Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal DME, Cikal Bakal Bahan Bakar Pengganti Elpiji di Indonesia: Lebih Padat, Panas Juga Lebih Rata

Yuan Edo Ramadhana • Selasa, 28 Oktober 2025 | 23:04 WIB
Stasiun pengisian bahan bakar DME. (Dok. AboutDME)
Stasiun pengisian bahan bakar DME. (Dok. AboutDME)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencanangkan rencana yang cukup mengagetkan masyarakat Indonesia. Pada Jumat (24/10), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap rencana penggunaan DME sebagai pengganti bahan bakar LPG alias Elpiji.

Menurut Bahlil sendiri, Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi telah merampungkan konsep dan pra-studi kelayakan proyek produksi DME. Bahlil meyakini, jika percepatan proyek berhasil, DME sudah dapat didistribusikan kepada masyarakat pada 2026 mendatang.

Bahlil sendiri mendorong penggunaan DME untuk menjadi pengganti LPG untuk mengurangi impor LPG, yang berakar dari ketergantungan kebutuhan LPG oleh masyarakat. “Contoh konsumsi LPG kita 8,5 juta ton, kapasitas produksi dalam negeri itu hanya 1,3. Jadi kita impor sekitar 6,5 sampai 7 juta ton,” klaim Bahlil kepada awak media nasional pada Jumat.

Kajian mengenai produksi DME sendiri sudah cukup lama dicanangkan sejak era kepemimpinan presiden sebelumnya, Joko Widodo. Namun halangan dalam proses investasi membuat proyek ini mundur hingga akhir masa jabatan pria yang akrab disapa Jokowi tersebut.

Identifikasi dan tata kelola DME sebagai bahan bakar oleh Pemerintah RI bahkan sudah diakui jauh lebih lama lagi, melalui Permen ESDM Nomor 29 Tahun 2013 yang mengatur tentang penyediaan, pemanfaatan dan tata niaga DME. Beleid tersebut ditandatangani oleh Menteri ESDM saat itu, Jero Wacik yang bekerja pada akhir era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.

DME merupakan singkatan dari Dimetil Eter, yang juga dikenal sebagai eter kayu atau dimetil oksida. DME memiliki rumus kimia CH3OCH3, atau juga bisa disingkat C2H6O. Dalam bentuk murni, DME berbentuk gas tanpa warna dan tanpa bau, dengan karakteristik serupa dengan Elpiji sehingga sama-sama dapat disimpan dalam tabung gas.

DME pertama kali ditemukan di Perancis oleh  Jean-Baptiste Dumas dan Eugene Peligot pada 1835, melalui distilasi metanol dan asam sulfat. Namun seiring waktu, DME juga dapat diproduksi melalui hasil pengolahan limbah biomassa, misal limbah peternakan dan pertanian. DME biomassa biasanya disebut sebagai BioDME.

Namun, DME yang bakal dimanfaatkan sebagai batu bara di Indonesia nantinya berasal dari produksi batu bara berupa coal bed methane (CBM). Nantinya, batu bara akan diubah menjadi gas dan didistilasi menjadi DME. Batu bara, terutama dengan kalori rendah dipilih karena dianggap sebagai bahan baku paling ideal untuk produksi DME.

Berdasarkan arsip Kementerian ESDM tahun 2020, DME mengandung kandungan panas sebesar 7.749 kilokalori per kilogram (Kcal/kg), sementara Elpiji mengandung kandungan panas sebesar 12.076 Kcal/kg. Namun DME memiliki massa jenis atau kepadatan lebih tinggi ketimbang Elpiji, sehingga panas yang dihasilkan lebih merata dan stabil.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Energi Nasional, Dadan Kusdiana, DME juga lebih mudah terurai di udara, dan dapat mengurangi kandungan gas rumah kaca hingga 20 persen ketimbang penggunaan Elpiji.  "Kalau LPG per tahun menghasilkan emisi 930 kg CO2, nanti dengan DME hitungannya akan berkurang menjadi 745 kg CO2,” jelas Dadan, yang pada periode penelitianmasih  menjabat sebagai Kepala Badan Litbang ESDM.

Selain mengasilkan panas yang lebih rata, pembakaran DME juga tidak menghasilkan polusi udara berupa nitrogen oksida (NOx), serta tidak mengandung asam sulfat sebagai produk samping pembakaran. Kemudian, karena rantai hidrokarbon yang dikandung DME lebih pendek dari Elpiji, pembakaran DME juga berlangsung lebih cepat, dengan kata lain lebih mudah dinyalakan menggunakan kompor.

“Pemanfaatan DME 100 persen layak untuk mensubstitusi Elpiji untuk rumah tangga dengan menggunakan kompor khusus DME. Waktu memasak lebih lama 1,1 sampai dengan 1,2 kali dibandingkan dengan menggunakan Elpiji," tambah Dadan dalam laman kajian kementerian tersebut.

Saat ini, DME terkadang digunakan sebagai bahan propelan atau pendorong untuk produk-produk berwujud aerosol, atau lebih dikenal sebagai semprotan. DME umumnya dipakai untuk produk semprotan anti serangga serta produk perawatan rambut. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#joko widodo #polusi #lpg #kementerian esdm #Batu Bara #susilo bambang yudhoyono #DME #panas #elpiji #Produksi #Pertanian #Investasi #menteri esdm #dimetil eter #gas rumah kaca #biomassa #tabung gas #asam sulfat #bahlil lahadalia #kementerian energi dan sumber daya mineral #bahan bakar #migas #memasak #Eter #jero wacik