Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Gen Z Sebenarnya Jadi Korban Sistem Ekonomi Curang? Ini Faktanya!

Bhagas Dani Purwoko • Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:33 WIB
Ilustrasi remaja Gen Z.
Ilustrasi remaja Gen Z.

3 Poin Inti Mengapa Gen Z Memilih "Mundur":

  • Hambatan Ekonomi yang Tidak Masuk Akal: Lonjakan harga properti yang tak sebanding dengan stagnasi upah, biaya kuliah yang berujung pada jebakan utang puluhan tahun, serta tren pekerjaan level bawah (pekerja lepas/kontrak) yang sepenuhnya kehilangan jaminan keamanan kerja masa lalu.

  • Matinya Sistem Reward dan Effort: Berdasarkan psikologi perilaku, usaha seseorang akan menurun drastis ketika imbalan yang dijanjikan hilang; Gen Z melihat pendahulu mereka bekerja keras namun tetap kesulitan finansial, sehingga mereka menolak masuk ke dalam "perangkap" yang sama.

  • Bukan Konspirasi, Melainkan "Hujan yang Sama": Jutaan anak muda yang menolak bekerja keras bukanlah sebuah pemberontakan terorganisir, melainkan reaksi serempak, seperti orang-orang asing di jalanan yang kompak membuka payung secara bersamaan karena terguyur hujan ketidakadilan ekonomi yang sama.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Setiap beberapa minggu, kita selalu disuguhi narasi berita utama yang memojokkan anak muda: Gen Z menolak bekerja, suka berpindah-pindah tempat kerja, tidak kuat mental, gampang mengeluh, dan sebagainya.

Namun, inti dari fenomena ini bukanlah karena kelompok generasi muda bangun di suatu pagi dan memutuskan untuk menjadi lemah atau malas. 

Penolakan massal ini sejatinya adalah respons rasional dan alami terhadap sistem ekonomi usang ciptaan generasi tua yang terbukti sudah tidak lagi memberikan imbalan yang sepadan atas kerja keras mereka.

Daripada menunjuk hidung kaum muda sebagai masalah yang harus didiagnosis, sudah saatnya generasi yang lebih tua berkaca dan mengakui bahwa lingkungan ekonomi yang memutus harapan hidup layak merekalah yang menjadi biang kerok utamanya.

Mesin Ekonomi yang Menarik Tangga Kesuksesan

Berdasarkan pengamatan empiris selama lebih dari tujuh tahun di sektor keuangan sebelum beralih ke dunia akademis, terlihat jelas bagaimana mesin ekonomi modern ini beroperasi dan siapa yang diuntungkan.

Baca Juga: Riset Bongkar Cara Licik Algoritma Media Sosial Bikin Gen Z Takut Pacaran

Sistem ini memang dirancang sedemikian rupa, dioptimalkan untuk mengejar keuntungan kuartalan dan apresiasi aset yang hanya menguntungkan mereka yang memang sudah kaya, sembari menuntut beban kerja yang lebih berat dari pasar tenaga kerja dengan imbalan finansial yang kian menyusut.

Generasi tua telah "menarik tangga" kesuksesan setelah mereka berhasil mencapai puncak, lalu secara mengejutkan merasa bingung mengapa anak-anak muda di bawah berhenti mendaki.

Renungkan apa yang telah dibangun oleh generasi pendahulu: janji lawas seperti "bekerja keraslah dan kamu akan memiliki rumah" kini terdengar seperti dongeng omong kosong belaka bagi kaum muda.

(Sebagai tambahan wawasan mengenai nyata adanya ketimpangan antara pertumbuhan upah riil dan lonjakan harga properti yang menekan daya beli generasi muda di Indonesia, kamu dapat merujuk pada publikasi data statistik dan indikator ketenagakerjaan resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia).

Membaca Arah Psikologi: Tidak Ada Reward, Tidak Ada Usaha

Di sinilah psikologi perilaku bermain. Salah satu hukum paling absolut dalam sains perilaku adalah: perbuatan manusia dibentuk oleh konsekuensinya.

Ketika suatu tindakan konsisten membuahkan hasil yang memuaskan, perilaku itu akan terus meningkat. Sebaliknya, ketika imbalan tersebut lenyap, usahanya pun akan memudar.

Generasi Z dan Generasi Alpha mengamati dengan saksama orang-orang di depan mereka yang telah melakukan segalanya dengan "benar", mendapatkan gelar sarjana, bekerja lembur berjam-jam, memeras keringat, tapi nyatanya tetap berdarah-darah untuk sekadar menjalani kehidupan dasar yang stabil.

Gen Z membaca realitas lingkungan mereka dengan sangat akurat. Layaknya organisme hidup lainnya, mereka secara otomatis menghemat energi ketika menyadari bahwa usaha tersebut tidak lagi membuahkan hasil yang sepadan.

Mitos Konspirasi Pemberontakan Anak Muda

Banyak komentar sinis yang menganggap ketidakaktifan kaum muda sebagai sebuah pemberontakan diam-diam yang sengaja dikoordinasikan untuk melawan sistem.

Baca Juga: Mengapa Tan Malaka Menjadi 'Agama Baru' bagi Gen Z? Zen RS: Bersih karena Tak Sempat Berkuasa!

Asumsi tersebut sangatlah keliru. Sebuah gerakan sosial yang terkoordinasi membutuhkan infrastruktur, jaringan luas, kepemimpinan yang solid, pijakan kelembagaan, dan pengalaman puluhan tahun.

Remaja berusia 14 tahun atau dewasa muda usia 22 tahun jelas belum memiliki modal relasional sebesar itu.

Lantas, jika bukan karena rencana terpusat, mengapa penarikan diri dari roda ekonomi ini tampak begitu seragam di antara jutaan anak muda yang bahkan tidak saling kenal?

Jawabannya adalah analogi payung: Ketika sekelompok orang asing di jalanan tiba-tiba membuka payung mereka pada detik yang sama, kita langsung tahu bahwa mereka tidak sedang berkonspirasi.

Mereka semua hanya sedang merespons hujan yang sama. Perilaku sinkron kaum muda ini menunjukkan satu penyebab yang sama, yakni kondisi lingkungan ekonomi yang kita ciptakan bersama.

Penarikan diri kolektif ini adalah respons alami dari organisme yang sehat di lingkungan yang telah berhenti menghargai kerja keras.

Tanggung Jawab Ada di Pundak Siapa?

Anak-anak muda memiliki radar yang sangat tajam untuk mendeteksi permainan yang curang. Mereka merasakan ketidakseimbangan sosial itu jauh sebelum mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, dan mereka langsung menyesuaikan diri dengan keadaan.

Jika kamu lebih suka menyebut penyesuaian diri ini sebagai "kemalasan", itu hanyalah dalih agar kamu merasa nyaman dan terhindar dari rasa bersalah. Sesungguhnya, ini adalah sebuah umpan balik (feedback) yang keras.

Generasi pendahulu yang hobi mengkritik sejatinya sedang berdiri di depan cermin. Daripada menyalahkan pantulan cermin yang tidak menyenangkan tersebut, sudah saatnya kita mengambil tanggung jawab.

Baca Juga: Gen Z Enggan Memilih Jadi Guru, Namun Anggap Jadi Konten Kreator Pendidikan Lebih Menarik

Jika kita ingin Gen Z dan Alpha kembali berpartisipasi, kita harus menurunkan biaya hidup dasar, memulihkan hubungan jujur antara kerja keras dan imbalan, serta berhenti menuntut tanpa memberikan dukungan finansial yang masuk akal.

Mereka kini sedang menunggu dalam diam, melihat apakah orang dewasa akan bersikap lebih dewasa terlebih dahulu untuk memperbaiki sistem yang rusak ini. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#psikologi #Ekonomi #kolektif #malas #Gen Z