RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika anak remajamu tiba-tiba menatap matamu dan berteriak, "Aku benci kamu!", ketahuilah bahwa kalimat menyakitkan tersebut sebenarnya bukanlah serangan personal yang harfiah.
Secara psikologis, dilansir dari laman Psychology Today, ungkapan ini adalah cerminan normal dari pengalaman emosional anak yang sedang meluapkan rasa frustrasi yang mendalam terhadap batasan dan kontrol orang tua.
Sering kali, orang tua hanyalah target yang paling mudah dan kebetulan tersedia untuk menampung emosi terpendam yang bahkan mungkin tidak ada kaitannya dengan orang tua itu sendiri.
Kunci utamanya adalah jangan memasukkannya ke dalam hati; alih-alih mengalah demi menghindari konflik, momen ini justru harus kamu manfaatkan untuk mengajarkan anak cara mengelola emosi mereka tanpa mengorbankan aturan yang sudah ditetapkan.
Kisah Jackie dan Gejolak Emosi Remaja
Bayangkan akhir pekan yang sangat sibuk dan penuh momen kacau. Seorang ibu bernama Jackie menimbang-nimbang dengan hati-hati apakah ia harus menerapkan batasan malam Minggu seperti biasa kepada putrinya yang berusia 14 tahun, Erin.
Mengalah dan membiarkannya saja demi menjaga kedamaian tampak sangat menarik bagi Jackie yang sudah amat lelah menghadapi ledakan emosi dan ketegangan.
Namun, saat ia akhirnya memutuskan untuk sedikit melonggarkan aturan tetapi tetap memberi tahu Erin bahwa sudah waktunya untuk menyerahkan telepon dan masuk ke tempat tidur, sang putri justru mulai berteriak padanya lagi.
Sebelum Jackie yang patah hati sempat menemukan pintu untuk keluar, Erin seolah melontarkan kata "Aku benci kamu" di setiap tarikan napasnya. Hanya pintu yang tertutup di antara mereka yang mampu meredam teriakan tersebut.
Bagaimana Kamu Harus Memproses Situasi Ini?
Memaknai ungkapan "Aku benci kamu" secara harfiah hanya akan membawamu ke ruang pribadi yang sangat gelap, di mana kamu menerima pernyataan itu apa adanya dan memendamnya di hati, yang tentu bisa sangat menyakitkan.
Sebaliknya, cobalah memicu proses yang lebih reflektif untuk mengidentifikasi dengan tepat apa yang kamu pikirkan dan rasakan tentang serangan penuh kebencian tersebut.
-
Jika kamu bisa melihatnya sebagai bagian alami atau tak terhindarkan dari pengasuhan, di mana remaja sekadar mengekspresikan rasa frustrasi atas batasanmu, maka lanjutkan saja.
Baca Juga: Orang Tua Korban Kekerasan Masa Kecil Pasti Akan Siksa Anaknya? Ini Jawaban Riset Psikologi!
-
Namun, jika serangan tersebut terasa lebih personal, jujur, atau agresif, bicarakanlah dengan dirimu sendiri, pasangan, teman, atau terapis sebelum kamu melanjutkan tindakan.
-
Sangat wajar bagi anak-anak untuk "melampiaskan" perasaan mereka kepada orang tua; mereka biasanya menunjukkan perasaannya lewat sikap sebelum mampu menjelaskannya lewat kata-kata.
Respons emosionalmu pada saat itu sangatlah penting. Bersikap natural dan terbuka adalah yang terbaik, sedangkan bersikap kasar dan tertutup adalah yang terburuk.
Selain itu, mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri bagi kamu berdua juga sangat membantu. Waktu sendirian itu baik, bukan sebagai bentuk hukuman, melainkan sebagai waktu bagi anakmu untuk merenung atau menenangkan emosinya.
Catatan Ilmiah: Berdasarkan referensi kredibel dari American Psychological Association (APA) terkait perkembangan emosional remaja, ledakan emosi yang intens merupakan bagian wajar dari pematangan korteks prefrontal, yakni area otak yang berfungsi mengatur logika dan kontrol diri.
Anak memang membutuhkan validasi emosional dari orang dewasa untuk belajar meregulasi sirkuit saraf tersebut.
Jebakan Pengasuhan: Hindari Mengorbankan Aturan
Dalam berbagai pengalaman klinis, salah satu respons orang tua yang berpotensi paling berdampak negatif terjadi ketika mereka mengompromikan apa yang mereka yakini benar hanya demi menyenangkan anak dan menghindari konfrontasi.
Mereka terus berpegang pada apa yang mereka yakini dapat ditangani anak dengan mudah, namun hal ini justru merampas kesempatan anak untuk belajar mengelola diri mereka sendiri dengan lebih baik.
Meskipun kompromi itu penting, kamu tidak boleh mengorbankan momen di mana pembelajaran emosional dapat terjadi.
Kamu tidak boleh membiarkan antisipasimu terhadap reaksi anak mengubah arahan atau kedisiplinan yang ingin kamu sampaikan, meskipun hal itu mungkin menuntutmu mengubah waktu atau gaya penyampaiannya.
Baca Juga: Orang Tua Harus Stop Menghibur Anak Saat Mereka Mengaku Bosan, Begini Menurut Psikologi
Dalam kasus Jackie, jika ia secara konsisten mengizinkan putrinya begadang sampai tertidur dengan telepon di tangan demi menghindari ledakan emosi, hal itu menunjukkan bahwa Erin jelas tidak memiliki kendali diri, dan Jackie telah mengabaikan apa yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh putrinya darinya.
Sebaliknya, jika Jackie mampu menoleransi teriakan itu sebagai cara Erin melampiaskan emosi saat menerima pelajaran tanpa merasa tersinggung, Jackie akan membangun komunikasi yang lebih baik dan melihat ini sebagai aspek mendasar dari pola asuhnya.
Kapan Kamu Harus Menelaah Lebih Dalam?
Meski meluapkan emosi adalah sebuah proses perkembangan yang wajar, bagi sebagian anak, ungkapan "Aku benci kamu" mungkin terkait dengan perasaan yang jauh lebih dalam yang perlu ditangani oleh seorang profesional.
Segeralah berkonsultasi dengan dokter anak jika anakmu mulai menunjukkan tanda-tanda berikut:
-
Menarik diri atau menjadi sangat pendiam.
-
Tidak mau makan.
-
Mengalami kesulitan tidur.
-
Menunjukkan perubahan perilaku yang drastis dengan teman-temannya.
Kita semua bisa memiliki perasaan yang kuat dan butuh belajar memprosesnya. Jika kamu merasa butuh dukungan dalam pengasuhan anak, menyelesaikannya lebih cepat bersama ahlinya akan selalu lebih baik daripada terlambat.
Terkadang, hanya dengan berbicara bersama psikolog atau psikiater sudah cukup untuk meredakan ketegangan hingga tingkat yang dapat dikelola untuk kamu dan anakmu.
Dalam dunia pengasuhan, hal semacam ini biasanya tidak dapat dihindari di lain waktu, tetapi pengalaman adalah guru yang hebat. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko