Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Riset Psikologi Bongkar Alasan Kita Berani 'Swipe Right' di Tinder, meski Kriteria Jauh di Luar Jangkauan!

Bhagas Dani Purwoko • Kamis, 21 Mei 2026 | 17:47 WIB
CARI JODOH: Banyak orang modal nekat cari jodoh di Tinder.
CARI JODOH: Banyak orang modal nekat cari jodoh di Tinder.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kehadiran aplikasi kencan seluler seperti Tinder, yang kini telah mengantongi lebih dari 50 juta pengguna di seluruh dunia, ternyata tidak hanya mengubah cara manusia berinteraksi, melainkan juga merombak total psikologi kita dalam berburu pasangan.

Dilansir dari laman Psychology Today, selama berpuluh-puluh tahun, para ilmuwan hubungan mencatat bahwa manusia di dunia nyata memiliki kecenderungan alami untuk "berpadu", artinya, mereka akan berakhir berpasangan dengan orang yang setara dan mirip berdasarkan karakteristik usia, status sosial ekonomi, kepribadian, hingga tingkat daya tarik fisik. 

Fenomena dunia nyata ini terjadi akibat adanya "gesekan pencarian" (search friction), di mana ruang lingkup pergaulan kita terbatas pada kelompok yang itu-itu saja.

Namun, kehadiran aplikasi kencan digital resmi mendisrupsi hukum alam tersebut; riset membongkar bahwa di dunia maya, manusia menjadi jauh lebih berani mengejar kriteria pasangan yang berada jauh di atas standar daya tarik mereka sendiri karena rendahnya biaya psikologis dari sebuah penolakan.

Eksperimen 'Tinder Palsu' oleh Para Ilmuwan Belgia

Untuk membuktikan apakah aplikasi kencan benar-benar mengubah cara kita memilih jodoh, sebuah tim psikolog dari Universitas Ghent, Universitas Antwerp, dan Universitas Louvain di Belgia, yang dipimpin oleh Brecht Neyt, melakukan sebuah penelitian unik.

Baca Juga: 3 Tanda Unik Pasanganmu Adalah Jodoh Sejati Menurut Psikologi dan Sains

Mereka merekrut 500 sukarelawan melalui internet untuk mengoperasikan sebuah aplikasi Tinder palsu yang diciptakan khusus oleh para ilmuwan.

Tujuan pembuatan aplikasi tiruan ini adalah agar para peneliti dapat mengumpulkan data tambahan yang presisi secara langsung.

Secara fungsional, aplikasi buatan ini bekerja persis seperti aslinya: geser (swipe) ke kanan untuk menyatakan ketertarikan (match), superlike untuk ketertarikan mendalam, dan geser ke kiri jika tidak tertarik.

Setelah para relawan merespons 16 profil yang disodorkan, mereka diminta menilai profil-profil tersebut berdasarkan usia, daya tarik fisik, dan lima komponen besar kepribadian (The Big Five Personality): ekstroversi, keramahan, ketelitian, stabilitas emosional, dan keterbukaan terhadap pengalaman.

Terakhir, para sukarelawan harus menilai karakteristik diri mereka sendiri untuk melihat apakah ada pola kecocokan yang serupa.

Fakta Mengejutkan: Fisik Tak Lagi Harus Setara!

Apakah kita di dunia digital hanya menyukai orang-orang yang mirip dengan diri kita sendiri? Jawaban singkat dari riset ini adalah: tergantung.

Data menunjukkan bahwa para sukarelawan memang cenderung mencari pasangan yang masih berada di kelompok usia yang sama.

Dalam urusan karakter, kepribadian memang dianggap kurang begitu penting dibandingkan faktor usia, namun para pengguna tetap menunjukkan preferensi pada profil yang memiliki kesamaan dalam hal keramahan (agreeableness) dan keterbukaan terhadap pengalaman (openness to experience).

Anehnya, tidak ditemukan adanya kecenderungan kesamaan untuk sifat ekstroversi, ketelitian, maupun stabilitas emosional.

Baca Juga: Doa Nabi Daud Meluluhkan Hati Seseorang: Amalan Jodoh dan Keharmonisan

Namun, temuan yang paling mengejutkan justru datang dari sektor visual. Mengingat Tinder adalah platform berbasis foto yang sangat mengagungkan penampilan fisik, riset ini justru mendapati sama sekali tidak ada pengkategorian atau penyetaraan berdasarkan tingkat daya tarik.

Tingkat keindahan fisik seseorang ternyata sama sekali tidak berkorelasi dengan tingkat daya tarik profil orang yang mereka geser ke kanan.

Mengapa Kita Menjadi 'Gak Tahu Malu' di Tinder?

Brecht Neyt dan rekan-rekan penelitinya berpendapat bahwa fenomena "nekat" ini terjadi karena pada dasarnya setiap manusia secara naluriah menginginkan pasangan yang memiliki daya tarik visual setinggi mungkin.

Di dunia nyata, ego kita sering kali menahan diri untuk mendekati orang yang terlalu tampan atau terlalu cantik karena takut menanggung malu secara sosial jika ditolak mentah-mentah.

Kondisi psikologis ini berbalik 180 derajat saat kita masuk ke ekosistem digital. "Menunjukkan ketertarikan pada seseorang di Tinder memiliki biaya psikologis yang rendah jika ditolak," tulis tim peneliti dalam kesimpulannya.

Di balik layar ponsel, jika seseorang yang kita swipe right ternyata menolak kita, tidak akan ada orang lain di dunia nyata yang tahu, sehingga harga diri kita tetap aman dan bebas dari rasa malu.

Catatan Ilmiah yang Perlu Diingat

Meskipun memberikan sudut pandang baru yang menarik, para ilmuwan memberikan catatan bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan karena seluruh metrik penilaian masih bergantung pada penilaian mandiri dari para sukarelawan (self-assessment).

Baca Juga: Rahasia Hitungan Weton Jodoh Menurut Primbon Jawa: Cek Apakah Pasanganmu Membawa Keberuntungan?

Selain itu, studi ini baru mengukur batas preferensi atau apa yang diinginkan oleh seseorang, dan bukan merupakan hasil akhir dari pilihan pasangan yang terjadi di dunia nyata.

Pada kenyataannya, kita tidak akan selalu cukup beruntung untuk bisa menjalin hubungan dengan semua orang yang kita sukai di layar ponsel.

Keberagaman dan penyetaraan mungkin tidak terdeteksi di fase awal swiping, namun akan lebih terlihat ketika sepasang kekasih telah berkomitmen bersama dalam jangka waktu lama, di mana mereka perlahan akan saling memengaruhi dan menjadi semakin mirip satu sama lain. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#tinder #preferensi #jodoh #kepribadian #eksperimen