RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sebelum sempat mengucap sepatah kata pun, sepatu yang kamu pakai mungkin sudah lebih dulu bicara banyak tentang siapa dirimu.
Kira-kira begitulah kesimpulan dari salah satu studi psikologi paling banyak dikutip soal kesan pertama, riset yang membuktikan orang asing bisa menebak usia, gender, penghasilan, hingga kecenderungan kecemasan seseorang hanya dengan melihat foto sepatu yang paling sering ia pakai.
Eksperimen yang Berawal dari Rak Sepatu
Studi berjudul "Shoes as a Source of First Impressions" ini dipimpin psikolog Omri Gillath dari University of Kansas bersama timnya, dan terbit di jurnal Journal of Research in Personality pada 2012. Dalam eksperimennya, para peneliti meminta sekelompok partisipan mengisi kuesioner kepribadian, lalu memberikan foto sepatu yang paling sering mereka pakai.
Selanjutnya, kelompok partisipan lain, yang sama sekali tidak mengenal para pemilik sepatu, diminta menilai 208 pasang sepatu tersebut hanya berdasarkan foto, tanpa tahu siapa pemiliknya.
Hasilnya cukup mengejutkan, tebakan kelompok penilai soal usia, gender, tingkat penghasilan, dan kecenderungan cemas dalam kelekatan (attachment anxiety) pemilik sepatu ternyata cukup akurat, hanya bermodal sepasang foto sepatu.
Sepatu Warna-warni, Tanda Orangnya Lebih Tenang?
Salah satu temuan paling spesifik dari riset ini adalah soal warna sepatu. Menurut Gillath, semakin cerah dan warna-warni sepatu yang dipakai seseorang, semakin rendah kecenderungan kecemasannya dalam berelasi dengan orang lain. Sebaliknya, sepatu dengan warna netral atau kusam cenderung dikaitkan dengan pemilik yang lebih waspada atau cemas secara emosional.
Selain warna, faktor lain seperti gaya (kasual vs formal), kondisi sepatu (baru vs lusuh), dan merek yang terlihat jelas di sepatu, juga ikut memengaruhi kesan yang ditangkap orang lain, mulai dari soal status sosial hingga kepribadian secara umum.
Tapi, Jangan Buru-buru Menilai Orang dari Sepatunya
Meski hasilnya menarik, penelitian ini punya keterbatasan yang penting dicatat. Sampel yang digunakan terbatas pada mahasiswa di lingkungan kampus Barat, sehingga pola yang sama belum tentu berlaku di budaya lain.
Selain itu, penilaian kepribadian pemilik sepatu didasarkan pada laporan diri mereka sendiri (self-report), yang punya potensi bias, bisa jadi seseorang memang secara sadar memilih sepatu tertentu untuk membangun citra diri yang ingin ditampilkan ke dunia, bukan semata cerminan kepribadian aslinya.
Gillath dan timnya sendiri mengangkat pertanyaan itu dalam studi mereka: apakah orang memang sengaja memilih dan memakai sepatu tertentu secara strategis untuk membentuk citra, dan apakah orang lain bisa "menembus" citra yang dibangun itu untuk melihat kepribadian yang sebenarnya? Menurut mereka, pertanyaan semacam ini jadi salah satu isu mendasar dalam psikologi kepribadian dan sosial yang masih terus didalami.
Kenapa Ini Menarik
Temuan ini menunjukkan betapa besarnya peran hal-hal kecil dan tampak sepele, seperti pilihan alas kaki, dalam membentuk kesan pertama orang lain terhadap kita, bahkan sebelum kita membuka mulut. Di tengah dunia yang makin visual, dari media sosial hingga pertemuan tatap muka yang singkat, riset semacam ini jadi pengingat bahwa penampilan bukan sekadar soal gaya, tapi juga soal bagaimana kita "membaca" dan dibaca orang lain secara diam-diam. (kam/bgs)
Sumber: Gillath, O., Bahns, A. J., Ge, F., & Crandall, C. S. (2012). "Shoes as a source of first impressions." Journal of Research in Personality, 46, 423–430.
Editor : Hakam Alghivari