RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setelah beroperasi kembali sejak insiden kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur pada pekan lalu (27/4), PT Kereta Api Indonesia (KAI) memutuskan mengganti nama salah satu kereta api (KA) yang terlibat dalam kecelakaan hebat tersebut. Mulai akhir pekan ini (9/5), KA Argo Bromo Anggrek bakal cukup disebut sebagai KA Anggrek saja.
Perubahan nama ini dilakukan untuk menyederhanakan nama kereta sambil menjaga identitas yang sudah lama merekat pada KA antar kota tersebut. Dengan ini juga, kereta tersebut tidak lagi menjadi bagian dari kelompok KA Argo yang memiliki nama dasar berbagai gunung di Indonesia, misal KA Argo Wilis, Argo Semeru, dan Argo Anjasmoro.
"Sebuah penyederhanaan dari nama Argo Bromo Anggrek bukan meninggalkan sejarah, tetapi mematangkan warisan yang sudah lama melekat dalam perjalanan masyarakat Indonesia," bunyi rilis resmi KAI pada Selasa (5/5) melalui media sosial mereka.
Meski berubah nama, KA Anggrek tetap masuk ke dalam klasifikasi KA Eksekutif. Sehingga pelayanan penumpang dan rute pelayanan tetap akan sama seperti biasa.
Berkaitan dengan hal tersebut, calon penumpang yang telah membeli tiket untuk keberangkatan 9 Mei ke atas tidak perlu melakukan pemesanan ulang maupun pembatalan tiket. Seluruh tiket KA Argo Bromo Anggrek tetap dapat digunakan untuk perjalanan menggunakan KA Anggrek.
Baca Juga: Evakuasi Kecelakaan KA Stasiun Bekasi Timur Dinyatakan Selesai, 15 Penumpang Meninggal Dunia
“Penyederhanaan nama ini tidak mempengaruhi operasional perjalanan. Jadwal, rute, hingga kelas pelayanan tetap sama. Pelanggan tetap memperoleh layanan dengan standar yang telah ditetapkan,” jelas Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo pada Selasa kepada Antara.
Nantinya, berbagai transisi bakal dilakukan untuk menyesuaikan perubahan tersebut. Sehingga perlahan-lahan, perlengkapan administrasi seperti tiket dan informasi, serta berbagai alat peraga pendukung lain bakal mendaftarkan KA Anggrek sebagaimana mestinya.
“Kami berharap dengan identitas yang lebih sederhana, layanan ini semakin dekat dengan masyarakat dan tetap menjadi pilihan utama transportasi yang aman, nyaman, dan terpercaya,” tambah Franoto.
Sementara itu dari kecelakaan Stasiun Bekasi Timur, Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan 84 korban luka-luka dari insiden tersebut telah pulih dan dipersilakan pulang. Namun masih ada 17 korban yang menjalani perawatan di rumah sakit, dan total korban meninggal sebanyak 16 penumpang.
"Sebanyak 84 pelanggan telah kembali ke rumah, sementara 17 pelanggan masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit," jelas Anne pada Senin (4/5) sebagaimana dikutip dari Jawa Pos.
Di sisi lain, KA Argo Bromo Anggrek sempat terlibat dalam kecelakaan lain pada Jumat (1/5), ketika rangkaian kereta menemper sebuah mobil pengantar rombongan jemaah haji di perlintasan turut Dusun Sugihan, Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon, Grobogan. Akibat kecelakaan tersebut, 5 dari 9 orang penumpang mobil rombongan tersebut meninggal dunia.
"Sesampainya di TKP, mobil berhenti atau mesin mati di jalur rel sebelah selatan. Pada saat bersamaan dari arah barat menuju ke timur di jalur rel sebelah selatan berjalan Kereta Api Argo Bromo Anggrek Karena jarak sudah dekat, kereta menabrak bodi depan kiri mobil hingga terpental sejauh kurang lebih 20 meter dan menabrak tiang jaringan internet. Kemudian mobil terjatuh ke selatan masuk ke sawah,” jelas Kanit Gakkum Satlantas Polres Grobogan, Iptu Eko Ari Kisworo pada Sabtu (2/5) dikutip dari Jawa Pos. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana