RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tidak sedikit orang menganggap jabat tangan hanyalah bentuk sapaan saat pertama kali bertemu. Padahal, dalam hitungan detik, cara seseorang berjabat tangan dapat memengaruhi kesan awal yang terbentuk di benak lawan bicara.
Psikologi sosial menunjukkan, kekuatan genggaman, kontak mata, ekspresi wajah, hingga bahasa tubuh saat berjabat tangan ikut berperan dalam proses penilaian pertama. Namun, apakah kesan tersebut benar-benar mencerminkan kepribadian seseorang?
Baca Juga: Kenapa Kita Sering Menyesal Setelah Mengambil Keputusan? Memahami Choice Overload dalam Psikologi
Dalam dunia psikologi, proses membentuk kesan pertama dikenal sebagai first impression. Manusia secara alami membuat penilaian awal berdasarkan informasi yang sangat terbatas. Fenomena ini merupakan bagian dari mekanisme otak untuk memproses situasi sosial dengan cepat, bukan sebagai cara untuk menyimpulkan kepribadian seseorang secara menyeluruh.
Kesan Pertama Terbentuk Hanya dalam Hitungan Detik
Sejumlah penelitian psikologi menunjukkan, otak dapat membentuk kesan awal hanya dalam waktu beberapa detik setelah bertemu orang baru.
Cara berbicara, ekspresi wajah, postur tubuh, hingga cara berjabat tangan menjadi bagian dari sinyal nonverbal yang digunakan untuk memperkirakan apakah seseorang tampak ramah, percaya diri, atau dapat dipercaya.
Psikolog menyebut proses ini sebagai thin slicing, yaitu kemampuan manusia menarik kesimpulan awal berdasarkan potongan informasi yang sangat singkat. Meski sering kali membantu dalam situasi sosial, kesan pertama bukanlah penilaian yang selalu akurat.
Baca Juga: 5 Tanda Perempuan Sebenarnya Peduli Meski Terlihat Dingin di Depan, Ini Penjelasan Psikologi
Artinya, seseorang bisa saja tampak gugup saat berjabat tangan karena sedang menghadapi wawancara kerja, bertemu atasan, atau merasa cemas, bukan karena memiliki sifat tertentu.
Apa yang Sebenarnya Dinilai Saat Berjabat Tangan?
Jabat tangan bukan sekadar sentuhan antartangan. Ada beberapa unsur yang secara tidak sadar ikut diamati oleh lawan bicara.
1. Tekanan genggaman
Genggaman yang terlalu lemah sering kali dipersepsikan sebagai kurang percaya diri atau ragu-ragu.
Sebaliknya, genggaman yang terlalu kuat juga tidak selalu memberi kesan positif karena dapat dianggap terlalu dominan atau agresif.
Psikolog komunikasi umumnya menyarankan tekanan yang proporsional, tidak terlalu lemah maupun berlebihan.
2. Kontak mata
Kontak mata yang alami ketika berjabat tangan biasanya membantu membangun kesan terbuka dan penuh perhatian. Namun, menghindari kontak mata tidak otomatis berarti seseorang berbohong atau tidak jujur.
Banyak faktor yang memengaruhi kebiasaan ini, mulai dari rasa gugup, budaya, hingga karakter individu yang lebih pemalu.
Baca Juga: Menurut Psikologi, Penyesalan Masa Lalu Ternyata Cara Otak Membohongi Diri Sendiri!
3. Senyum
Senyum yang tulus dapat memperkuat kesan ramah dan mudah didekati. Dalam komunikasi nonverbal, ekspresi wajah menjadi salah satu sinyal yang paling cepat ditangkap otak saat bertemu orang baru.
4. Postur tubuh
Berdiri tegak dengan posisi tubuh menghadap lawan bicara umumnya memberikan kesan lebih siap berinteraksi dibandingkan postur yang tertutup atau membungkuk.
Benarkah Jabat Tangan Bisa Mengungkap Kepribadian?
Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa cara berjabat tangan dapat digunakan untuk menilai kepribadian seseorang secara akurat.
Kepribadian merupakan gabungan dari pola pikir, emosi, perilaku, pengalaman hidup, hingga faktor biologis yang berkembang dalam waktu panjang.
Sebaliknya, jabat tangan lebih tepat dipahami sebagai salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang memengaruhi persepsi awal orang lain.
Dengan kata lain, seseorang mungkin memperoleh kesan percaya diri karena memberikan jabat tangan yang mantap. Namun, kesan tersebut belum tentu mencerminkan sifat aslinya.
Begitu pula orang yang berjabat tangan dengan genggaman lemah tidak otomatis kurang percaya diri. Bisa jadi ia sedang kelelahan, sedang sakit, merasa gugup, atau berasal dari budaya yang memiliki kebiasaan berjabat tangan lebih lembut.
Mengapa Kesan Pertama Sering Sulit Diubah?
Psikologi mengenal adanya kecenderungan confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang mencari informasi yang memperkuat penilaian awal yang sudah terbentuk.
Misalnya, ketika seseorang sudah terkesan bahwa lawan bicaranya ramah sejak awal, ia cenderung lebih mudah menafsirkan perilaku berikutnya sebagai sesuatu yang positif.
Karena itu, kesan pertama memang penting, tetapi tetap bisa berubah seiring bertambahnya interaksi dan pengalaman bersama.
Cara Memberikan Kesan Pertama yang Baik
Tidak ada rumus pasti agar disukai semua orang. Namun, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu membangun kesan awal yang lebih positif, antara lain:
-
Berjabat tangan dengan tekanan yang nyaman dan tidak berlebihan.
-
Menjaga kontak mata secara alami tanpa menatap berlebihan.
-
Memberikan senyum yang tulus.
-
Berdiri dengan postur yang terbuka.
-
Menyapa dengan suara yang jelas dan sopan.
Tentunya, jangan terlalu cepat menilai orang hanya dari satu jabat tangan. Psikologi menunjukkan bahwa kesan pertama memang berpengaruh, tetapi bukan gambaran utuh mengenai kepribadian seseorang. Mengenal karakter seseorang tetap membutuhkan waktu, percakapan, dan interaksi yang lebih mendalam. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari