RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Fenomena “Stop Tot Tot Wuk Wuk” belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Istilah yang terdengar unik ini sejatinya lahir dari tiruan bunyi sirine dan strobo, dua aksesoris kendaraan yang semakin sering disalahgunakan untuk menembus kemacetan. Dari sekadar guyonan, kini ia menjelma menjadi simbol perlawanan publik terhadap perilaku arogan di jalan raya.
Menurut penelusuran Jawa Pos, pada awalnya, ungkapan “Stop Tot Tot Wuk Wuk” banyak muncul dalam bentuk sindiran digital. Unggahan akun Instagram @progresip_ yang menyerukan larangan penggunaan sirine dan strobo sembarangan bahkan viral dengan ratusan ribu interaksi. Pesannya sederhana: hanya kendaraan darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran yang berhak memakai perlengkapan itu, bukan kendaraan pribadi atau rombongan pejabat yang sekadar ingin cepat sampai.
Tak berhenti di dunia maya, gerakan ini juga merambah ke jalanan. Beberapa pengendara menempelkan stiker bertuliskan “Stop Tot Tot Wuk Wuk” di mobil mereka. Ada pula versi lain dengan kalimat sindiran, “Pajak kami ada di kendaraanmu. Stop berisik di jalan Tot Tot Wuk Wuk!”
Di balik viralnya fenomena ini, ada keresahan nyata yang dirasakan masyarakat. Keluhan banyak diarahkan kepada kendaraan berpelat pejabat maupun sipil yang menggunakan sirine tanpa alasan darurat. Tak jarang pengguna jalan harus menepi demi memberi jalan pada kendaraan yang seharusnya tidak memiliki prioritas hukum.
DIlansir dari Kompas, Rijal (35), sopir angkot JakLingko, mengaku hampir setiap hari menghadapi situasi tersebut. Menurutnya, pengguna jalan seperti dirinya cukup merasa terganggu, alih-alih menggunakan jalan bersama, oknum pejabat yang menggunakan kawalan polisi dengan mudah membelah lautan pengendara di jalan.
"Maksudnya, ya antre aja gitu. Kalau enggak urgent-urgent banget gitu,” ujarnya kepada Kompas.com.
Suara serupa datang dari warganet. Akun @dika_happy** menanggapi sebuah video yang memperlihatkan kawalan polisi, “Mobil presiden ok kasih jalan. Ambulance dan Damkar kasih jalan. Selain ini, jangan kasih jalan/minggir!” Ada pula yang menyoroti pengalaman terjebak hampir 20 menit di lampu merah hanya karena pengawalan pejabat, sebuah potret ketidakadilan di ruang publik.
Fenomena “Stop Tot Tot Wuk Wuk” akhirnya bukan sekadar tren viral. Ia menjadi simbol keresahan masyarakat terhadap arogansi pengguna jalan yang melanggar aturan. Dari stiker di mobil hingga komentar di media sosial, pesan yang ingin ditegaskan sama: hentikan kebiasaan salah kaprah dalam menggunakan sirine dan strobo.
Gerakan ini juga mengingatkan bahwa jalan raya adalah ruang bersama. Tanpa kesadaran dan penegakan aturan tegas, penyalahgunaan sirine hanya akan memperlebar jurang antara mereka yang merasa punya hak istimewa dan masyarakat yang setiap hari harus menghadapi macet tanpa pilihan lain. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari