RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kebiasaan menunda pekerjaan sering kali dianggap sebagai tanda kemalasan atau kurang disiplin.
Tapi tunggu dulu, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa prokrastinasi lebih berkaitan dengan cara seseorang mengelola emosi dibandingkan kemampuan mengatur waktu. Inilah yang membuat seseorang tetap menunda pekerjaan meski menyadari tenggat waktu semakin dekat.
Prokrastinasi merupakan kecenderungan menunda tugas secara sengaja meski mengetahui bahwa penundaan tersebut dapat menimbulkan konsekuensi negatif. Dalam psikologi, perilaku ini bukan sekadar persoalan manajemen waktu, melainkan hasil interaksi antara emosi, pola pikir, dan karakteristik kepribadian seseorang.
Baca Juga: Kenapa Kita Sering Menyesal Setelah Mengambil Keputusan? Memahami Choice Overload dalam Psikologi
Prokrastinasi bukan sekadar rasa malas
Psikolog Piers Steel mendefinisikan prokrastinasi sebagai tindakan menunda pekerjaan secara sukarela meskipun seseorang menyadari bahwa keputusan tersebut akan berdampak buruk di kemudian hari. Dengan kata lain, seseorang sebenarnya memahami apa yang harus dilakukan, tetapi memilih menundanya.
Penelitian menunjukkan bahwa penyebab utamanya bukan kurangnya kemampuan bekerja, melainkan keinginan menghindari perasaan tidak nyaman. Ketika sebuah tugas terasa membosankan, rumit, atau menimbulkan kecemasan, otak cenderung mencari aktivitas lain yang memberikan kepuasan lebih cepat.
Inilah sebabnya seseorang lebih mudah membuka media sosial, menonton video, atau melakukan pekerjaan lain yang terasa lebih ringan daripada memulai tugas yang sebenarnya menjadi prioritas.
Emosi lebih berpengaruh daripada manajemen waktu
Sejumlah penelitian menyebut prokrastinasi sebagai bentuk kegagalan dalam mengelola emosi (emotion regulation). Seseorang menunda bukan karena tidak tahu cara mengatur jadwal, melainkan karena ingin menghindari stres, takut gagal, atau merasa tidak percaya diri terhadap hasil pekerjaannya.
Ketika rasa tidak nyaman berhasil dihindari, otak memperoleh kelegaan sesaat. Sayangnya, efek tersebut hanya bersifat sementara. Semakin lama pekerjaan ditunda, tekanan akibat tenggat waktu justru semakin besar dan memicu stres yang lebih tinggi.
Siklus ini dapat terus berulang sehingga prokrastinasi berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Kepribadian juga berperan
Meski bukan termasuk tipe kepribadian, kebiasaan menunda pekerjaan memiliki hubungan dengan beberapa karakteristik kepribadian dalam model Big Five Personality.
Individu dengan tingkat conscientiousness yang tinggi umumnya lebih teratur, disiplin, dan mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai rencana. Sebaliknya, mereka yang memiliki tingkat conscientiousness lebih rendah cenderung lebih mudah menunda karena kesulitan menjaga konsistensi dan mengatur prioritas.
Sementara itu, individu dengan tingkat neuroticism yang tinggi lebih rentan mengalami kecemasan, khawatir melakukan kesalahan, atau takut menerima penilaian negatif. Perasaan tersebut dapat membuat seseorang memilih menghindari pekerjaan daripada menghadapi tekanan yang muncul.
Namun, hubungan tersebut bersifat kecenderungan, bukan kepastian. Tidak semua orang yang mudah menunda memiliki karakteristik kepribadian yang sama.
Perfeksionisme juga bisa menjadi penyebab
Banyak orang mengira perfeksionis selalu produktif. Faktanya, keinginan menghasilkan pekerjaan yang sempurna justru dapat memicu prokrastinasi.
Seseorang yang menetapkan standar terlalu tinggi sering kali merasa hasil kerjanya belum cukup baik untuk dimulai atau diselesaikan. Akibatnya, pekerjaan terus ditunda sambil menunggu waktu, ide, atau kondisi yang dianggap ideal.
Dalam banyak kasus, kondisi sempurna tersebut tidak pernah benar-benar datang sehingga tenggat waktu semakin dekat dan tekanan semakin meningkat.
Dampaknya tidak hanya pada pekerjaan
Prokrastinasi yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Selain menurunkan kualitas pekerjaan, kebiasaan ini juga meningkatkan stres, rasa bersalah, kecemasan, hingga kelelahan akibat harus menyelesaikan banyak tugas dalam waktu singkat.
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa prokrastinasi kronis berkaitan dengan penurunan kesejahteraan psikologis karena seseorang terus-menerus dibayangi pekerjaan yang belum selesai.
Kebiasaan menunda dapat dikurangi
Psikolog menyarankan agar pekerjaan besar dipecah menjadi langkah-langkah kecil sehingga terasa lebih mudah dimulai. Memulai selama lima menit sering kali lebih efektif daripada menunggu motivasi datang, karena tindakan kecil dapat membantu mengurangi hambatan psikologis untuk mulai bekerja.
Menentukan target yang realistis juga penting agar seseorang tidak terjebak pada keinginan menghasilkan pekerjaan yang sempurna. Selain itu, mengurangi gangguan seperti notifikasi ponsel atau media sosial dapat membantu menjaga fokus selama mengerjakan tugas.
Pada akhirnya, prokrastinasi bukan semata-mata persoalan malas. Kebiasaan ini lebih sering muncul sebagai respons terhadap emosi yang tidak nyaman, rasa takut gagal, atau tekanan yang dirasakan saat menghadapi sebuah tugas. Memahami penyebab psikologis di baliknya menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan bekerja yang lebih sehat dan produktif. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari