Mengapa Orang Kaya Tidak Selalu Berpakaian Mewah? Psikologi di Balik Cara Seseorang Menunjukkan Stat

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 20:30 WIB
Bob Sadino. (Hipwee.com)
Bob Sadino. (Hipwee.com)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kekayaan sering diasosiasikan dengan pakaian bermerek, jam tangan mahal, atau aksesori yang mencolok. Namun, tidak semua orang kaya memilih menampilkan status ekonominya melalui penampilan.

Sebagian justru terlihat sederhana, bahkan ketika berada di luar rumah. Dalam psikologi sosial, pilihan tersebut dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang status, identitas, dan pengakuan sosial.

Fenomena ini bukan berarti orang kaya tidak menyukai barang mewah. Persoalannya adalah bagaimana seseorang memilih menunjukkan statusnya kepada orang lain.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Cara Berpakaian, Begini Cara Orang Lain Menilai Kepribadian Anda

Dalam ilmu perilaku konsumen, pakaian dan barang yang dikenakan seseorang dapat berfungsi sebagai status signal atau sinyal status. Orang lain menggunakan sinyal tersebut untuk memperkirakan posisi sosial, selera, hingga kelompok yang menjadi bagian dari seseorang. Namun, sinyal status tidak selalu harus terlihat mencolok.

Ketika Kekayaan Tidak Perlu Dipamerkan

Konsep conspicuous consumption diperkenalkan oleh ekonom dan sosiolog Thorstein Veblen melalui bukunya The Theory of the Leisure Class pada 1899. Konsep tersebut menjelaskan perilaku konsumsi yang dilakukan bukan hanya untuk memperoleh manfaat suatu barang, tetapi juga untuk menunjukkan kekayaan dan status.

Pakaian bermerek dengan logo besar, mobil mewah, atau aksesori mahal dapat menjadi contoh sinyal yang mudah dikenali.

Namun, penelitian berikutnya menunjukkan bahwa kelompok konsumen dengan status ekonomi tinggi juga dapat menggunakan cara yang lebih halus.

Han, Nunes, dan Drèze dalam penelitian yang diterbitkan Journal of Marketing pada 2010 menjelaskan bahwa konsumen dengan status berbeda dapat menggunakan sinyal kemewahan yang berbeda. Konsumen dengan status sosial lebih tinggi tidak selalu membutuhkan tanda yang mencolok untuk dikenali oleh kelompok sosialnya.

Baca Juga: Orang yang Benar-Benar Kaya Biasanya Memiliki Pola Kebiasaan Tertentu, Menurut Psikologi

Dengan kata lain, semakin seseorang berada di lingkungan yang sudah memahami kode sosial tertentu, sinyal yang diperlukan untuk menunjukkan status bisa menjadi semakin halus.

Tidak Semua Pakaian Sederhana Berarti Murah

Di sinilah muncul paradoks menarik.
Pakaian yang terlihat sederhana belum tentu murah. Kaos tanpa logo besar, misalnya, dapat berasal dari merek dengan harga tinggi. Begitu pula pakaian yang desainnya minimalis dapat memiliki harga jauh lebih mahal dibandingkan pakaian dengan logo yang mencolok.

Konsep ini berkaitan dengan inconspicuous consumption, yaitu konsumsi yang menunjukkan status secara tidak mencolok. Berger dan Ward dalam penelitian yang diterbitkan Journal of Consumer Research pada 2010 menemukan bahwa konsumen dapat menggunakan sinyal yang sangat halus untuk menunjukkan identitas dan status kepada orang yang memiliki pengetahuan atau selera yang sama.

Artinya, sebuah pakaian mungkin terlihat biasa bagi kebanyakan orang, tetapi justru memiliki makna berbeda bagi kelompok tertentu.

Baca Juga: Psikologi Mengungkap Empat Sikap yang Diam-Diam Dimiliki Orang Kaya

Pakaian Juga Berkaitan dengan Identitas

Cara berpakaian tidak hanya berfungsi untuk menunjukkan kekayaan. Pakaian juga menjadi bagian dari self-presentation, yaitu cara seseorang mengelola bagaimana dirinya ingin dipersepsikan oleh lingkungan.

Seseorang yang memiliki status tinggi mungkin tidak ingin dikenal hanya karena kekayaannya. Ia bisa memilih pakaian sederhana untuk menunjukkan kesan santai, praktis, profesional, atau dekat dengan masyarakat.

Sebaliknya, ada pula orang yang memang menikmati simbol kemewahan dan merasa nyaman menampilkannya.
Tidak ada satu pola yang berlaku untuk semua orang kaya.

Baca Juga: Psikologi Menyebut Orang Kaya Lebih Konsisten pada Hal-Hal Kecil Ini

Fenomena di Indonesia

Di Indonesia, fenomena tersebut mudah ditemukan dalam berbagai dokumentasi publik. Salah satu contoh paling ikonik adalah pengusaha Bob Sadino yang dikenal luas dengan celana pendek, kemeja sederhana, dan penampilan yang jauh dari citra pengusaha konvensional. Penampilannya kemudian justru menjadi bagian dari identitas publiknya.

Pada generasi pengusaha berikutnya, gaya berpakaian menjadi lebih beragam. Ada yang memilih busana formal, ada yang menggunakan gaya kasual, sementara sebagian lainnya mengadopsi penampilan minimalis yang tetap memiliki unsur eksklusivitas.

Perubahan ini juga berlangsung bersamaan dengan berkembangnya media sosial dan personal branding. Penampilan semakin sering menjadi bagian dari komunikasi publik seseorang.

Karena itu, pakaian tidak dapat digunakan sebagai ukuran langsung untuk menentukan kekayaan seseorang.

Kaya Tidak Harus Terlihat Kaya

Pada akhirnya, pakaian hanyalah salah satu bentuk sinyal sosial. Orang yang mengenakan pakaian sederhana belum tentu tidak mampu membeli barang mahal. Sebaliknya, pakaian mewah juga tidak selalu menjadi bukti bahwa seseorang benar-benar kaya.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa manusia terus menggunakan berbagai petunjuk untuk membaca status dan identitas orang lain. Perbedaannya terletak pada seberapa jelas seseorang ingin mengirimkan sinyal tersebut dan siapa yang menjadi penerimanya.

Baca Juga: Menguak Standar Orang Kaya di Indonesia Era 2000-an: Sebuah Kilas Balik

Bagi sebagian orang, kekayaan mungkin perlu terlihat. Bagi yang lain, status justru tidak perlu ditampilkan secara terang-terangan.

Karena itu, ketika melihat seseorang dengan pakaian sederhana, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia tidak memiliki kemampuan ekonomi. Bisa jadi ia memang sederhana, bisa juga ia tidak merasa perlu membuktikan statusnya melalui pakaian. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
berpakaian bob sadino sederhana orang kaya mewah