Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sering Timbun Barang Bekas dengan Alasan 'Nanti Dipakai'? Awas, Ini Kata Psikolog Soal Kepribadianmu!

Bhagas Dani Purwoko • Senin, 9 Februari 2026 | 17:37 WIB

 

BERANTAKAN: Kamar berantakan banyak timbunan barang bekas.
BERANTAKAN: Kamar berantakan banyak timbunan barang bekas.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda membiarkan kursi kamar berubah fungsi menjadi gantungan baju, atau lemari yang sesak oleh barang-barang lawas yang entah kapan akan dipakai lagi? Bagi sebagian orang, membuang barang terasa seperti "membuang peluang", sehingga menyimpannya terasa jauh lebih aman.

Banyak yang mengira ini hanya soal kemalasan atau sifat berantakan. Namun, kacamata psikologi melihatnya berbeda. Kebiasaan menumpuk barang sebenarnya adalah cerminan dari arsitektur mental seseorang dalam mengelola rasa aman dan menghadapi ketidakpastian masa depan.

Baca Juga: Sering Menumpuk Barang Karena 'Sayang Dibuang'? Ini Penjelasan Psikologi di Baliknya

Berikut adalah 7 bedah psikologis mengenai kebiasaan menumpuk barang:

1. Tipe Pemikir Masa Depan (Future Oriented) yang Waspada

Orang yang menyimpan barang dengan dalih "siapa tahu nanti butuh" sebenarnya memiliki pola pikir antisipatif yang kuat. Dalam psikologi, ini disebut future oriented thinking.

2. "Investor" Kenangan Emosional

Bagi tipe ini, barang bukan sekadar benda mati, melainkan simbol atau aset memori. Psikologi menyebutnya sebagai keterikatan emosional terhadap objek.

Baca Juga: Orang yang Menyukai Barang Antik dan Gaya Vintage Biasanya Memiliki Kepribadian Menarik, Menurut Psikologi

3. Sulit Melakukan "Cut Loss" (Decision Avoidance)

Membuang barang adalah keputusan final yang tidak bisa ditarik kembali. Bagi individu yang perfeksionis atau takut menyesal, ini adalah mimpi buruk. Psikologi menyebut fenomena ini sebagai decision avoidance.

4. Mekanisme Kontrol dan Rasa Aman

Rumah yang penuh barang sering kali memberikan ilusi kontrol. Bagi mereka yang pernah mengalami ketidakstabilan hidup atau tumbuh dalam kondisi serba kekurangan, barang adalah benteng pertahanan.

5. Bertanggung Jawab, Tapi Rentan "Burnout"

Ironisnya, penimbun barang tipe ini sering kali adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Mereka memikirkan segalanya.

Baca Juga: Orang yang Suka Menumpuk Barang “Nanti Dipakai” Biasanya Memiliki Kepribadian Tertentu Menurut Psikologi

6. Bukan Gangguan Mental (Hoarding Disorder)

Perlu digarisbawahi, kebiasaan ini berbeda dengan gangguan menimbun patologis (hoarding disorder).

7. Sinyal untuk Refleksi Diri

Alih-alih memaksa diri membuang barang secara ekstrem (decluttering radikal), psikologi menyarankan untuk jeda sejenak. Kebiasaan ini adalah sinyal bahwa jiwa Anda sedang:

Jika Anda termasuk orang yang sulit membuang barang, jangan buru-buru melabeli diri Anda bermasalah. Anda mungkin hanyalah orang yang sangat berhati-hati, bertanggung jawab, dan menghargai rasa aman.

Namun, ingatlah prinsip ekonomi ruang: Semakin banyak barang yang Anda simpan tanpa alasan jelas, semakin sedikit ruang (space) yang tersisa untuk ketenangan pikiran Anda. Hidup sadar (mindful) bukan berarti hidup kosong, tapi hidup dengan barang-barang yang benar-benar memiliki makna dan fungsi.

Bagaimana kondisi gudang atau lemari Anda hari ini? Sudahkah dicek? (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#gangguan mental #nanti dipakai #psikologi #kepribadian #hoarding disorder #burnout #Barang Bekas #refleksi diri