RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setelah lama melanglang buana, Microsoft akhirnya resmi menghentikan dukungan untuk Windows 10 per Selasa siang (14/10). Pengembangan sistem operasi (OS) tersebut resmi memasuki status selesai (End of Life, EOL) setelah 10 tahun diperjualbelikan di pasar komputer dan laptop.
Sebagai pengingat kembali, Windows 10 diluncurkan pada 2015 silam, menggantikan Windows 8 dan Windows 8.1 yang menjadi pendahulu dengan banyak kritik. Secara teknis, Windows 10 juga menggantikan Windows 7 secara langsung, karena Windows 7 juga masih menerima dukungan teknis saat Windows 10 dirilis.
Bagi mereka yang masih menggunakan Windows 10 saat ini jangan khawatir, karena sederhananya, Microsoft hanya menghentikan Windows Update atau pembaruan untuk OS tersebut. Sehingga pembaruan bulan September dan Oktober bakal jadi pembaruan terakhir untuk Windows 10 dan komponen-komponen pendukungnya, misal Windows Security, Malicious Software Remover, Microsoft 365 (dulu Microsoft Office) dan lain sebagainya.
Komponen perangkat lunak pihak ketiga dan perangkat keras seperti driver VGA, BIOS, Firmware, aplikasi selain bawaan Windows dan lain sebagainya umumnya tidak terpengaruh oleh berakhirnya dukungan OS. Tentu, masa hidup komponen-komponen tersebut bergantung pada pabrikan atau pengembang masing-masing komponen.
“Setelah hari ini, komputer dan laptop yang memakai sistem Windows 10 tetap bisa digunakan beserta semua programnya, namun Microsoft tidak lagi menyediakan dukungan teknis, update perangkat lunak maupun perbaikan sistem. Tentu Anda tetap dapat menggunakan Windows 10, namun ada resiko terkena virus dan malware tanpa dukungan teknis dan update,” bunyi pernyataan resmi Microsoft.
Karena itu, Microsoft menyediakan dua pilihan bagi para pengguna layanan mereka yang ditawarkan langsung secara gratis agar dapat terlindungi. Yakni antara update ke Windows 11, atau bertahan menggunakan Windows 10 dengan program layanan tambahan (ESU).
Bagi pengguna Windows 10 versi rumah, pribadi atau pendidikan, ESU hanya ditawarkan hingga Oktober tahun depan. Namun layanan ESU dapat dinikmati secara cuma-cuma selama pemilik komputer atau laptop punya akun Microsoft, dan menyalakan fitur Windows Backup untuk sinkronisasi data.
Sementara untuk pengguna Windows 10 versi bisnis, program ESU dapat dinikmati hingga Oktober 2028. Namun perusahaan pengguna Windows 10 versi bisnis perlu membayar biaya sebanyak USD 61 (Rp 1 juta) untuk mengaktifkan fitur tersebut. Pun demikian biaya ini tidak berlaku jika perusahaan memakai Windows 10 versi rumah atau pribadi sebagaimana telajh dijelaskan.
Sementara itu Windows 11 dapat dipasang secara langsung dan gratis, jika notifikasi penawaran upgrade muncul saat membuka Windows Update. Namun sebelum upgrade, jangan lupa simpan data-data penting yang ada di partisi yang sama dengan OS (Biasanya ini di partisi drive C:), karena pada dasarnya proses upgrade sama dengan install ulang Windows.
Lalu bagaimana jika notifikasi penawaran tidak muncul, atau notifikasi menyatakan komputer atau laptop tidak dapat dipasangi Windows 11? Tidak apa-apa, sebagaimana telah dijelaskan Windows 10 tetap dapat digunakan seperti biasa. Bahkan terkadang di Indonesia, masih dapat dijumpai komputer yang msih memakai Windows 7 atau bahkan Windows XP.
Namun jika ingin upgrade ke Windows 11 dengan keadaan tersebut, berarti Anda harus membeli komputer atau laptop baru. Namun jangan khawatir, karena saat ini seluruh komputer dan laptop yang tersedia di Indonesia sudah dipasang Windows 11 dari toko, atau OS alternatif seperti Linux, ChromeOS dan MacOS. Perlu diingat, menggunakan OS yang berbeda juga bakal berarti perlu penyesuaian diri dalam penggunaan peranti juga. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana