RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bubur merupakan salah satu bentuk sajian makanan yang sangat mengakar dalam tradisi kuliner Indonesia. Sebagai negara dengan keragaman etnis dan geografis yang luas, Indonesia mengembangkan berbagai jenis bubur yang tidak hanya berfungsi sebagai makanan pokok, tetapi juga memiliki makna kultural dan kesehatan.
Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan terdapat lebih dari 50 varian bubur tradisional yang masih dikonsumsi secara rutin di berbagai daerah. Ragam bubur yang ada mencerminkan perbedaan bahan pokok yang digunakan masyarakat, misal sagu di wilayah timur Indonesia, beras di wilayah barat, serta jagung dan umbi-umbian di kawasan pedalaman.
Bubur Ayam
Bubur ayam adalah salah satu jenis bubur paling populer dan tersebar luas di berbagai kota besar. Disajikan dari beras yang dimasak hingga lunak, bubur ini biasanya dilengkapi suwiran ayam, cakwe, bawang goreng, seledri, dan kerupuk. Versi bubur ayam Jakarta menggunakan kuah kuning gurih dari kaldu ayam dan kunyit, sedangkan versi Cirebon memiliki tambahan kuah kacang dan sambal.
Bubur Sumsum
Tidak seperti bubur ayam yang sesuai dengan namanya, bubur sumsum tidak menggunakan sumsum sebagai bahan utama. Bubur sumsum dinamai demikian karena teksturnya yang lembut, mirip sumsum tulang.
Bubur sumsum berbahan dasar tepung beras yang dimasak hingga kental, lalu disajikan dengan kuah gula merah cair. Bubur sumsum biasanya dikonsumsi sebagai kudapan manis, dan juga sering muncul dalam tradisi selamatan sebagai lambang kelembutan dan harapan baik.
Bubur Manado
Bubur tinutuan alias bubur manado menggabungkan beras dengan aneka sayuran seperti bayam, kangkung, labu kuning, jagung manis, dan singkong, menghasilkan cita rasa asin dan gurih. Bubur ini kerap disajikan tanpa daging, namun bisa ditambah sambal roa, ikan asin, perkedel, atau sayuran ekstra sebagai topping.
Bubur Pedas
Sama seperti bubur sumsum, bubur satu ini tidak mengindikasikan rasanya. Bubur yang berasal dari Kalimantan ini dinamakan pedas, atau lebih tepatnya paddas karena bahan-bahannya yang terdiri dari berbagai rempah-rempah, meskipun bubur pedas juga dapat disajikan dengan cabai.
Bubur pedas dibuat dari beras tumbuk kasar yang dimasak dengan aneka rempah dan sayuran seperti daun kesum, kangkung, dan daun kunyit, plus kaldu tulang atau kaldu ayam. Rasa bubur pedas cenderung gurih pedas rempah, dan biasanya disajikan dalam jumlah besar saat acara adat atau bulan Ramadan.
Papeda
Papeda merupakan bubur berbahan dasar sagu yang dimasak hingga bertekstur lengket dan bening. Ia disajikan sebagai makanan pokok pendamping ikan kuah kuning yang dibumbui kunyit dan jeruk nipis.
Papeda tidak memiliki rasa dominan, namun fungsinya sebagai sumber karbohidrat utama di wilayah timur Indonesia sangat penting secara kultural maupun ekonomis. Penyajiannya yang unik dalam tempurung kelapa menambah kekhasan kuliner ini.
Bubur Merah Putih
Perpaduan warna kemerahan dan putih di lautan santan pada bubur ini membuatnya terkenal sebagai sebutan bubur merah putih. Bubur warna putih terbuat dari ketan polos tanpa pewarna alami, sementara bubur merah terbuat dari ketan putih yang diberi campuran gula aren.
Bubur merah putih tersaji ketika ada acara selamatan Jawa, seperti suroan, perayaan ulang tahun, musim panen, atau kelahiran bayi. Sesuai warnanya yang mirip bendera Indonesia, bubur merah putih menyimpan doa akan keberanian dan kesucian.
Bubur Indonesia tidak hanya sekadar hidangan, melainkan warisan budaya yang terus hidup. Sebagai bagian dari identitas bangsa, bubur Nusantara terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana