RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Istilah "Perlakuan Diam" atau Silent Treatment sering dianggap sebagai cara yang "dewasa" untuk menghindari pertengkaran dalam hubungan.
Namun, para ahli psikologi memperingatkan bahwa tindakan sengaja mengabaikan atau menahan komunikasi justru dapat menimbulkan dampak psikologis dan fisik yang sangat merusak.
Perlakuan diam adalah salah satu bentuk stonewalling atau penghindaran, yang menurut psikolog di Cleveland Clinic, Dr. Kia-Rai Prewitt, merupakan tanda buruknya keterampilan resolusi konflik dan regulasi emosi.
Inilah 5 hal yang perlu Anda ketahui mengenai bahaya perlakuan diam dan mengapa ia tidak boleh dianggap remeh dalam hubungan:
1. Memicu Rasa Sakit Fisik di Otak
Ini adalah fakta yang mengejutkan: otak memproses rasa sakit emosional akibat diabaikan hampir sama dengan rasa sakit fisik.
Riset menunjukkan bahwa ketika ikatan sosial terancam, korteks cingulate anterior dorsal, wilayah otak yang bertugas memproses rasa sakit akan aktif.
Artinya, diabaikan atau ditolak memicu sinyal rasa sakit yang nyata di dalam diri. Perasaan "sakit hati" secara harfiah adalah pengalaman fisik.
2. Pintu Gerbang Menuju Pelecehan Emosional
Meskipun perlakuan diam bisa jadi mekanisme koping yang buruk, ia sering digunakan sebagai alat manipulasi dan hukuman.
Jika seseorang secara konsisten mendiamkan Anda dengan tujuan:
• Mengontrol perilaku Anda.
• Membuat Anda merasa bersalah.
• Memaksa Anda untuk meminta maaf dan mengalah.
Baca Juga: Ancaman Korosi dan Boros Bensin: Bahaya Etanol dalam BBM bagi Mesin Kendaraan
Maka, itu sudah termasuk perilaku pelecehan emosional (abuse). Niat di balik keheningan adalah kunci pembeda antara mekanisme koping yang tidak sehat dengan tindakan penyalahgunaan kekuasaan.
3. Mendorong Kebingungan dan Keraguan Diri
Korban perlakuan diam sering kali merasa cemas, bingung, dan mulai bertanya-tanya, "Apa yang salah dengan saya?" atau "Apa yang sudah saya lakukan?"
Menurut Dr. Prewitt, perlakuan diam dapat menggoyahkan kepercayaan diri dan menyebabkan korban menjadi hypervigilant.
Yaitu, selalu waspada berlebihan untuk mencoba menebak apa yang salah atau apa yang harus dilakukan agar orang tersebut kembali berbicara. Dampak jangka panjangnya adalah timbulnya keraguan diri dan penurunan harga diri.
4. Tanda Keterampilan Komunikasi yang Fatal
Bagi pelaku, perlakuan diam bisa jadi adalah perilaku yang dipelajari sejak kecil atau merupakan respons terhadap emotional flooding (kewalahan emosional).
Mereka menutup diri karena tidak memiliki cara lain yang sehat untuk merespons tekanan atau konflik.
Namun, terlepas dari alasannya, perilaku ini secara jelas menunjukkan kegagalan dalam komunikasi yang asertif.
Hubungan yang sehat membutuhkan dialog yang jujur dan kemampuan untuk menetapkan batasan secara verbal, bukan dengan keheningan.
5. Mencegah Resolusi Konflik yang Nyata
Perlakuan diam secara efektif menghalangi resolusi konflik. Konflik tidak terselesaikan, melainkan hanya ditunda.
Pihak yang mendiamkan berharap pihak yang diabaikan akan menyerah atau meminta maaf tanpa masalah inti diselesaikan.
Hal ini menciptakan siklus beracun di mana masalah-masalah kecil menumpuk di bawah permukaan, yang pada akhirnya dapat merusak fondasi hubungan secara permanen.
Cara Merespons Perlakuan Diam dengan Tegas
Jika Anda menjadi korban, penting untuk merespons dengan asertif, bukan dengan memohon:
1. Prioritaskan Keselamatan: Jika Anda khawatir respons Anda dapat memicu eskalasi, utamakan keselamatan diri.
2. Tetapkan Batasan: Gunakan bahasa yang tenang namun tegas. Contoh: "Saya mengerti kamu butuh waktu. Saya menghormati itu, tapi saya tidak akan diabaikan. Saya bersedia bicara dalam 30 menit. Jika kamu belum siap, saya akan menunggu, tapi saya tidak akan memaksamu bicara."
3. Cari Bantuan Profesional: Jika perilaku ini manipulatif dan berulang, pertimbangkan untuk mencari konseling hubungan atau dukungan psikolog untuk membantu Anda keluar dari siklus hubungan yang tidak sehat. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko