Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Meja Kerja dan Arsip Berantakan: Psikologi Kepribadian Menyebut Ini Bukan Sekadar Soal Malas

Hakam Alghivari • Selasa, 30 Desember 2025 | 02:30 WIB

 

Ilustrasi meja berantakan.
Ilustrasi meja berantakan.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tumpukan berkas tanpa label, folder digital tak beraturan, hingga arsip surat yang sulit ditelusuri sering kali dianggap sebagai tanda ketidakdisiplinan.

Dalam budaya kerja modern, kerapihan bahkan diasosiasikan dengan profesionalisme. Namun psikologi kepribadian menawarkan sudut pandang yang lebih bernuansa.

Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kebiasaan menyimpan berkas atau arsip secara berantakan tidak selalu berkaitan dengan sifat malas atau tidak kompeten.

Dalam banyak kasus, pola ini justru berkorelasi dengan karakter kognitif dan kepribadian tertentu.

1. Skor Conscientiousness Cenderung Lebih Rendah, Tapi Tidak Nol

Dalam teori Big Five Personality Traits, kerapihan dan keteraturan berada di bawah dimensi conscientiousness. Penelitian klasik oleh Costa dan McCrae menunjukkan bahwa individu dengan skor conscientiousness rendah memang cenderung kurang terorganisir dalam hal fisik, termasuk arsip dan dokumen.

Namun penting dicatat, rendahnya conscientiousness tidak identik dengan rendahnya kecerdasan atau produktivitas.

Studi lanjutan dalam Journal of Research in Personality menegaskan bahwa individu dengan skor sedang hingga rendah pada dimensi ini tetap mampu bekerja efektif, terutama dalam lingkungan yang menuntut fleksibilitas dan ide-ide baru.

2. Pola Berantakan Berkaitan dengan Gaya Kognitif Non-Linear

Penelitian dari University of Minnesota yang dipublikasikan dalam Psychological Science menemukan bahwa lingkungan kerja berantakan cenderung mendorong pola berpikir divergen.

Individu yang terbiasa bekerja di tengah ketidakteraturan fisik menunjukkan kecenderungan lebih tinggi dalam menghasilkan ide-ide orisinal.

Dalam konteks arsip, orang dengan gaya berpikir non-linear sering kali tidak menyimpan berkas berdasarkan sistem baku, melainkan berdasarkan asosiasi mental pribadi. Bagi mereka, “berantakan” bukan berarti tidak tahu letaknya, melainkan sistem internal yang sulit dipahami orang lain.

Baca Juga: Menunggu Tengah Malam: Tradisi Aneh yang Tetap Kita Pertahankan di Malam Tahun Baru

3. Kreativitas Lebih Dominan Dibanding Orientasi Prosedural

Studi yang sama menunjukkan korelasi antara ruang kerja berantakan dan tingkat kreativitas yang lebih tinggi. Psikologi kepribadian menjelaskan bahwa individu kreatif cenderung memprioritaskan eksplorasi ide ketimbang kepatuhan pada prosedur administratif.

Dalam dunia kerja, tipe ini sering unggul dalam peran strategis, konseptual, atau kreatif, namun kurang tertarik pada pekerjaan yang bersifat repetitif seperti pengarsipan sistematis.

Hal ini konsisten dengan temuan dalam Creativity Research Journal yang mengaitkan kreativitas dengan toleransi terhadap ambiguitas dan ketidakteraturan.

4. Fokus Kognitif Lebih Tertuju pada Makna, Bukan Struktur

Psikolog kognitif menjelaskan bahwa sebagian orang memproses informasi berdasarkan makna dan konteks, bukan struktur formal. Penelitian dalam Cognitive Psychology menyebutkan bahwa individu dengan orientasi makna tinggi sering mengabaikan detail struktural yang dianggap sekunder, termasuk tata letak dokumen.

Akibatnya, arsip bisa tampak kacau secara visual, namun tetap fungsional bagi pemiliknya. Mereka mengingat isi dokumen berdasarkan pengalaman, waktu, atau emosi yang terkait, bukan berdasarkan sistem klasifikasi formal.

5. Risiko: Beban Mental dan Konflik Organisasi

Meski memiliki kelebihan kognitif, pola arsip berantakan bukan tanpa risiko. Studi dari Journal of Environmental Psychology menunjukkan bahwa ketidakteraturan visual yang berlebihan dapat meningkatkan cognitive load dan stres, terutama ketika tuntutan pekerjaan bersifat administratif atau kolaboratif.

Dalam organisasi, individu dengan sistem arsip personal yang tidak terdokumentasi berpotensi menimbulkan friksi, terutama ketika dokumen harus diakses bersama atau diaudit. Di sinilah psikologi organisasi menekankan pentingnya kompromi antara gaya personal dan kebutuhan sistem.

6. Berantakan Bukan Masalah Kepribadian, Tapi Kesesuaian Konteks

Psikologi modern semakin menekankan konsep person–environment fit. Artinya, perilaku dianggap bermasalah bukan karena sifatnya, melainkan karena tidak sesuai dengan konteks tuntutan lingkungan.

Orang dengan arsip berantakan bisa sangat efektif di lingkungan kreatif, riset, atau strategis, namun kurang optimal di bidang yang menuntut presisi administratif tinggi seperti keuangan atau hukum.

Psikologi ilmiah menegaskan bahwa kebiasaan menyimpan berkas atau arsip secara berantakan bukan indikator tunggal kepribadian negatif. Pola ini sering berkaitan dengan gaya berpikir non-linear, kreativitas tinggi, dan orientasi makna yang kuat.

Namun, dalam konteks profesional dan organisasi, kemampuan beradaptasi tetap menjadi kunci. Bukan soal menghilangkan gaya personal, melainkan menyesuaikannya agar tidak menghambat kerja kolektif. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#meja kerja #psikologi #arsip #kepribadian #Berantakan