Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Psikologi Mengungkap Alasan di Balik Kebiasaan Perantau Jarang Menelepon Orang Rumah

Hakam Alghivari • Minggu, 25 Januari 2026 | 15:59 WIB
Ilustrasi foto perempuan.
Ilustrasi foto perempuan.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bayangkan, seseorang yang pergi dari rumah untuk merantau entah kuliah afau bekerja dengan restu penuh. Orang tua mengantar hingga terminal, pesan terakhir diucapkan berulang: jaga diri, jangan lupa kabar.

Minggu pertama di perantauan, telepon masih rutin. Lalu pelan-pelan jaraknya melebar. Sebulan berlalu, panggilan berubah menjadi pesan singkat. Setelah itu, senyap. Bukan karena konflik, bukan pula karena benci, hanya rasa enggan yang sulit dijelaskan, bahkan oleh dirinya sendiri.

Bagi keluarga di rumah, jarangnya telepon kerap dimaknai sebagai tanda menjauh. Ada rasa khawatir, ada pula tuduhan diam-diam: lupa asal-usul, berubah setelah merantau.

Padahal, dalam banyak kasus, keheningan itu tidak lahir dari ketidakpedulian. Ia justru muncul dari pergulatan psikologis yang jarang dibicarakan: kelelahan emosional, rasa bersalah yang tak tuntas, hingga dorongan kuat untuk membuktikan diri sebelum kembali memberi kabar.

Psikologi memandang fenomena ini lebih kompleks daripada sekadar “anak yang lupa rumah”. Individu yang jarang menelepon orang tua setelah meninggalkan rumah sering kali sedang berada pada fase transisi identitas, berusaha mandiri secara emosional, mengatur jarak aman, atau bahkan melindungi orang rumah dari cerita hidup yang belum siap dibagikan.

Baca Juga: Psikologi Mengungkap Empat Sikap yang Diam-Diam Dimiliki Orang Kaya

Berikut adalah beberapa alasan psikologis yang sering muncul di balik sikap ini.

1. Ketidakseimbangan Kebutuhan dan Batasan Emosional

Beberapa orang dewasa merasa bahwa komunikasi langsung seperti telepon bisa memicu kembali dinamika keluarga yang tidak nyaman. Misalnya kritik, tuntutan, atau penghakiman yang pernah terjadi di masa lalu.

Ketika hubungan tidak terasa sepenuhnya aman secara emosional, mereka cenderung mempertahankan jarak sebagai cara mempertahankan kesejahteraan batin.

Dilansir dari Psychology Today, Psikologi relasi mengamati bahwa perasaan tidak aman dalam relasi sering mendorong orang untuk menjaga jarak komunikasi, bukan karena mereka tidak sayang, tetapi karena mereka perlu melindungi dirinya dari stres emosional yang kontraproduktif.

2. Trauma atau Pola Relasi yang Pernah Menyakiti

Tidak jarang, hubungan masa kecil yang tidak sepenuhnya aman seperti pengalaman kritikan terus-menerus atau kurangnya validasi emosional membentuk pola relasi jarak jauh di kemudian hari.

Ketika seseorang tumbuh tanpa mendapatkan pengalaman komunikasi yang penuh dukungan, kontak langsung seperti telepon bisa terasa “berat” secara emosional.

Studi psikologi tentang no or low contact menunjukkan bahwa jarangnya komunikasi sering kali adalah hasil dari hubungan yang sudah lama membawa luka, bukan semata soal keengganan tanpa alasan.

3. Upaya Menjaga Kemandirian Emosional

Saat seseorang memasuki fase dewasa, terutama ketika mereka memiliki kehidupan, tanggung jawab, dan identitas yang lebih kuat di luar keluarga asalnya, prioritas komunikasi bisa berubah.

Dalam psikologi perkembangan, orang dewasa sering membentuk batas emosional yang baru untuk menegaskan kemandirian mereka.

Menjaga jarak pada telepon bukan berarti tidak peduli, melainkan cara mereka menjaga ruang pribadi dan keseimbangan psikologis sambil tetap berada dalam relasi keluarga secara lebih stabil dan tidak tergantung.

4. Ketidaksesuaian Gaya Komunikasi

Setiap individu punya gaya berkomunikasi yang berbeda. Beberapa orang merasa lebih nyaman berinteraksi melalui pesan teks atau tatap muka, sementara telepon bisa terasa terlalu langsung atau intens secara emosional.

Dalam konteks keluarga modern, terutama generasi dewasa yang mengejar banyak peran sekaligus, cara menghubungi bisa berubah, telepon yang jarang terjadi bukan berarti tidak peduli, tetapi lebih mencerminkan preferensi gaya komunikasi pribadi. (implisit berdasarkan dinamika komunikasi interpersonal)

5. Perbedaan Ekspektasi terhadap Peran Keluarga

Kebiasaan menelepon sering dipengaruhi oleh harapan sosial yang tidak selalu dibagikan oleh semua orang.

Ada individu yang tumbuh dengan model relasi keluarga di mana komunikasi verbal spontan bukanlah norma. Bagi mereka, komunikasi bisa lebih berisi saat benar-benar punya sesuatu bermakna untuk dibicarakan, bukan sekadar rutinitas.

Ini mencerminkan perbedaan internalisasi nilai komunikasi keluarga, bukannya tidak peduli, tetapi punya standar relasi yang berbeda yang sering tidak dipahami orang lain. 

Apa yang Harus Dipahami oleh Keluarga?

Fenomena ini tidak berarti orang yang jarang menelepon tidak mencintai keluarganya. Psikologi menunjukkan bahwa:

Kesimpulan yang Lebih Dalam

Psikologi berkata bahwa jarangnya menelepon orang rumah bukan semata masalah waktu atau prioritas, tetapi sering merupakan hasil dari dinamika batin yang kompleks:
cara seseorang menjaga batas emosional, cara mereka membentuk identitas mandiri, dan bagaimana mereka memaknai pengalaman masa lalu dalam relasi keluarga mereka.

Jarang menelepon bukan berarti tidak peduli, melainkan cara seseorang menjaga relasi yang menurut mereka aman dan sehat untuk psikologisnya, walau itu tidak selalu dipahami oleh orang lain. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
#menelpon #psikologi #Relasi #rumah #Perantau Agam Bukittinggi #jarang #orang