RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernah sedang sendirian, lalu tiba-tiba tersenyum bahkan tertawa karena teringat kejadian lucu atau membayangkan sebuah percakapan yang sebenarnya tidak pernah terjadi? Bagi sebagian orang, kebiasaan ini mungkin terlihat aneh. Namun, tertawa sendiri tidak selalu berarti seseorang sedang mengalami masalah psikologis.
Dalam psikologi, pengalaman seperti ini dapat berkaitan dengan daydreaming atau aktivitas membayangkan sesuatu dalam pikiran. Otak manusia memang mampu membangun skenario, percakapan, gambaran masa depan, hingga cerita yang sama sekali tidak sedang terjadi di lingkungan sekitar. Ketika isi bayangan tersebut memunculkan emosi tertentu, tubuh dapat memberikan respons secara spontan, termasuk tersenyum atau tertawa.
Baca Juga: Menurut Psikologi, Ini 7 Tanda Seseorang Sedang Menyembunyikan Perasaannya
Penelitian yang dipublikasikan dalam Consciousness and Cognition terhadap lebih dari 1.000 partisipan menemukan adanya hubungan antara gaya daydreaming tertentu dengan karakter kepribadian dan kesejahteraan psikologis. Salah satunya adalah positive-constructive daydreaming, yaitu bentuk lamunan yang cenderung menyenangkan, penuh imajinasi, dan dapat berkaitan dengan eksplorasi pikiran.
Lantas, seperti apa karakter orang yang sering tertawa sendiri karena membayangkan sesuatu?
1. Memiliki imajinasi yang cukup hidup
Orang yang mudah tertawa karena skenario di kepalanya biasanya mampu membentuk gambaran mental yang cukup jelas. Ia tidak hanya memikirkan sebuah kejadian, tetapi bisa membayangkan bagaimana percakapan berlangsung, bagaimana orang lain merespons, atau bagaimana sebuah situasi berkembang.
Ketika skenario tersebut terasa lucu, otak dapat memunculkan respons emosional meskipun tidak ada kejadian lucu secara langsung di hadapannya.
Baca Juga: Menurut Psikologi, Ini Faktor yang Membuat Seseorang Takut Mengambil Keputusan
2. Cenderung introspektif
Kebiasaan masuk ke dalam pikiran sendiri juga dapat berkaitan dengan introspeksi, yakni kecenderungan mengamati dan mengeksplorasi pikiran serta pengalaman internal.
Studi Blouin-Hudon dan Zelenski menemukan bahwa introspeksi merupakan prediktor terhadap gaya daydreaming tertentu. Peneliti juga menemukan bahwa positive-constructive daydreaming berkaitan dengan indikator seperti pertumbuhan pribadi, tujuan hidup, dan emosi positif.
Artinya, seseorang yang sering “sibuk” dengan pikirannya sendiri belum tentu sedang tidak fokus. Bisa saja ia memang memiliki aktivitas mental internal yang cukup aktif.
3. Terbuka terhadap ide dan pengalaman baru
Ada pula kaitan dengan Openness to Experience, salah satu dimensi dalam model kepribadian Big Five.
Literatur mengenai daydreaming menunjukkan bahwa positive-constructive daydreaming berkaitan dengan keterbukaan terhadap pengalaman, termasuk rasa ingin tahu, sensitivitas, eksplorasi ide, dan ketertarikan terhadap berbagai kemungkinan.
Karakter seperti ini membuat seseorang relatif mudah mengeksplorasi berbagai “bagaimana jika” di dalam pikirannya. Tidak mengherankan apabila pikirannya kemudian menghasilkan skenario yang tidak terduga dan menghibur dirinya sendiri.
Baca Juga: Stres Kerja Bisa Bikin Orang Lebih Impulsif Berbelanja, Ini Penjelasan Psikologinya
4. Suka membuat skenario di kepala
Pernah membayangkan apa yang akan dikatakan ketika bertemu seseorang? Atau membayangkan bagaimana sebuah kejadian berlangsung sebelum benar-benar terjadi?
Kebiasaan seperti itu termasuk aktivitas mental yang dapat muncul dalam daydreaming. Penelitian sebelumnya bahkan mengaitkan bentuk daydreaming yang konstruktif dengan perencanaan masa depan, pemecahan masalah, dan proses kreatif.
Karena itu, orang yang sering tertawa sendiri mungkin bukan sedang “berbicara dengan dirinya sendiri”, melainkan sedang mengikuti alur cerita yang dibuat pikirannya.
5. Punya kecenderungan berpikir kreatif
Hubungan antara daydreaming dan kreativitas juga menarik perhatian peneliti. Sebuah penelitian yang menggunakan pendekatan ilmu saraf menemukan bahwa positive-constructive daydreaming memiliki hubungan positif dengan kreativitas.
Baca Juga: Psikologi Ungkap Alasan Banyak Pria Lebih Memprioritaskan Sifat daripada Kecantikan Fisik
Namun, hal ini bukan berarti setiap orang yang sering melamun otomatis kreatif. Hubungannya lebih kompleks karena jenis daydreaming, kemampuan perhatian, suasana hati, dan karakter individu turut berperan.
Penelitian yang lebih baru juga menemukan bahwa positive-constructive daydreaming dapat berkaitan dengan proses berpikir kreatif ketika seseorang menghadapi tuntutan pemecahan masalah.
6. Mudah menemukan humor dari hal-hal sederhana
Orang dengan dunia internal yang aktif terkadang tidak membutuhkan stimulus dari luar untuk merasa terhibur. Sebuah ingatan lama, percakapan yang pernah terjadi, atau skenario khayalan saja sudah cukup untuk memunculkan rasa geli.
Itulah sebabnya seseorang bisa tiba-tiba tersenyum ketika sedang duduk sendirian. Bagi orang lain, tidak ada yang lucu. Namun, orang tersebut sedang merespons sesuatu yang terjadi di dalam pikirannya.
Bukan berarti mengalami gangguan psikologis
Satu hal penting yang perlu dibedakan adalah daydreaming biasa dengan maladaptive daydreaming.
Maladaptive daydreaming menggambarkan pola lamunan yang sangat menyerap, berulang, sulit dikendalikan, dan dapat menimbulkan tekanan atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Penelitian terbaru juga menekankan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan fantasi yang intens dan berdampak pada fungsi kehidupan seseorang.
Baca Juga: Kepribadian Seseorang Konon Tercermin dari Gaya Tulisan Tangan Menurut Psikologi, Benarkah?
Karena itu, sekadar tertawa sendiri karena membayangkan sesuatu tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan tertentu.
Pada kondisi normal, kebiasaan tersebut justru bisa menjadi bagian dari aktivitas mental sehari-hari. Selama tidak mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, tidur, konsentrasi, atau aktivitas lainnya, tidak ada alasan untuk langsung menganggapnya sebagai sesuatu yang bermasalah.
Pada akhirnya, orang yang sering tertawa sendiri karena membayangkan sesuatu mungkin hanya memiliki dunia internal yang aktif, imajinasi yang hidup, dan kecenderungan introspektif. Bisa jadi ketika orang lain melihatnya sedang diam, sebenarnya pikirannya sedang menjalankan sebuah cerita yang menurut dirinya sendiri sangat lucu. (kam/bgs)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah