Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Budaya Literasi Tersentral di Perkotaan, Pegiat Literasi Bojonegoro Dorong Pemerataan hingga Pedesaan

Yana Dwi Kurniya Wati • Minggu, 3 Agustus 2025 | 19:39 WIB
DISKUSI BUKU: Pegiat literasi di Desa Wedi, Kecamatan Kapas sedang diskusi buku untuk meningkatkan budaya literasi di pedesaan. (YANA DWI KURNIYA/RADAR BOJONEGORO)
DISKUSI BUKU: Pegiat literasi di Desa Wedi, Kecamatan Kapas sedang diskusi buku untuk meningkatkan budaya literasi di pedesaan. (YANA DWI KURNIYA/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Budaya literasi dinilai belum menyebar di seluruh wilayah di Bojonegoro. Sarana dan prasarana disebut masih tersentral di tengah kota. Perlu didorong pemerataan hingga pedesaan.

Menurut Pegiat Literasi asal Kecamatan Kapas Rudi, data yang selama ini digunakan kerap kali hanya berangkat dari lembaga-lembaga resmi atau lembaga pendidikan di wilayah kota.

Padahal, data tersebut harus dibarengi temuan di lapangan. Misal pemetaan literasi berbasis komunitas seperti dilakukan komunitas Taman Baca Masyarakat (TBM) atau berjejaring dengan komunitas literasi di kecamatan dan desa-desa.

“Pembacaan terhadap budaya literasi di Bojonegoro selama ini masih sangat tersentral di kawasan kota. Padahal, ada banyak komunitas wilayah pinggiran, desa-desa, bahkan komunitas kecil yang justru punya potensi akar rumput yang belum banyak dijangkau oleh data formal,” ujarnya sambil membahas data dalam Satu Data Bojonegoro.

Rudi mengatakan, penting adanya penyebaran budaya literasi di seluruh wilayah. Bukan hanya sebatas administrasi. Agar literasi tidak hanya dinilai dari angka tapi juga praktik keseharian yang berlangsung di ruang-ruang nonformal.

Infografis kunjungan Perpustakaan Bojonegoro. (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Infografis kunjungan Perpustakaan Bojonegoro. (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Baca Juga: Manfaat Membaca Koran di Era Digital: Relevansi yang Tak Pudar

Literasi tidak hanya dimaknai membaca buku atau kemampuan orang membaca. Tapi, juga kemampuan berpikir kritis, memahami konteks, dan memilih informasi yang relevan dengan kebutuhan.

“Maka dari itu, riset tentang budaya literasi di Bojonegoro perlu menggali lebih dalam tentang bagaimana anak muda membaca tanpa paksaan, lansia menikmati bacaan di posyandu, serta buruh, petani, atau ibu rumah tangga memanfaatkan bacaan sebagai bentuk perlawanan terhadap ketimpangan informasi. Literasi seharusnya dilihat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar formalitas program,” tandas pemilik Perpustakaan Jenggala itu.

Berdasar Satu Data, kunjungan perpustakaan di bawah dinas perpustakaan dan kearsipan (dispusip) mengalami kenaikan sejak 2021. Yakni pada 2021 sejumlah 5.028 pengunjung; 2022 menjadi 7.810 pengunjung; 2023 sebanyak 9.324 pengunjung, dan di 2024 meningkat menjadi 19.465 pengunjung. (yna/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#komunitas literasi #Taman Baca #kapas #komunitas #pedesaan #membaca #Pendidikan #Lapangan #budaya literasi #bojonegoro #berpikir kritis #literasi #kawasan kota