalan delapan belas tahun. Sementara adanya tradisi mengarak gunungan baru berjalan tiga tahun ini,” jelas Najib.Najib juga menambahkan, bahwa masih ada sebagian warga yang tidak setuju dan menolak tradisi nyadran tersebut.
“Walau ada yang menolak, ke depan kami berharap semua warga bisa menerima, menjaga dan mempertahankan tradisi nyadran ini,’’ pungkas pria yang dipercaya yang masih ada garis keturunan dengan Mbah Renggo tersebut. Terpisah, budayawan Suwarno menyampaikan rasa bangganya atas pelestarian tradisi nyadran di Dusun Wire.
“Saya asli kelahiran Desa Ngemplak ini dan saya bangga sekali melihat perjuangan masyarakat Dusun Wire, Desa Ngemplak ini dalam menjaga dan melestarikan kembali tradisi nyadran disini yang pernah hilang,” papar Nono, panggilan akrab pria yang bertugas sebagai pengawas sekolah di lingkup Dinas Pendidikan ini.
Hadir dalam acara nyadran tersebut beberapa budayawan, diantaranya adalah Burhanudin Joe, Gampang Prawoto dan Aris Hariyanto (Pakdhe Uban).
Para budayawan tersebut hadir dan mengikuti prosesi ritual nyadran dari awal hingga akhir untuk memberikan dukungan terhadap pelestarian tradisi budaya leluhur tersebut.
Editor : Bachtiar Febrianto