RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tidak sedikit kucing berbulu putih menjadi bahan lelucon di media sosial. Video yang memperlihatkan mereka tampak kebingungan, terlambat merespons, atau diam ketika dipanggil sering diberi narasi serupa "kucing putih memang tolol."
Label itu kemudian menyebar menjadi semacam kepercayaan populer. Banyak orang menganggap kucing putih memiliki kecerdasan lebih rendah dibandingkan kucing berwarna lain.
Namun, ketika ditelusuri melalui penelitian veteriner selama puluhan tahun, kesimpulannya justru berbeda. Sampai hari ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan warna bulu putih berkaitan dengan rendahnya kecerdasan kucing. Yang ditemukan para peneliti justru hubungan antara warna bulu putih tertentu dengan meningkatnya risiko tuli bawaan.
Baca Juga: Orang yang Sulit Membuang Barang Lama Biasanya Memiliki Karakter Ini, Psikologi Punya Penjelasannya
Stereotip yang Berasal dari Respons Kucing
Manusia cenderung menilai kecerdasan hewan dari cara bagaimana hewan tersebut merespon dalam kehidupan sehari-hari.
Seekor kucing yang segera menoleh saat namanya dipanggil dianggap pintar. Sebaliknya, kucing yang tetap diam atau tidak bereaksi sering dicap lamban, bahkan bodoh.
Padahal, menurut berbagai penelitian neurologi veteriner, respons tersebut tidak selalu mencerminkan kemampuan berpikir. Pada sebagian kucing putih, penyebabnya justru terletak pada sistem pendengaran.
Baca Juga: Orang yang Benar-Benar Kaya Biasanya Memiliki Pola Kebiasaan Tertentu, Menurut Psikologi
Sejak awal 1980-an, peneliti telah mendokumentasikan adanya congenital sensorineural deafness, yakni gangguan pendengaran bawaan yang lebih sering ditemukan pada kucing dengan gen bulu putih dominan.
Bukan Otaknya yang Bermasalah, Melainkan Pendengarannya
Hubungan antara bulu putih dan ketulian telah menjadi salah satu topik yang paling banyak dipelajari dalam neurologi veteriner.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Veterinary Internal Medicine terhadap 84 kucing ras putih menemukan sekitar 20 persen mengalami tuli bawaan. Risiko tersebut meningkat pada individu yang memiliki satu atau dua mata berwarna biru.
Kondisi itu membuat sebagian kucing tampak seperti mengabaikan lingkungan.
Mereka tidak menoleh ketika dipanggil, tidak terbangun oleh suara keras, atau terlihat terlambat merespons keberadaan orang di sekitarnya.
Perilaku tersebut kerap disalahartikan sebagai tanda rendahnya kecerdasan, padahal mereka memang tidak menerima rangsangan suara sebagaimana kucing dengan pendengaran normal.
Gen yang Sama Memengaruhi Warna Bulu dan Telinga
Fenomena ini bukan berarti warna putih menyebabkan kucing menjadi bodoh.
Dalam penjelasan genetika, gen dominan pembentuk bulu putih berkaitan dengan perkembangan melanosit, yaitu sel pembentuk pigmen.
Baca Juga: Vonis Kasus Kucing Mintel Tuai Kekecewaan dari Komunitas Pecinta Kucing
Selain menghasilkan warna pada bulu dan mata, melanosit juga berperan penting dalam pembentukan struktur koklea di telinga bagian dalam.
Apabila perkembangan sel tersebut terganggu sejak fase embrio, koklea dapat mengalami degenerasi sehingga kemampuan mendengar ikut menurun. Gangguan inilah yang kemudian memengaruhi cara kucing merespons lingkungan, bukan kemampuan otaknya untuk belajar atau mengingat.
Tidak Semua Kucing Putih Mengalami Ketulian
Meski risikonya lebih tinggi, bukan berarti seluruh kucing putih mengalami gangguan pendengaran.
Penelitian lanjutan di Polandia terhadap kucing ras putih menunjukkan masih banyak individu dengan pendengaran normal. Bahkan, sebagian kucing bermata biru juga tidak mengalami tuli sama sekali.
Baca Juga: 7 Sikap yang Membuat Seorang Perempuan Tampak Anggun dari Dalam
Artinya, warna bulu hanya berkaitan dengan peningkatan risiko genetik, bukan kepastian bahwa seekor kucing akan kehilangan fungsi pendengarannya.
Kucing Tuli Tetap Mampu Belajar
Menariknya, kehilangan pendengaran tidak identik dengan rendahnya kemampuan kognitif.
Kucing yang lahir tuli tetap dapat mengenali pemiliknya, memahami rutinitas, mempelajari isyarat visual, hingga beradaptasi dengan lingkungan melalui getaran, sentuhan, dan pengamatan.
Dalam praktik kedokteran hewan, banyak kucing tuli mampu menjalani kehidupan normal selama dipelihara di lingkungan yang aman.
Hal ini memperlihatkan bahwa kecerdasan dan kemampuan mendengar merupakan dua hal yang berbeda.
Mitos yang Bertahan Lebih Cepat daripada Fakta
Label kucing putih bodoh kemungkinan bertahan karena manusia lebih mudah mengingat perilaku yang sesuai dengan keyakinannya dibandingkan fakta yang bertentangan.
Ketika seekor kucing putih tampak tidak merespons panggilan, kejadian itu dianggap memperkuat stereotip. Sebaliknya, ribuan kucing putih yang aktif, responsif, dan mudah dilatih jarang menjadi perhatian.
Fenomena tersebut membuat mitos terus berulang, meskipun bukti ilmiah tidak pernah mendukungnya.
Baca Juga: Jika Orang Asing Sering Tersenyum kepada Anda, Bisa Jadi Anda Memiliki Aura Sosial Seperti Ini
Penelitian selama lebih dari empat dekade menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara warna bulu putih dan tingkat kecerdasan kucing. Yang terbukti secara ilmiah adalah sebagian kucing putih memiliki risiko lebih tinggi mengalami tuli bawaan akibat faktor genetika yang juga memengaruhi perkembangan telinga bagian dalam.
Dengan demikian, perilaku yang sering dianggap sebagai tanda kebodohan lebih tepat dipahami sebagai konsekuensi dari keterbatasan pendengaran. Dalam banyak kasus, kucing putih bukan tidak mampu memahami lingkungannya, hanya saja menerima dunia dengan cara yang berbeda. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari