Mengenal Nature Deficit Disorder, Saat Anak Terlalu Jarang Bermain di Alam

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:17 WIB
Ilustrasi anak yang sedang bermain di alam(PINTEREST/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi anak yang sedang bermain di alam(PINTEREST/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan teknologi, anak-anak kini memiliki lebih banyak aktivitas di dalam rumah. Waktu bermain yang dahulu banyak dihabiskan di halaman, taman, atau lingkungan sekitar perlahan tergantikan oleh gawai, televisi, hingga berbagai kegiatan terjadwal.

Kondisi tersebut melahirkan istilah Nature Deficit Disorder (NDD), yang menggambarkan berkurangnya hubungan anak dengan alam. Istilah ini diperkenalkan oleh penulis Richard Louv melalui bukunya Last Child in the Woods pada 2005. Penting dicatat, Nature Deficit Disorder bukanlah diagnosis medis, melainkan istilah untuk menggambarkan dampak dari keterasingan manusia, khususnya anak-anak, dari lingkungan alam.

Apa Itu Nature Deficit Disorder?

Nature Deficit Disorder merujuk pada kondisi ketika anak semakin jarang mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan alam. Anak mungkin lebih banyak berada di dalam ruangan dan menghabiskan waktu dengan perangkat digital dibandingkan bermain di luar.

Tidak berarti anak yang jarang bermain di luar otomatis mengalami gangguan kesehatan tertentu. Istilah ini lebih tepat dipahami sebagai fenomena sosial dan lingkungan yang menjadi perhatian karena berkurangnya kontak dengan alam dapat membuat anak kehilangan berbagai kesempatan untuk bergerak, mengeksplorasi, dan belajar dari lingkungan sekitar.

Baca Juga: 5 Tips Agar Anak Mau Makan Sayur, Orang Tua Wajib Tahu

American Academy of Pediatrics (AAP) juga menekankan pentingnya bermain di luar ruangan. Tinjauan sistematis terhadap ratusan penelitian menemukan adanya hubungan positif antara paparan alam dengan aktivitas fisik serta kesehatan kognitif, perilaku, dan mental anak.

Mengapa Anak Perlu Bermain di Alam?

Bermain di taman atau lingkungan terbuka bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Alam memberikan ruang bagi anak untuk bergerak sekaligus mengeksplorasi berbagai hal dengan cara yang lebih bebas.

Saat berada di luar, anak dapat berlari, melompat, memanjat, mengamati tanaman, bermain dengan pasir, atau sekadar berjalan-jalan. Aktivitas tersebut membantu anak menggunakan kemampuan motorik sekaligus meningkatkan aktivitas fisik.

AAP menyebut ruang hijau seperti taman, kebun, dan area dengan pepohonan berkaitan dengan berbagai manfaat bagi anak, termasuk aktivitas fisik serta aspek kesehatan mental dan perkembangan sosial.

Bisa Membantu Mengurangi Stres

Lingkungan alami juga dapat memberikan suasana yang lebih tenang bagi anak. Berada di ruang hijau memungkinkan anak mendapatkan pengalaman sensorik yang berbeda dibandingkan ketika terus berada di dalam ruangan.

Menurut AAP, paparan ruang hijau dikaitkan dengan penurunan sejumlah indikator stres dan dapat berhubungan dengan kondisi mental yang lebih baik. Ruang hijau juga dapat menjadi tempat anak berinteraksi dengan teman, mengembangkan kemandirian, dan membangun kepercayaan diri.

Meski demikian, hubungan antara alam dan kesehatan anak tidak berarti bahwa bermain di taman dapat menggantikan penanganan medis atau psikologis ketika anak mengalami masalah kesehatan.

Bermain di Alam Juga Mendukung Perkembangan Anak

Permainan di luar ruangan memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar melalui pengalaman langsung. Ketika bermain bersama teman, misalnya, anak harus belajar berbagi, mengikuti aturan permainan, berkomunikasi, dan menyelesaikan konflik.

AAP menjelaskan bahwa aktivitas bermain dapat mendukung perkembangan fisik, kognitif, bahasa, sosial, dan emosional anak. Bermain bebas juga membantu anak mengembangkan kemampuan mengambil keputusan dan memecahkan masalah.

Karena itu, taman tidak hanya menjadi tempat untuk membuat anak lelah secara fisik. Lingkungan tersebut juga dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan.

Baca Juga: Cara Memutus Pola Asuh Toxic agar Tidak Terulang kepada Anak

Tidak Harus Pergi ke Tempat Wisata Alam

Mengajak anak lebih dekat dengan alam tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh atau biaya besar.

Orang tua bisa memulainya dari lingkungan yang mudah dijangkau, seperti taman kota, halaman rumah, kebun, atau area hijau di sekitar tempat tinggal. Anak juga bisa diajak melakukan kegiatan sederhana seperti menyiram tanaman, mengamati serangga, mengumpulkan daun yang jatuh, atau berjalan santai.

Yang terpenting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan dan tidak selalu mengarahkan setiap aktivitasnya.

Kurangi Ketergantungan pada Aktivitas Dalam Ruangan

Orang tua tidak harus melarang anak menggunakan gawai sepenuhnya. Namun, keseimbangan antara aktivitas digital, belajar, istirahat, dan bermain di luar tetap penting.

AAP juga menyebut kekhawatiran terhadap keamanan lingkungan dan terbatasnya ruang bermain sebagai salah satu tantangan yang membuat anak semakin jarang bermain di luar. Karena itu, orang tua perlu memilih tempat yang aman dan sesuai dengan usia anak.

Jika taman atau ruang publik digunakan, pastikan area tersebut cukup aman, bersih, dan berada dalam pengawasan yang sesuai.

Pada akhirnya, Nature Deficit Disorder mengingatkan bahwa masa kanak-kanak tidak hanya membutuhkan aktivitas akademik dan teknologi. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk bergerak, bermain, bereksplorasi, dan mengenal lingkungan secara langsung.

Mengajak anak bermain di taman secara rutin bisa menjadi langkah sederhana untuk memperkenalkan kembali mereka pada alam sekaligus memberikan ruang bagi perkembangan fisik, sosial, dan emosional. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
Nature Deficit Disorder orang tia Alam anak