RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Harapan Indonesia untuk mencapai swasembada energi kini berada di titik terang. Di tengah ketatnya persaingan cadangan energi dunia, blok migas lepas pantai Kalimantan Timur kembali memberikan "anugerah" besar. Penemuan cadangan gas raksasa di Sumur Geliga-1, Blok Ganal, diprediksi akan menjadi tulang punggung baru bagi ketahanan energi nasional mulai tahun 2028.
Dilansir dari laman resmi Kementerian ESDM, eksplorasi yang dilakukan oleh raksasa energi Italia, ENI (pemegang saham 82%) bersama Sinopec (18%), berhasil mengungkap potensi sumber daya gas yang tidak main-main: 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta cadangan kondensat mencapai 300 juta barel.
Kutai Basin: Ladang Emas Hitam yang Tak Habis-Habis
Penemuan di kedalaman laut 2.000 meter ini bukanlah kebetulan. Sumur Geliga-1 merupakan kelanjutan dari kesuksesan ENI di Cekungan Kutai setelah sebelumnya menemukan cadangan masif di Geng North (2023) dan Konta-1 (2025).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa temuan ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia masih memiliki daya tarik luar biasa bagi investor migas dunia.
Baca Juga: Tanggapi Kelangkaan Gas Melon, Pertamina Klaim Rutin Tambah Pasokan Sepanjang Maret
"Ini adalah anugerah. Kita harus fokus menjalankan perintah Presiden untuk mencari sumber minyak dan gas baru. Penemuan ini berstatus giant (raksasa)," ujar Bahlil saat ditemui awak media di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Target Ambisius: Menuju 3.000 MMSCFD
Pemerintah memproyeksikan lompatan produksi yang sangat signifikan dari wilayah kerja yang dikelola ENI:
-
Tahun 2028: Produksi puncak gas diprediksi menyentuh 2.000 MMSCFD (naik drastis dari level saat ini di kisaran 600-700 MMSCFD).
-
Tahun 2030: Produksi ditargetkan meroket hingga 3.000 MMSCFD.
-
Kondensat: Produksi akan dimulai di angka 90.000 barel per hari (bpd) pada 2028 dan meningkat menjadi 150.000 bpd pada 2030.
Baca Juga: DBH Migas Tahap Dua Bojonegoro 2026 Cair Senilai Rp 141,43 Miliar
Peningkatan produksi kondensat ini menjadi kunci krusial bagi ekonomi makro Indonesia, karena secara langsung akan mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah.
Sinergi Infrastruktur dan Percepatan Monetisasi
Untuk memastikan "harta karun" ini segera dirasakan manfaatnya oleh rakyat, pemerintah mendorong integrasi infrastruktur di kawasan North Hub. Pengembangan ini akan menggunakan fasilitas terapung canggih yakni FPSO (Floating Production Storage and Offloading) baru dengan kapasitas pengolahan 1 miliar kaki kubik gas per hari (bscfd).
Selain infrastruktur baru, proyek ini akan disinergikan dengan fasilitas eksisting yang sudah mapan, termasuk Kilang LNG Bontang. Integrasi ini bertujuan mempercepat proses monetisasi gas dari dasar laut menuju pasar domestik maupun ekspor.
Mengacu pada data Satuan Kerja Khuskus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), percepatan penemuan menuju produksi atau 'Discovery to Production' menjadi prioritas utama untuk menutup defisit gas nasional yang diproyeksikan terjadi jika tidak ada penemuan cadangan baru).
Efek Domino: Geliga dan Gula
Sebelum temuan Geliga-1, Sumur Gula telah lebih dulu menyumbang potensi 2 Tcf gas. Jika dikombinasikan, kedua sumur ini berpotensi menambah produksi nasional hingga 1.000 mmscfd gas dan 90.000 bpd kondensat secara instan.
Baca Juga: Wacana Pelepasan Tiga Lapangan Migas Blok Cepu Wilayah Blora Mencuat
Penemuan di Blok Ganal ini menjadi sinyal kuat bagi investor bahwa iklim investasi hulu migas Indonesia tetap stabil dan menjanjikan. Dengan target operasional penuh pada 2028, Indonesia selangkah lebih dekat menuju swasembada energi yang mandiri dan berkelanjutan.
Bagaimana menurut Anda, apakah penemuan gas "Giant" di Kalimantan Timur ini mampu menekan harga energi domestik secara signifikan dalam lima tahun ke depan? (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko